KETIKA KABAR ITU TIBA
Pagi itu, Bagdad terbangun seperti biasa.
Para pedagang membuka pintu-pintu toko. Pengangkut air memikul gentong di sepanjang jalan. Kuda-kuda para pejabat melintas menuju istana. Dari menara-menara masjid, suara azan memanggil manusia untuk menghadap Allah.
Namun, di antara hiruk-pikuk kota, sebuah kabar bergerak perlahan dari mulut ke mulut.
Tidak diteriakkan.
Tidak diumumkan dengan tabuhan genderang.
Kabar itu dibisikkan dengan wajah pucat dan bibir gemetar:
“Imam Musa telah wafat di dalam penjara.”
Seorang lelaki yang mendengarnya menjatuhkan kantong gandum dari tangannya. Seorang perempuan menutup mulut agar jeritannya tidak terdengar. Seorang pemuda berdiri kaku, seolah seluruh suara di sekelilingnya tiba-tiba menghilang.
Mereka telah lama mengetahui bahwa Imam berada dalam tahanan.
Mereka mengetahui tubuhnya semakin lemah.
Mereka mengetahui bahwa penjara terakhirnya berada di bawah penjagaan keras al-Sindi bin Syahik.
Namun, selama Imam masih hidup, masih ada harapan bahwa suatu hari pintu besi itu akan terbuka. Masih ada doa yang dipanjatkan setiap malam agar beliau kembali ke tengah keluarga dan umatnya.
Kini, doa itu seperti terhenti di antara langit dan bumi.
Di sebuah rumah kecil, salah seorang murid membuka pintu dengan tergesa-gesa. Seorang utusan berdiri di hadapannya. Pakaiannya dipenuhi debu, napasnya berat, dan matanya merah karena terlalu lama menahan tangis.
“Apakah benar?” tanya pemilik rumah.
Utusan itu tidak segera menjawab. Ia hanya menundukkan kepala.
Kadang-kadang, diam adalah jawaban yang lebih menyakitkan daripada kata-kata.
“Apakah benar Imam kita telah pergi?”
Utusan itu akhirnya mengangguk.
Lelaki di hadapannya berpegangan pada kusen pintu agar tidak terjatuh.
Beberapa hari sebelumnya, ia masih menunggu jawaban Imam mengenai persoalan keluarganya.
Ia membayangkan surat itu sedang berjalan dari satu tangan menuju tangan yang lain. Ia berharap tulisan Imam akan tiba dan menenangkan kegelisahannya.
Kini ia tidak tahu apakah surat itu pernah selesai dituliskan.
Ia tidak tahu apakah tangan yang dirantai itu masih sempat menggenggam pena.
Ia tidak tahu apakah dalam kesakitan terakhirnya, Imam masih mengingat nama-nama mereka.
Lalu utusan itu mengeluarkan selembar pesan kecil dari balik pakaiannya.
“Ini sampai sebelum beliau wafat.”
Tangan lelaki itu gemetar ketika menerimanya.
Tulisan di dalamnya singkat. Tidak ada keluhan tentang penjara. Tidak ada kutukan terhadap orang yang menzaliminya. Tidak ada permintaan agar umat membalas dendam.
Hanya tuntunan agar mereka menjaga ketakwaan, memelihara persaudaraan, menunaikan amanah, dan tidak membiarkan ketakutan memisahkan mereka dari kebenaran.
Lelaki itu membaca sampai akhir.
Kemudian ia mendekap surat itu ke dadanya dan menangis seperti seorang anak yang baru kehilangan ayah.
“Beliau sedang menghadapi kematian,” katanya, “tetapi masih memikirkan bagaimana kami harus hidup.”
Di tempat lain, Ali bin Yaqtin menerima kabar serupa.
Ia berada di lingkungan kekuasaan yang telah memenjarakan Imamnya. Di sekelilingnya terdapat orang-orang yang tetap berbicara tentang pajak, administrasi, pengangkatan pejabat, dan keamanan kerajaan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Mungkin ia harus tetap berdiri tegak.
Mungkin wajahnya tidak boleh menunjukkan kesedihan terlalu jelas.
Sebab satu air mata yang jatuh pada saat yang salah dapat membuka seluruh rahasia kesetiaannya.
