Teks Doa Kumail
«وَكَمْ مِنْ مَكْرُوهٍ دَفَعْتَهُ
Wa kam min makrūhin dafa‘tahu.
“Dan betapa banyak hal yang tidak menyenangkan telah Engkau jauhkan.”»
Penggalan ini mengikuti permohonan tentang berbagai ketergelinciran yang Allah cegah pada Bagian 46. Redaksinya terdapat dalam teks Doa Kumail yang dimuat Syekh ath-Thusi dalam Mishbāḥ al-Mutahajjid.
Tema utama
Sebagian karunia Allah hadir dalam bentuk sesuatu yang diberikan; sebagian lainnya tersembunyi dalam keburukan yang tidak pernah jadi menimpa kita.
Kata makrūh dalam penggalan ini bukan istilah fikih yang berarti perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan. Ia menunjuk kepada sesuatu yang tidak disukai: bahaya, kesulitan, kesedihan, kerugian, atau keburukan yang dikhawatirkan.
Sementara kata dafa‘ta mengandung makna menolak dan menjauhkan. Ada keburukan yang telah menyentuh kehidupan lalu Allah meringankannya. Namun ada pula keburukan yang ditolak sebelum sampai, sehingga kita bahkan tidak pernah mengetahui bahwa kita baru saja diselamatkan.
Karena tidak terjadi, keselamatan itu sering tidak tercatat dalam ingatan.
Ayat Al-Qur’an
- QS Yusuf 12:34
«فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan menghindarkannya dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”»
Allah tidak langsung membebaskan Nabi Yusuf as dari seluruh kesulitan dunia. Beliau tetap mengalami penjara.
Namun Allah menjaganya dari keburukan yang lebih dalam: menyerah kepada rayuan, mengkhianati kesucian, dan kehilangan kehormatan di hadapan-Nya.
Ayat ini mengajarkan bahwa perlindungan tidak selalu berarti hidup tanpa kesulitan. Terkadang Allah membiarkan seseorang melewati jalan yang berat untuk menyelamatkan iman dan jiwanya dari jalan yang lebih buruk.
- QS Ghafir 40:45
«فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk.”»
Ayat ini berbicara tentang seorang mukmin dari keluarga Fir‘aun yang membela kebenaran, kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah. Ia tidak mengetahui seluruh rencana yang sedang disusun terhadapnya, tetapi Allah mengetahui dan menggagalkannya.
Pengetahuan kita terhadap ancaman selalu terbatas. Perlindungan Allah tidak dibatasi oleh apa yang berhasil kita lihat.
- QS Al-Kahf 18:79
«أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud membuatnya cacat karena di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas setiap perahu.”»
Kisah Nabi Khidir as memperlihatkan bentuk perlindungan yang sulit dikenali. Para pemilik perahu melihat kerusakan. Mereka belum melihat raja zalim yang akan merampas setiap perahu yang masih sempurna.
Sebuah cacat kecil menyelamatkan seluruh perahu.
Yang mereka anggap kerugian ternyata menjadi penghalang bagi kerugian yang jauh lebih besar. Namun kita tidak boleh menggunakan kisah ini untuk memastikan bahwa setiap kesulitan tertentu pasti mempunyai alasan yang kita ketahui.
Kisah Khidir justru mengajarkan kerendahan hati: pandangan manusia tidak pernah mencakup seluruh kenyataan.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-23 Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, terdapat permohonan:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَمَنْ أَرَادَنِي بِسُوءٍ فَاصْرِفْهُ عَنِّي، وَادْحَرْ عَنِّي مَكْرَهُ، وَادْرَأْ عَنِّي شَرَّهُ، وَرُدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Barang siapa menghendaki keburukan terhadapku, palingkanlah ia dariku; jauhkanlah tipu dayanya, tolaklah kejahatannya dariku, dan kembalikanlah rencananya kepada dirinya sendiri.”»
Doa ini memperlihatkan bahwa seorang mukmin boleh memohon agar keburukan dijauhkan sebelum sempat menyentuh kehidupannya. Keselamatan bukan hanya kesembuhan setelah terluka, tetapi juga luka yang tidak pernah jadi ditimpakan.
Kerangka pembahasan
- Makna makrūh sebagai sesuatu yang tidak disukai, bukan istilah hukum fikih dalam konteks ini.
- Daf‘ sebagai tindakan menolak keburukan sebelum atau ketika ia mendekat.
- Perbedaan antara bala yang diringankan dan bahaya yang tidak pernah jadi menimpa.
- Perlindungan Allah dapat menyentuh tubuh, harta, kehormatan, iman, dan masa depan.
- Kisah Nabi Khidir as: kerugian kecil dapat menjadi perlindungan dari kerugian yang lebih besar.
- Tidak setiap kegagalan boleh dipastikan sebagai perlindungan khusus tanpa dalil.
- Syukur mencakup nikmat yang terlihat dan keburukan yang diam-diam dijauhkan.
Pembuka syarah
Manusia pandai menghitung apa yang datang kepadanya, tetapi tidak mungkin menghitung segala sesuatu yang tidak pernah jadi menimpanya.
Kita mengingat penyakit yang berhasil disembuhkan, tetapi tidak mengetahui berapa banyak penyakit yang dijauhkan sebelum tubuh merasakannya.
