24 September 2026
Ada orang yang memandang Maulid hanya sebagai peringatan kelahiran seorang tokoh besar yang hidup berabad-abad silam. Mereka membayangkan umat Islam berkumpul untuk mengenang sejarah, sebagaimana manusia mengenang kelahiran pahlawan dan orang-orang mulia lainnya. Namun, bagi para pencinta Rasulullah SAW, Maulid bukan sekadar mengenang seseorang yang telah berlalu.
Maulid adalah perjumpaan hati dengan Rasulullah SAW.
Sebab Rasulullah bukan hanya manusia agung yang pernah hidup di dunia. Beliau adalah kekasih Allah, utusan-Nya, penghulu para nabi, saksi atas umat, dan manusia pilihan yang kehidupannya tidak berakhir ketika jasad sucinya meninggalkan alam dunia.
Beliau telah berpindah alam, tetapi tidak menjadi tidak hadir.
Rasulullah SAW Mendengar dan Menjawab Salam
Setiap hari, di seluruh penjuru bumi, jutaan orang mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW di dalam salatnya:
> اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
> “Salam atasmu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”
Perhatikanlah cara salam itu diucapkan. Kita tidak mengatakan, “Semoga salam tercurah kepada Nabi,” seakan-akan sedang membicarakan seseorang yang tidak berada di hadapan kita. Kita mengatakan, “Salam atasmu, wahai Nabi.”
Kata ‘alaika—“atasmu”—adalah sapaan langsung.
Salam itu mempunyai alamat. Ia tidak berputar-putar di ruang kosong. Ia sampai kepada Rasulullah SAW dan, atas izin Allah, beliau menjawabnya.
Rasulullah SAW bersabda:
> مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللّٰهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
> “Tidaklah seseorang menyampaikan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku menjawab salamnya.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
> إِنَّ لِلّٰهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ
> “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di bumi untuk menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”
Jika satu salam seorang mukmin disampaikan kepada Rasulullah SAW dan dijawab oleh beliau, bagaimana dengan ribuan salam yang dilantunkan bersama-sama dalam sebuah majelis Maulid? Bagaimana dengan salawat yang dibaca oleh hati-hati yang rindu, mata yang meneteskan air mata, dan jiwa yang sedang berusaha mendekati kekasih Allah?
Tentu Rasulullah SAW mengetahuinya. Tentu salam itu sampai kepadanya. Dan tentu, atas izin Allah, beliau menjawabnya.
Para Syuhada Tetap Hidup
Keyakinan tentang kehadiran Rasulullah SAW tidak lahir dari khayalan para pencinta. Ia berpijak pada ajaran Al-Qur’an tentang kehidupan para syuhada.
Allah berfirman:
> وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
> “Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS al-Baqarah [2]: 154)
Allah kembali menegaskan:
> بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
> “Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.” (QS Ali ‘Imran [3]: 169)
Apabila para syuhada dari umat Muhammad SAW hidup di sisi Allah, bagaimana mungkin Rasulullah—penghulu para nabi dan manusia paling mulia—dianggap telah terputus sama sekali dari umatnya?
Dalam keyakinan Ahlul Bait, Rasulullah SAW meninggalkan dunia sebagai seorang syahid. Imam Ali ar-Ridha a.s. menegaskan:
> وَاللّٰهِ مَا مِنَّا إِلَّا مَقْتُولٌ شَهِيدٌ
> “Demi Allah, tidak seorang pun dari kami kecuali terbunuh dan syahid.”
Syahadah bukan akhir kehidupan. Ia adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih tinggi. Rasulullah SAW meninggalkan kehidupan jasmani, tetapi tidak kehilangan kesadaran, kecintaan, dan hubungannya dengan umat. Beliau hidup di sisi Allah dengan kehidupan yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia.