Ia masuk ke sebuah ruangan dan menutup pintu.
Barulah di sana, jauh dari pandangan para pejabat, ia membiarkan tubuhnya bersandar pada dinding.
Bertahun-tahun ia bertahan di tengah istana karena perintah Imam. Ia menelan rasa muak, menyembunyikan keyakinannya, dan menggunakan kedudukannya untuk melindungi orang-orang yang terancam.
Setiap kali merasa berat, ia menghibur diri dengan satu keyakinan: Imam masih ada. Imam mengetahui perjuangannya. Imam mendoakannya.
Sekarang, orang yang menjadi alasan seluruh ketabahannya telah wafat dalam penjara kerajaan tempat ia bekerja.
Ia mungkin menatap kedua tangannya sendiri.
Tangan itulah yang pernah menandatangani surat-surat pemerintahan.
Tangan yang sama pernah menghapus nama pengikut Ahlul Bait dari daftar pemeriksaan.
Tetapi pagi itu ia merasa kedua tangannya tidak berdaya.
“Wahai Imamku,” bisiknya, “aku berada begitu dekat dengan istana, tetapi tidak mampu membuka satu pintu pun untukmu.”
Air matanya jatuh.
Namun, dari kedalaman hatinya seolah terdengar kembali tuntunan sang Imam:
Kedudukanmu bukan untuk menyelamatkanku dari takdirku. Kedudukanmu adalah untuk menyelamatkan manusia yang dapat kautolong.
Ali bin Yaqtin menutup wajahnya.
Ia memahami bahwa kesetiaan kepada Imam bukan hanya keberanian untuk mati bersamanya. Kesetiaan juga berarti sanggup tetap hidup dan melanjutkan amanah setelah beliau pergi.
Di sudut kota yang lain, Hisham bin al-Hakam mendengar kabar itu dari seorang sahabat.
Untuk beberapa saat, lelaki yang dikenal tajam dalam argumentasi itu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Selama ini ia dapat menjawab para pendebat. Ia dapat menyusun dalil. Ia dapat membongkar logika orang-orang yang menyamakan kekuasaan dengan kebenaran.
Namun, apakah argumen dapat menjelaskan rasa kehilangan?
Apakah kata-kata mampu menggambarkan seorang Imam yang menghabiskan akhir hidupnya dalam rantai?
Hisham mungkin mengingat pertemuan-pertemuannya dengan sang Imam. Cara beliau mendengarkan pertanyaan. Cara beliau tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga mendidik cara berpikir.
Cara beliau menegur tanpa merendahkan dan mengarahkan tanpa membuat muridnya kehilangan keberanian.
Kini suara itu tidak lagi dapat didengar secara langsung.
Hisham menundukkan kepala.
“Apakah mereka mengira telah membungkam beliau?” katanya perlahan.
Sahabatnya tidak menjawab.
Hisham mengambil lembaran-lembaran catatan yang selama ini dijaganya.
“Kalau begitu,” lanjutnya, “setiap ilmu yang beliau ajarkan harus kita hidupkan. Setiap kebohongan harus kita jawab. Setiap generasi harus mengetahui mengapa seorang Imam tanpa pasukan begitu ditakuti oleh seorang raja yang memiliki seluruh negeri.”
Kesedihan di matanya belum kering.
Tetapi dari kesedihan itu lahir sebuah tekad.
Ia memahami bahwa mulai hari itu, membela imamah bukan lagi sekadar diskusi teologis. Ia adalah kesaksian atas darah dan penderitaan gurunya.
Sementara itu, jasad suci Imam Musa al-Kazim a.s. dikeluarkan dari penjara.
Menurut riwayat yang hidup dalam tradisi Ahlul Bait, tubuh beliau diperlihatkan di hadapan masyarakat. Kekuasaan ingin membangun kesan bahwa beliau meninggal secara wajar.
Para saksi dihadirkan. Pernyataan-pernyataan disusun. Negara berusaha menguasai bukan hanya tubuh sang Imam, tetapi juga cerita tentang kematiannya.
Sebab para penguasa mengetahui bahwa kejahatan tidak cukup dilakukan.
Kejahatan juga harus disembunyikan.