Kita mengingat pertolongan yang datang setelah kesulitan, tetapi tidak mengetahui berapa banyak kesulitan yang dihentikan sebelum sampai ke pintu kehidupan kita.
Kita dapat mensyukuri keselamatan setelah melihat bahaya.
Namun bagaimana mensyukuri bahaya yang tidak pernah terlihat?
Doa Kumail membuka kesadaran kita terhadap wilayah rahmat yang hampir tidak pernah dibicarakan:
«“Dan betapa banyak hal yang tidak menyenangkan telah Engkau jauhkan.”»
Kalimat ini tidak menyebut satu peristiwa tertentu. Tidak ada daftar tentang kecelakaan, penyakit, pengkhianatan, fitnah, atau tipu daya yang digagalkan.
Hamba hanya mengakui bahwa pengetahuannya terlalu sempit untuk menghitung seluruh penjagaan Allah.
Mungkin pernah ada langkah yang tertunda sehingga kita tidak berada di suatu tempat ketika keburukan terjadi. Mungkin sebuah hubungan tidak berlanjut karena di balik keramahan yang tampak terdapat luka yang belum terlihat.
Mungkin sebuah keinginan tidak terkabul karena sesuatu yang kita anggap keberuntungan justru akan menyeret jiwa menjauh dari Allah.
Kita tidak dapat memastikan setiap kemungkinan itu.
Namun kita juga tidak boleh mengira bahwa rahmat Allah hanya bekerja pada peristiwa yang berhasil kita saksikan.
Ada rahmat yang hadir sebagai pemberian. Ada pula rahmat yang bekerja sebagai penolakan. Yang pertama memenuhi tangan kita; yang kedua menjaga kehidupan kita tetap utuh tanpa kita sadari.
Nabi Yusuf as memohon agar diselamatkan dari tipu daya yang mengancam kesuciannya. Allah mengabulkan doanya, tetapi jalan keselamatan itu tidak langsung berbentuk kebebasan. Yusuf tetap memasuki penjara.
Di mata manusia, penjara adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun dibandingkan dengan kehilangan kesucian dan kedekatan kepada Allah, penjara menjadi benteng perlindungan.
Inilah pelajaran yang sangat halus: tidak semua hal yang menyakitkan merupakan keburukan terbesar, dan tidak semua hal yang menyenangkan merupakan keselamatan.
Kadang-kadang yang harus dijauhkan dari manusia bukan kesulitan, melainkan dosa yang dapat lahir ketika ia diberi kemudahan.
Kisah Nabi Khidir as membawa kita lebih jauh. Sebuah perahu dilubangi. Bagi pemiliknya, kerusakan itu tentu menyusahkan. Mereka adalah orang-orang miskin yang menggantungkan kehidupan pada perahu tersebut.
Namun di depan mereka berdiri seorang raja zalim yang merampas setiap perahu yang masih sempurna.
Perahu itu terluka agar tidak dirampas.
Sebuah bagian dikorbankan agar keseluruhannya tetap selamat.
Karena doa ini dalam tradisi Ahlul Bait dikenal sebagai Doa Khidir as, penggalan tentang keburukan yang dijauhkan seolah menggemakan pelajaran dari perjalanan beliau bersama Nabi Musa as: manusia melihat satu titik yang mengecewakan, sedangkan Allah mengetahui seluruh garis perjalanan.
Akan tetapi, kisah ini tidak boleh membuat kita mudah berkata kepada setiap orang yang sedang menderita, “Pasti ada hikmahnya,” lalu meninggalkannya sendirian menanggung kesakitan.
Mengimani hikmah Allah bukan alasan untuk kehilangan empati.
Orang sakit tetap harus diobati. Orang tertindas tetap harus dibela. Kerugian tetap harus diperbaiki. Air mata tetap harus dihormati.
Kita juga tidak mempunyai pengetahuan untuk memastikan bahwa setiap kegagalan merupakan perlindungan khusus dari Allah. Bisa jadi sebagian kegagalan lahir dari kelalaian yang harus diperbaiki. Bisa jadi sebagian kerusakan adalah akibat kezaliman yang wajib dihentikan.
Iman tidak mengubah dugaan menjadi kepastian.
Iman mengajarkan kerendahan hati di hadapan kenyataan yang belum kita pahami.
Penggalan Doa Kumail ini akhirnya melahirkan bentuk syukur yang lebih dalam. Kita tidak hanya berkata, “Terima kasih, ya Allah, atas apa yang Engkau berikan.”
Kita juga berkata, “Terima kasih atas segala sesuatu yang Engkau jauhkan—termasuk yang tidak pernah kuketahui.”
Barangkali hidup kita hari ini tidak hanya berdiri di atas nikmat yang terlihat.
Ia juga berdiri di atas fitnah yang dipadamkan, tipu daya yang digagalkan, jalan buruk yang ditutup, godaan yang dilemahkan, serta bahaya yang dialihkan sebelum mempunyai kesempatan menyentuh kita.
Kita tidak mengetahui namanya.
Kita tidak melihat saat ia dijauhkan.
Kita bahkan tidak pernah merasa telah diselamatkan.
Namun Allah mengetahui semuanya.
Maka seorang hamba bersyukur bukan hanya atas halaman-halaman kehidupannya yang dipenuhi pemberian. Ia juga bersyukur atas halaman-halaman yang tetap kosong—karena Allah tidak mengizinkan suatu keburukan menuliskan dirinya di sana.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19UqQVywum/

