Selama Kita Hidup, Harapan itu Masih Ada | Ngaji Filsafat | Dr. Fahrudin Faiz
- Hakikat dan Definisi Harapan dalam Kehidupan
Pembahasan mengenai harapan merupakan tema universal yang dikaji oleh banyak filsuf.
Selama seseorang masih memiliki keinginan untuk hidup dan akalnya berfungsi dengan baik, pada hakikatnya ia masih memiliki harapan.
Bahkan, keinginan seseorang yang ingin mati pun sebenarnya masih merupakan suatu bentuk harapan.
Harapan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan (part of life) serta bagian dari pengalaman manusia (part of human experience).
Dari detik ke detik, perjalanan hidup manusia pada dasarnya adalah rangkaian kisah tentang harapan yang terwujud maupun yang tidak terwujud.
Karena itu, narasi biografi atau perjalanan hidup seseorang selalu diawali dan digerakkan oleh harapan-harapan hidupnya.
- Hubungan Harapan dengan Penderitaan dan Ketidakpastian
Harapan sering kali memiliki keterkaitan erat dengan rasa sakit atau penderitaan (connected to suffering), baik secara jasmani maupun rohani.
Seseorang biasanya baru menyadari keberadaan harapannya ketika ia menghadapi kondisi penderitaan atau keterbatasan.
Sebagai contoh, kesadaran akan kondisi sakit melahirkan harapan untuk sembuh, dan rasa kesepian memunculkan harapan untuk mendapatkan pasangan.
Selain itu, harapan juga terhubung dengan keberanian dalam menghadapi ketidakpastian masa depan (facing not knowing).
Kita berharap karena kita tidak mengetahui secara pasti apakah keinginan tersebut dapat terwujud di masa depan atau tidak.
Beberapa filsuf, seperti Nietzsche, cenderung kurang menyukai keberadaan harapan karena menginginkan manusia mengendalikan hidupnya secara penuh tanpa kalkulasi spekulatif.
Meski demikian, gagasan Nietzsche agar manusia tidak terlalu banyak berharap itu sendiri pada dasarnya tetap merupakan sebuah harapan.
- Sifat Eksistensial dan Mental Optimistis
Harapan selalu terikat dengan dimensi waktu masa depan (time-related) dan bersifat eksistensial. Keberadaan eksistensi manusia ditunjukkan melalui upayanya dalam menghidupkan serta memperjuangkan harapan-harapannya.
Di dalam harapan terkandung suatu kepercayaan (believing) bahwa kondisi atau hasil akhir di masa depan akan jauh lebih baik daripada kondisi saat ini. Prinsip ini sejalan dengan ungkapan dalam Al-Qur’an: wa lal-akhiratu khairul laka minal-ula.
Adanya harapan menunjukkan bahwa dalam hidup ini ada sesuatu yang dicari dan layak untuk diperjuangkan. Seseorang yang kehilangan atau tidak memiliki harapan akan kehilangan dorongan serta tujuan hidup.
Sebaliknya, merancang harapan akan melahirkan orientasi jalan hidup yang disertai mentalitas yang optimistis. Harapan juga mencakup keyakinan bahwa apa pun yang terjadi kelak akan berbuah pada kebaikan.
- Dinamika Harapan dan Harapan sebagai Anugerah Agama
Harapan bersifat dinamis dan terus berevolusi sepanjang perjalanan hidup manusia. Keinginan manusia tidak pernah berhenti pada satu titik, melainkan terus berkembang seiring tahapan hidup yang dilaluinya.
Sebagai contoh, setelah menyelesaikan pendidikan seseorang berharap mendapatkan pekerjaan, kemudian berharap membina rumah tangga, memiliki keturunan, dan target harapan tersebut akan terus berlanjut.
Dari kacamata religius, kemampuan untuk berharap merupakan sebuah anugerah besar (gift) dari Allah yang patut disyukuri. Dalam ajaran agama, sikap putus asa atau kehilangan harapan sangat dibenci.
Surat Yusuf menegaskan bahwa orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah tergolong sebagai orang-orang yang kafir. Kafir dalam konteks ini bermakna ingkar atau menutupi kebenaran (cover).
Berputus asa dianggap meremehkan kekuasaan Allah, padahal tidak ada masalah yang terlalu rumit atau mustahil bagi-Nya untuk diselesaikan.
Oleh karena itu, selama seseorang masih mampu berharap, pada hakikatnya ia sedang menikmati anugerah yang sangat indah dari Allah.

Bersama Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag M.Ag
Channel Ngaji Filsafat
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