Korban harus dibungkam.
Orang-orang harus dipaksa mempercayai bahwa tidak ada yang perlu dipertanyakan.
Di suatu jembatan di Bagdad, tubuh itu diletakkan.
Tubuh yang selama bertahun-tahun berdiri dalam salat.
Tubuh yang tangannya memberi kepada fakir miskin tanpa ingin dikenal.
Tubuh yang dipeluk anak-anaknya ketika beliau masih berada di Madinah.
Tubuh yang kini penuh dengan bekas penderitaan, terbujur di hadapan manusia sebagai tahanan negara.
Seorang tua yang mengenali wajah beliau menutup matanya.
“Demi Allah,” katanya dengan suara patah, “inilah putra Rasulullah.”
Seorang perempuan di tengah kerumunan menangis.
Mungkin ia pernah menerima bantuan dari Imam tanpa mengetahui dari mana asalnya. Mungkin suaminya pernah diselamatkan oleh salah seorang wakil beliau. Mungkin anaknya pernah belajar dari murid-murid sang Imam.
Kini ia melihat orang yang selama ini menjaga umat justru tidak dijaga haknya sebagai manusia.
Ia ingin mendekat, tetapi pasukan menghalangi.
Ia ingin memanggil nama Imam, tetapi ketakutan menahan suaranya.
Akhirnya ia hanya berdiri jauh, memandangi tubuh itu sambil berbisik:
“Maafkan kami, wahai putra Rasulullah. Engkau dipenjara karena menjaga agama kami, tetapi kami bahkan tidak mampu berdiri di samping jasadmu.”
Tangis itu bukan hanya tangis kehilangan.
Ia adalah tangis rasa malu.
Betapa sering manusia mencintai orang-orang suci, tetapi membiarkan mereka berjalan sendirian menuju penderitaan.
Betapa mudah umat memuji keberanian setelah sang pemberani wafat, tetapi begitu sulit berdiri bersamanya ketika pedang kekuasaan masih terhunus.
Namun, pada hari itu, Bagdad juga menyaksikan sesuatu yang tidak diperhitungkan istana.
Manusia mulai datang.
Mereka datang dengan hati-hati, kemudian semakin banyak.
Ada ulama, pedagang, pekerja, orang miskin, dan orang-orang yang selama ini menyembunyikan kesetiaan mereka. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa air mata.
Setiap air mata menjadi penolakan terhadap narasi kerajaan.
Setiap orang yang mengenali kemuliaan Imam menjadi saksi bahwa penjara gagal merendahkannya.
Kekuasaan mungkin dapat memerintahkan tubuh itu diletakkan di atas jembatan. Tetapi ia tidak dapat memerintahkan hati manusia untuk berhenti mencintainya.
Dalam riwayat sejarah, Sulaiman bin Abi Ja’far—paman Harun—kemudian mengambil tanggung jawab terhadap jasad Imam dan memerintahkan agar beliau dimandikan, dikafani, serta dimakamkan dengan penghormatan.
Jasad beliau dibawa menuju pemakaman Quraisy, tempat yang kemudian dikenal sebagai Kazimain.
Ketika keranda itu diangkat, seolah seluruh Bagdad sedang memikul sebuah pertanyaan:
Bagaimana mungkin seorang cucu Rasulullah saw. berakhir dalam penjara pemerintahan yang mengaku mewakili agama kakeknya?
Tidak ada jawaban yang cukup untuk menghapus aib itu.
Di sepanjang jalan, orang-orang menangis.
Sebagian mungkin hanya pernah mendengar nama beliau.
Sebagian pernah melihatnya dari kejauhan.
Sebagian adalah murid yang menyimpan ajarannya.
Sebagian adalah keluarga yang selama ini menerima bantuannya secara rahasia.
Mereka kini berjalan di belakang keranda orang yang sepanjang hidupnya berjalan di depan untuk menunjukkan jalan.
Seorang murid memegang sisi keranda. Tangannya gemetar.
Dalam hati ia berbisik:
“Wahai Imamku, dahulu kami menunggu petunjukmu. Sekarang siapa yang akan menunjukkan jalan kepada kami?”
