Mengertilah Batas, Maka Dirimu Akan Mencapai Kebebasan Sejati | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Hakikat Kebebasan dan Pemahaman tentang Batas
Kebebasan sejati sebenarnya terletak pada pemahaman kita terhadap batas-batas.
Sering kali terjadi pertentangan antara konsep kebebasan dan batasan; orang yang ingin bebas biasanya tidak mau diberi batas.
Namun, secara filosofis, seseorang baru bisa disebut bebas jika ia memahami batasnya.
Pertama, kita harus mengerti: bebas dari apa, bebas melawan apa, dan bebas dalam hal apa.
Tanpa mengetahui batas-batas ini, kita tidak akan tahu apakah kita sudah benar-benar bebas atau belum.
Sebagai contoh, kemerdekaan Indonesia memiliki garis batas yang jelas, yaitu ketika penjajah berhasil terusir; itulah titik di mana kita bisa menyatakan diri telah bebas.
2. Mengetahui Kapasitas Diri agar Tidak Terbelenggu
Hidup ini memiliki batas, yaitu titik-titik di mana kemampuan kita tidak bisa menjangkau lagi.
Seseorang silakan saja mematok kebebasan atau cita-cita setinggi mungkin, namun ia harus sadar akan kekuatan, kemampuan, dan kebiasaan dirinya.
Jika tidak tahu batas, kebebasan tersebut justru akan menjadi belenggu.
Misalnya, seseorang sangat berambisi memiliki hotel 100 lantai, namun ia tidak mengukur kapasitasnya.
Ambisi yang tidak realistis itu akhirnya bukan lagi manifestasi kebebasan, melainkan bentuk keterbelengguan oleh keinginan dan mimpi sendiri.
Kebebasan sejati membutuhkan kecerdasan untuk memilih batas: tahu di mana titik kuat dan di mana titik lemah diri kita.
Jika seorang mahasiswa semester 2 memaksakan diri harus lulus tahun depan, ia hanya akan mengalami stres karena tidak memahami situasi dan batas waktu yang wajar.
Pengetahuan tentang batas inilah yang menghindarkan kita dari obsesi dan ambisi yang justru melahirkan belenggu.
3. Hukum Keseimbangan: Dominasi dan Kebalikannya
Dalam prinsip hidup, terdapat hukum bahwa ketika sesuatu terlalu dominan, maka kebalikannya juga akan tumbuh.
Jika kita terlalu menekan atau menyembunyikan sesuatu secara ekstrem, suatu saat hal itu akan meledak. Hal ini sejalan dengan prinsip Yin dan Yang.
Sebagai contoh:
- Kebebasan vs Aturan:
Saat ada titik di mana orang merasa bebas sebebas-bebasnya, biasanya akan muncul reaksi sebaliknya, yaitu keinginan untuk mengatur atau diatur secara sangat ketat (ekstrem). - Kesenangan vs Kesedihan:
Jika kita hanya memilih jalan hidup yang senang-senang saja secara dominan, secara tidak sadar kita sedang menyuburkan kutub kesedihan yang suatu saat akan muncul. - Pengawasan:
Semakin keras kita mengawasi dan mengancam anak atau murid, semakin besar potensi mereka untuk melakukan hal yang dilarang begitu mereka berada di luar pengawasan kita.
4. Harapan dan Ketakutan
Semakin besar harapan yang kita miliki, semakin besar pula ketakutan yang menyertainya.
Di balik harapan yang berlebihan, tersembunyi ketakutan yang juga berlebihan.
- Ingin lulus cepat, di baliknya ada ketakutan jika kuliah tidak selesai.
- Ingin segera menikah, di baliknya ada kekhawatiran tidak mendapat calon.
- Berharap Indonesia menjadi negara nomor satu, di baliknya muncul ketakutan melihat realitas situasi saat ini.
Harapan dan ketakutan adalah satu paket prinsip Yin dan Yang.
Agar tidak menghancurkan kita, keduanya harus dikelola dengan pas dan sederhana agar tidak memberikan beban hidup yang terlalu berat.
5. Keselarasan Dunia dan Akhirat
Dunia dan akhirat adalah dua hal yang saling mempengaruhi dan menentukan, layaknya Yin dan Yang.
- Dunia adalah ladang bagi akhirat:
Kita melakukan kebaikan di dunia agar sukses di akhirat. Membereskan urusan dunia adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat. - Akhirat adalah kendali bagi dunia:
Karena menyadari adanya kehidupan setelah mati, hidup kita di dunia menjadi terkontrol dan tidak sekadar mencari kesenangan sendiri.
Seseorang tidak perlu menghancurkan kehidupan dunianya demi mengejar akhirat. Dunia adalah kendaraan untuk mencapai akhirat.
6. Pentingnya Menjaga Amanah Tubuh
Rasulullah SAW pernah mengkritik sahabat yang memforsir tenaganya untuk ibadah secara berlebihan hingga mengabaikan kondisi fisik.
Contohnya adalah kisah tali milik Zainab yang diikat di antara dua tiang masjid untuk pegangan saat ia kelelahan dalam shalat.
Rasulullah memerintahkan untuk melepas tali tersebut dan menyarankan agar shalat dilakukan dalam keadaan segar; jika lelah, maka sebaiknya tidur atau istirahat.
Urusan duniawi seperti menjaga kesehatan, makan, dan istirahat harus beres terlebih dahulu agar perjalanan menuju akhirat bisa sempurna.
Kita tidak bisa beribadah dengan tenang jika tubuh tidak sehat.
Menjaga protokol kesehatan di masa pandemi, misalnya, adalah bagian dari menjaga amanah tubuh untuk mendapatkan ridha Allah.
Kesimpulannya, dunia adalah ladang untuk menanam, dan akhirat adalah orientasi yang memberikan kendali dalam hidup kita.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







