18 October 2026

Teks Doa Kumail

> وَسَكَنْتُ إِلَىٰ قَدِيمِ ذِكْرِكَ لِي

Wa sakantu ilā qadīmi dzikrika lī.

“Dan aku menenteramkan diri pada ingatan-Mu kepadaku sejak dahulu.”

Redaksi ini mengikuti pengakuan “aku telah berlaku lancang karena kebodohanku”. Setelah mengakui dosanya, seorang hamba tidak jatuh ke dalam keputusasaan; ia menenteramkan hati pada pemeliharaan Allah yang telah mendahului kesadarannya sendiri.

Tema utama

Harapan seorang hamba tidak hanya didasarkan pada ibadah yang baru dilakukannya, tetapi pada kenyataan bahwa Allah telah mengetahui, menciptakan, memelihara, dan membimbingnya jauh sebelum ia mampu mengenal dirinya sendiri.

“Ingatan Allah” tidak boleh dibayangkan seperti ingatan manusia yang didahului oleh lupa. Allah tidak pernah kehilangan pengetahuan tentang hamba-Nya.
Ungkapan ini berbicara dari sisi pengalaman manusia: sebelum kita mampu mengingat Allah, kita telah berada dalam ilmu, kehendak, dan pemeliharaan-Nya.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Maryam 19:9

> وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Sungguh, Aku telah menciptakanmu sebelumnya, ketika engkau belum merupakan sesuatu.”

Sebelum seorang manusia memiliki nama, ingatan, ataupun amal, Allah telah memberinya keberadaan. Penciptaan adalah tanda pertama bahwa perhatian Ilahi mendahului seluruh kemampuan manusia untuk meminta.

  1. QS Thaha 20:52

> عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

“Pengetahuan tentang itu berada di sisi Tuhanku dalam sebuah kitab. Tuhanku tidak keliru dan tidak pula lupa.”

Allah tidak “mengingat kembali” setelah sebelumnya melupakan. Pengetahuan-Nya sempurna. Karena itu, dzikrika lī dapat dipahami sebagai perhatian, pengetahuan, penyebutan, dan pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya.

Doa Ahlul Bait

Dalam penggalan yang masyhur sebagai bagian dari Doa Arafah, dinisbatkan kepada Imam Husain as:

> بِكَ عَرَفْتُكَ، وَأَنْتَ دَلَلْتَنِي عَلَيْكَ، وَدَعَوْتَنِي إِلَيْكَ، وَلَوْلَا أَنْتَ لَمْ أَدْرِ مَا أَنْتَ

“Dengan-Mu aku mengenal-Mu. Engkaulah yang menunjukkan aku kepada-Mu dan memanggilku menuju-Mu. Sekiranya bukan karena-Mu, aku tidak akan mengenal-Mu.”

Ungkapan ini menempatkan hidayah sebelum pengenalan manusia: bahkan kemampuan mengenal Allah merupakan pemberian dari-Nya.

Kerangka pembahasan

  1. Peralihan dari pengakuan dosa menuju ketenteraman dan harapan.
  2. Allah mengetahui manusia sebelum manusia mengenal dirinya.
  3. “Ingatan Allah” tidak mengandung kelupaan atau perubahan pengetahuan.
  4. Penciptaan, pemeliharaan, dan hidayah merupakan bentuk perhatian Ilahi.
  5. Masa lalu yang dipenuhi pertolongan Allah menjadi alasan untuk tidak berputus asa.
  6. Mengingat perhatian Allah harus melahirkan kesetiaan, bukan kelalaian.

Pembuka syarah

Sebelum kita mempunyai nama, Allah telah mengetahui kita.

Sebelum lidah mampu meminta, Dia telah menyediakan udara. Sebelum mata mampu mengenali cahaya, Dia telah membentuk kemampuan untuk melihat. Sebelum kita memahami makna kasih sayang,
Dia telah menitipkan kehidupan melalui tangan-tangan yang merawat.

Kemudian bertahun-tahun berlalu, dan manusia mulai mengira bahwa dirinya tumbuh dengan kekuatannya sendiri.

Sampai suatu hari ia jatuh. Amal yang dibanggakan tidak cukup untuk menegakkan hati. Kesalahan yang dilakukan tampak terlalu besar. Pada saat itulah Doa Kumail mengajarkan tempat bersandar:

> “Aku menenteramkan diri pada ingatan-Mu kepadaku sejak dahulu.”

Seorang hamba tidak berkata, “Aku tenang karena ibadahku banyak.” Ia tidak berkata, “Aku yakin diterima karena telah menjadi orang baik.”
Ia mengingat bahwa jauh sebelum mampu berbuat baik, Allah telah memberinya kehidupan, perlindungan, kesempatan, dan jalan menuju-Nya.

Berapa banyak bahaya yang berlalu tanpa pernah kita ketahui? Berapa banyak pintu dosa yang tertutup sebelum sempat kita masuki? Berapa banyak nasihat yang datang tepat ketika hati hampir kehilangan arah? Berapa kali Allah mengembalikan kita melalui peristiwa yang dahulu dianggap menyakitkan?

Kita mungkin baru mengingat Allah hari ini, tetapi perhatian-Nya tidak baru dimulai hari ini.

Kalimat ini tidak berarti Allah mengingat seperti manusia. Ingatan manusia dapat lemah, berubah, dan hilang. Allah tidak lupa.
Hamba sedang memandang perjalanan hidupnya sendiri, lalu menemukan bahwa kasih dan pemeliharaan Ilahi telah hadir jauh sebelum ia menyadarinya.

Kesadaran itu melahirkan ketenteraman—sukūn.

Bukan ketenteraman orang yang merasa aman untuk terus berdosa, melainkan ketenteraman orang yang mengetahui bahwa kesalahannya tidak membuat Allah kehilangan pengetahuan tentang dirinya.
Jalan pulang masih dikenali. Namanya tidak hilang dari ilmu Allah. Tangannya masih dapat diangkat untuk memohon.

Kita tidak berharap karena masa lalu kita bersih.

Kita berharap karena sepanjang masa lalu itu, Allah tidak pernah berhenti mengetahui jalan yang dapat membawa kita kembali.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BkkoqB5JJ/

—

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us