Lalu ia teringat bahwa Hujjah Allah tidak meninggalkan umat tanpa penerus. Amanah imamah berlanjut kepada putranya, Imam Ali ar-Ridha a.s.
Kesedihan itu belum hilang, tetapi jalan mulai terlihat.
Imam boleh berpindah dari dunia, tetapi hujah Allah tidak terputus.
Cahaya tidak padam. Ia berpindah dari satu pelita kepada pelita berikutnya.
Namun, perpindahan itu tidak mudah.
Sebagian orang terguncang. Sebagian kebingungan. Sebagian tidak siap menerima kenyataan bahwa Imam Musa benar-benar telah wafat.
Bahkan ada orang-orang yang kemudian menolak mengakui kematiannya, terlebih ketika kepentingan dan harta yang mereka pegang membuat pengakuan terhadap Imam berikutnya terasa berat.
Di situlah para murid kembali diuji.
Apakah mereka mengikuti Imam karena cinta kepada kebenaran, atau karena ketergantungan kepada seorang pribadi?
Apakah mereka bersedia menerima penerus yang ditetapkan, atau menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berhenti berjalan?
Para murid yang jujur menghapus air mata mereka, lalu mendatangi Imam Ali ar-Ridha a.s.
Mereka membawa catatan-catatan ayahnya.
Mereka membawa pertanyaan-pertanyaan umat.
Mereka membawa jaringan yang harus dijaga.
Mereka juga membawa luka yang belum sembuh.
Di hadapan Imam Ali ar-Ridha a.s., mungkin ada seorang murid yang berkata:
“Kami merasa seperti anak-anak yang kehilangan ayah.”
Imam memandangnya dengan kasih.
“Kalian kehilangan tubuhnya,” demikian makna yang dapat mereka tangkap, “tetapi jangan kehilangan jalannya.”
Kalimat itu menjadi penopang bagi mereka.
Mereka memahami bahwa kesetiaan bukan berhenti di makam.
Kesetiaan berarti menjaga apa yang diperjuangkan orang yang dimakamkan.
Maka orang-orang itu kembali bergerak.
Ali bin Yaqtin tetap melindungi manusia sejauh kemampuannya.
Para perawi menjaga sabda Imam Musa agar tidak hilang.
Para wakil memastikan harta umat sampai kepada mereka yang berhak.
Para guru mengajarkan bahwa kesabaran Imam bukan kelemahan, tetapi kekuatan jiwa yang tidak mampu ditaklukkan kerajaan.
Para ibu menceritakan kepada anak-anak mereka tentang seorang Imam yang dipenjara karena dicintai umat.
Para ayah mengajarkan bahwa gelar keagamaan tidak otomatis menjadikan seorang penguasa adil.
Dari rumah ke rumah, kisah itu diwariskan.
Tidak dengan kebencian yang membutakan, tetapi dengan ingatan yang menolak dipalsukan.
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak yang dahulu mendengar kisah itu tumbuh dewasa. Mereka mungkin tidak pernah melihat Imam Musa al-Kazim a.s. Mereka tidak pernah mendengar suaranya. Mereka tidak pernah berdiri di belakangnya dalam salat.
Namun, ketika nama beliau disebut, hati mereka bergetar.
Mereka merasa mengenal seorang lelaki yang menjadikan penjara sebagai mihrab, penderitaan sebagai pelayanan, dan kesyahidan sebagai kesaksian.
Inilah kegagalan terbesar Harun.
Ia mengira kematian akan memutus hubungan Imam dengan umat.
Padahal, kematian justru membuat hubungan itu melampaui ruang dan waktu.
Selama hidup, Harun dapat memindahkan Imam dari satu penjara ke penjara lain.
Setelah syahid, tidak ada lagi penjara yang mampu menahannya.
Namanya berjalan ke Kufah, Qom, Khurasan, Madinah, dan negeri-negeri yang bahkan belum pernah dijangkau pasukan Abbasiyah.
Ajarannya hidup dalam kitab-kitab.
Kesabarannya hidup dalam doa.
Makamnya menjadi tempat orang-orang membawa kesedihan dan harapan.
Sementara para muridnya menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar menangisi sang Imam.
Air mata harus menjadi amanah.
Kesedihan harus berubah menjadi keberanian moral.