Ketidakmampuan kita melihat bukanlah bukti ketidakhadiran beliau. Al-Qur’an sendiri telah memperingatkan:
> وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
> “Tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Dari Kehidupan Menuju Kehadiran
Kehidupan Rasulullah SAW di alam yang lebih tinggi memiliki konsekuensi: beliau tidak menjadi asing terhadap umatnya. Beliau mengenali salam mereka, mengetahui kecintaan mereka dan, dengan izin Allah, menyaksikan amal-amal mereka.
Allah menyebut Rasulullah SAW sebagai saksi:
> يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
> “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.”
(QS al-Ahzab [33]: 45)
Kedudukan sebagai saksi tidak kehilangan maknanya hanya karena Rasulullah SAW telah meninggalkan alam dunia. Beliau tetap menjadi saksi atas umatnya dengan pengetahuan dan kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Karena itu, kehadiran Rasulullah SAW dalam sebuah majelis Maulid tidak harus dibayangkan sebagai kehadiran jasmani yang dibatasi tempat dan ruang. Kehadiran beliau adalah kehadiran ruhani yang nyata: salam disampaikan kepadanya, salawat diperlihatkan kepadanya, dan kecintaan umat diketahui olehnya atas izin Allah.
Rasulullah SAW tidak hadir karena beliau memiliki kekuasaan yang terpisah dari Allah. Beliau hadir karena Allah memuliakannya. Allah yang menyampaikan salam, Allah yang memperlihatkan amal umat, dan Allah pula yang memberi kemampuan kepada beliau untuk menjawab salam para pencintanya.
Semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, semakin besar pula karunia yang Allah berikan kepadanya. Tidak ada hamba yang kedudukannya melampaui Muhammad Rasulullah SAW.
Ketika Nama Muhammad Disebut
Allah berfirman:
> إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
> “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kepadanya dan sampaikanlah salam penghormatan dengan sempurna.” (QS al-Ahzab [33]: 56)
Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memerintahkan kita membicarakan Nabi. Allah memerintahkan kita bersalawat dan menyampaikan salam kepadanya. Ada hubungan yang terus hidup antara Rasulullah SAW dan orang-orang beriman.
Hubungan itulah yang terasa dalam majelis Maulid.
Ketika nama Muhammad disebut dengan cinta, hati menjadi lembut. Ketika perjalanan hidupnya dibacakan, orang-orang menangis. Ketika salawat dilantunkan, kerinduan yang selama ini tersimpan menemukan jalannya. Di dalam suasana semacam itu, Rasulullah SAW bukan sekadar tokoh dalam teks yang sedang dibaca. Beliau menjadi pusat perhatian seluruh majelis.
Nama beliau disebut. Akhlaknya dikenang. Penderitaannya direnungkan. Salawat dikirimkan kepadanya. Salam disampaikan langsung kepadanya.
Bagaimana mungkin sebuah majelis dipenuhi salam kepada Rasulullah SAW, sementara kita menganggap beliau sama sekali tidak hadir dan tidak mengetahuinya?
Tidak semua yang hadir harus terlihat oleh mata. Malaikat hadir dalam majelis zikir, meskipun mata manusia tidak melihatnya. Rahmat Allah turun, meskipun tidak dapat disentuh oleh tangan. Doa naik ke hadirat-Nya, meskipun tidak dapat diikuti oleh pandangan. Demikian pula kehadiran ruhani Rasulullah SAW: ia dikenali oleh hati yang hidup, meskipun tidak ditangkap oleh mata jasmani.

Mahallul Qiyam: Berdiri karena Cinta

Dalam banyak majelis Maulid terdapat satu saat ketika seluruh jamaah berdiri. Salawat dilantunkan, aroma harum memenuhi ruangan, dan nama Rasulullah SAW disebut dengan penuh penghormatan. Saat itu dikenal sebagai mahallul qiyam.
Mereka berdiri bukan karena sedang memastikan suatu fenomena jasmani. Mereka berdiri karena cinta memiliki adab. Kerinduan mempunyai bahasa. Penghormatan terkadang terlalu besar untuk diungkapkan sambil tetap duduk.
