Teks Doa Kumail
> اَللّٰهُمَّ عَظُمَ سُلْطَانُكَ
Allāhumma ‘aẓuma sulṭānuka.
“Ya Allah, sungguh agung kekuasaan-Mu.”
Penggalan ini berada setelah permohonan seorang hamba yang kebutuhannya mendesak dan harapannya kepada Allah semakin besar.
Kini ia menjelaskan mengapa Allah menjadi tujuan seluruh harapan: kekuasaan-Nya tidak terbatas dan tidak bergantung kepada siapa pun. Teks Doa Kumail
Tema utama
Kekuasaan Allah bersifat asli, mutlak, dan tidak dipinjam dari siapa pun. Adapun kekuasaan manusia hanyalah amanah yang terbatas, sementara, dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Kata sulṭān mengandung makna kekuasaan, kedaulatan, otoritas, dan hujah yang tidak dapat dikalahkan. Namun kekuasaan Allah tidak sama dengan kekuasaan manusia.
Penguasa manusia membutuhkan pengakuan, pasukan, hukum, kekayaan, pegawai, dan dukungan. Ketika semua itu meninggalkannya, kekuasaannya pun lenyap.
Allah tidak memperoleh kekuasaan dari sesuatu di luar diri-Nya. Dia telah Mahakuasa sebelum ada makhluk yang menyembah-Nya dan tetap Mahakuasa setelah seluruh kerajaan dunia berakhir.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ali ‘Imran 3:26
> قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
“Katakanlah: Ya Allah, Pemilik segala kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
Kekuasaan manusia bukan kepemilikan mutlak. Ia dapat diberikan, dibatasi, dan dicabut. Karena itu, jabatan seharusnya membuat seseorang semakin sadar sebagai pemegang amanah, bukan merasa menjadi pemilik manusia. QS Ali ‘Imran 3:26
- QS Ghafir 40:16
> لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”
Pada hari ketika seluruh gelar terlepas dan semua pusat kekuasaan runtuh, tersingkaplah kenyataan yang sejak dahulu tidak pernah berubah: hanya Allah Pemilik kedaulatan yang sebenarnya. QS Ghafir 40:16
Doa Ahlul Bait
Dalam doa malam yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as disebutkan:
> وَالسُّلْطَانِ الْمُمْتَنِعِ بِغَيْرِ جُنُودٍ وَلَا أَعْوَانٍ
“Dan kekuasaan yang tidak terkalahkan tanpa pasukan dan tanpa para penolong.”
Doa tersebut kemudian menyatakan bahwa kekuasaan Allah tidak mempunyai batas awal maupun ujung akhir. Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, Doa 32
Catatan: Ini merupakan teks doa dalam Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah.
Kerangka pembahasan
- Sulṭān Allah adalah kedaulatan asli, bukan kekuasaan yang diberikan.
- Allah tidak membutuhkan pasukan, pendukung, atau pengakuan makhluk.
- Kekuasaan manusia hanya amanah yang mempunyai batas waktu.
- Jabatan tidak meninggikan hakikat manusia; tanggung jawablah yang bertambah.
- Kesadaran terhadap kekuasaan Allah membebaskan manusia dari penghambaan kepada penguasa zalim.
- Hamba yang memiliki kewenangan harus memperlakukannya sebagai kesempatan melayani.
Pembuka syarah
Kekuasaan manusia selalu membutuhkan penopang.
Seorang penguasa membutuhkan pasukan. Seorang pejabat membutuhkan lembaga. Seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang memercayainya.
Bahkan seseorang yang dianggap paling kuat pun bergantung kepada kesehatan tubuh, kestabilan pikiran, dan detak jantung yang tidak dapat dikendalikannya sendiri.
Kekuasaan manusia tampak besar karena banyak hal kecil sedang menopangnya.
Doa Kumail mengangkat pandangan kita menuju kekuasaan yang sama sekali berbeda:
> “Ya Allah, sungguh agung kekuasaan-Mu.”
Allah tidak menjadi Mahakuasa karena makhluk menaati-Nya. Kemaksiatan manusia tidak mengurangi kerajaan-Nya dan ibadah para malaikat tidak menambah kebesaran-Nya. Dia tidak membutuhkan singgasana untuk menjadi Raja, pasukan untuk memenangkan kehendak-Nya, atau pujian untuk mengukuhkan kemuliaan-Nya.
Kekuasaan-Nya tidak diberikan sehingga tidak dapat dicabut.
Kekuasaan-Nya tidak dimulai sehingga tidak akan berakhir.
Di hadapan kenyataan ini, seluruh kekuasaan dunia kembali kepada ukurannya yang sebenarnya. Mahkota hanyalah benda. Jabatan hanyalah masa tugas. Istana hanyalah bangunan. Nama besar yang hari ini diteriakkan dapat esok hari dilupakan.
Namun kesadaran terhadap kekuasaan Allah bukan alasan untuk bersikap pasif di hadapan kezaliman.
Justru karena manusia bukan pemilik kekuasaan mutlak, tidak seorang pun berhak memperlakukan sesamanya seolah-olah hidup, kehormatan, dan masa depan mereka berada di tangannya.
Orang yang mengetahui keagungan sulṭān Allah tidak akan mudah tunduk kepada penguasa zalim. Pada saat yang sama, apabila ia sendiri diberi kewenangan, ia tidak akan menggunakannya dengan sewenang-wenang.
Ia mengetahui bahwa kursi yang didudukinya hanyalah titipan.
Suatu hari ia akan berdiri—tanpa gelar, tanpa pengawal, dan tanpa pembela—di hadapan Pemilik seluruh kerajaan.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DeD7GrADQ/