Cinta harus menjelma menjadi pelayanan.
Sebab menangisi orang suci tanpa meneruskan perjuangannya hanya akan menjadikan kesedihan sebagai upacara.
Imam Musa al-Kazim a.s. tidak membutuhkan pengikut yang hanya pandai menangis di hadapan makamnya, tetapi diam ketika kezaliman kembali memenjarakan manusia yang tidak bersalah.
Ia membutuhkan hati yang tetap lembut tanpa menjadi lemah.
Akal yang tetap kritis tanpa kehilangan adab.
Keberanian yang tidak berubah menjadi kebencian.
Kesetiaan yang tidak dapat dibeli istana.
Pada malam setelah pemakaman, beberapa murid mungkin kembali berkumpul di rumah kecil yang sama.
Tempat di mana dahulu mereka membagi surat, menyalurkan amanah, dan menunggu kabar dari penjara.
Kini satu tempat di antara mereka terasa kosong.
Tidak ada lagi harapan bahwa pesan berikutnya akan datang dari balik jeruji.
Salah seorang dari mereka meletakkan surat terakhir Imam di tengah ruangan.
Mereka membacanya bersama-sama.
Kemudian seorang pemuda bertanya:
“Apakah semuanya telah berakhir?”
Seorang murid yang lebih tua menggelengkan kepala.
“Tidak. Hari ini justru amanah itu sampai kepada kita.”
Ia memandang wajah-wajah yang masih basah oleh air mata.
“Dahulu Imam berada dalam penjara dan kita membawa tuntunannya keluar. Sekarang Imam telah kembali kepada Allah. Kitalah yang harus memastikan tuntunannya tidak ikut dikuburkan.”
Mereka terdiam.
Di luar rumah, Bagdad masih berada di bawah kekuasaan Harun. Patroli masih berjalan. Mata-mata masih mengawasi. Istana masih bercahaya seolah tidak memiliki dosa.
Namun, di dalam rumah kecil itu, beberapa orang membuat sebuah janji tanpa upacara:
Mereka akan menjaga ilmu Imam.
Mereka akan melindungi orang-orang lemah.
Mereka akan menyampaikan amanah kepada Imam berikutnya.
Mereka tidak akan membiarkan sejarah ditulis hanya oleh istana.
Mereka akan menceritakan kepada generasi sesudahnya bahwa pernah ada seorang raja yang memiliki seluruh kekuasaan, tetapi takut kepada seorang hamba Allah yang tidak memiliki senjata.
Dan pernah ada seorang Imam yang tubuhnya diletakkan di atas jembatan, tetapi kemuliaannya tidak dapat direndahkan.
Malam semakin larut.
Satu per satu mereka meninggalkan rumah itu.
Mereka kembali keluar secara bergantian, seperti malam-malam sebelumnya.
Tetapi kali ini langkah mereka berbeda.
Mereka tidak lagi berjalan hanya sebagai pembawa surat sang Imam.
Mereka berjalan sebagai pembawa warisannya.
Di dalam dada masing-masing ada kesedihan yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, di balik kesedihan itu menyala sebuah tekad:
Selama masih ada satu manusia yang mengingat keteguhan Musa al-Kazim a.s., penjara Harun tidak pernah menang.
Selama masih ada satu murid yang mengajarkan ilmunya, racun itu tidak pernah berhasil membungkamnya.
Selama masih ada satu air mata yang berubah menjadi keberanian untuk membela manusia terzalimi, kesyahidan itu tidak pernah menjadi akhir.
Harun mengira ia telah menutup sebuah perkara.
Padahal, pada hari kematian Imam Musa al-Kazim a.s., sebuah kesaksian baru saja dimulai.
Istana memperoleh keheningan sesaat.
Tetapi umat memperoleh sebuah ingatan yang abadi.
Dan para murid yang mengusap air mata pada malam itu akhirnya memahami:
Mereka tidak lagi menunggu Imam keluar dari penjara. Mulai saat itu, merekalah yang harus membawa ajarannya keluar dari setiap penjara yang dibangun oleh ketakutan, kebodohan, dan kekuasaan.
(Selesai bagian refleksi)

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BxctZ6bhr/