Ketika seorang yang kita cintai datang, kita berdiri menyambutnya. Ketika nama Rasulullah SAW disebut dan kehadirannya dirasakan oleh hati, para pencinta pun berdiri. Bukan karena mereka kehilangan akal, melainkan karena cinta telah mengajarkan tubuh untuk ikut memberikan penghormatan.
Mungkin tidak semua orang merasakan hal yang sama. Tidak semua hati memiliki kadar kerinduan yang sama. Ada orang yang mendengar nama Muhammad SAW hanya sebagai bunyi. Ada pula yang mendengarnya sebagai panggilan yang mengguncangkan seluruh jiwanya.
Orang yang tidak merasakan kehadiran itu tidak berhak merampas pengalaman ruhani orang yang merasakannya.
Rasulullah SAW Hadir di Setiap Maulid
Ketika Maulid diselenggarakan dengan ikhlas, perjalanan Rasulullah SAW dibacakan dengan khusyuk, salawat dilantunkan dengan cinta, dan salam disampaikan dengan kerinduan, kita meyakini beliau hadir dalam majelis itu atas izin Allah.
Beliau hadir bukan sebagai jasad yang terikat oleh satu tempat. Kehadiran ruhani tidak tunduk kepada ukuran jarak sebagaimana tubuh manusia. Pada waktu yang sama, jutaan umat dapat menyampaikan salam dari tempat yang berbeda-beda, dan seluruh salam itu sampai kepadanya.
Kehadiran Rasulullah SAW dalam Maulid tidak mengurangi tauhid. Justru keyakinan bahwa seluruh kemuliaan beliau berasal dari izin dan pemberian Allah merupakan pengakuan terhadap kebesaran-Nya. Allah yang memilih Muhammad, mengangkat derajatnya, menjadikannya saksi atas umat, serta menghubungkan hati orang-orang beriman dengannya.
Adapun orang-orang yang sibuk mencela Maulid, biarkanlah mereka dengan kesibukannya. Kita tidak perlu menyerahkan kegembiraan kita kepada pengadilan orang-orang yang tidak memahami bahasa cinta. Allah sendiri memerintahkan manusia bergembira karena karunia dan rahmat-Nya:
> قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
> “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS Yunus [10]: 58)
Adakah rahmat Allah bagi semesta yang lebih besar daripada diutusnya Muhammad Rasulullah SAW?
Pada bulan kelahirannya, kita tidak sedang menghidupkan Rasulullah. Beliaulah yang menghidupkan hati kita. Kita tidak sedang memberikan kemuliaan kepadanya. Allah telah memuliakannya sebelum manusia mengenalnya. Kita hanya mengetuk pintu kecintaan, berharap pandangannya tertuju kepada kita dan salamnya menjadi jawaban atas salam kita.
Maka, ketika salawat menggema dalam majelis Maulid, tundukkanlah kepala dan hadirkanlah hati. Ucapkan salam dengan kesadaran bahwa salam itu sampai kepada beliau:
> اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيبَ اللّٰهِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
> “Salam atasmu, wahai Rasulullah.
Salam atasmu, wahai Kekasih Allah.
Salam atasmu, wahai rahmat bagi seluruh alam.”
Kita datang ke majelis Maulid dengan membawa cinta yang tidak sempurna, amal yang sedikit, serta hati yang masih berlumuran kesalahan. Namun, kita berharap Rasulullah SAW hadir, memandang kita dengan kasih sayang, menerima salam kita, lalu menjawabnya.
Sebab beliau tidak pernah menjadi masa lalu.
Muhammad Rasulullah SAW hidup di sisi Allah, hadir dalam setiap Maulid yang diselenggarakan dengan cinta, dan menjawab salam umatnya dengan izin-Nya.
RASULULLAH saw
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us