15 October 2026

Bagian 4: JIKA HUDHUD MELIHAT AIR, MENGAPA IA TIDAK MELIHAT JERAT?

Percakapan itu bermula dari kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an. Nabi yang diberi kerajaan besar itu memeriksa barisan burung, lalu menyadari bahwa burung hudhud tidak berada di tempatnya.

Allah mengabadikan perkataannya:

“Mengapa aku tidak melihat hudhud? Apakah ia termasuk yang tidak hadir?”

—QS. an-Naml: 20

Abu Hanifah kemudian bertanya kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq:

“Bagaimana Sulaiman dapat mengetahui bahwa hudhud tidak berada di antara burung-burung?”

Imam menjawab:

“Karena hudhud dapat melihat air di dalam bumi sebagaimana salah seorang di antara kalian melihat minyak di dalam botol.”

Dengan kemampuan itulah, menurut riwayat tersebut, hudhud membantu Nabi Sulaiman menemukan sumber air dalam perjalanan.

Mendengar jawaban itu, Abu Hanifah memandang sahabat-sahabatnya, lalu tertawa.

Imam Ja‘far bertanya:

“Apa yang membuatmu tertawa?”

Abu Hanifah menjawab dengan penuh keyakinan:

“Aku telah menemukan kekeliruanmu.”

Imam bertanya:

“Bagaimana demikian?”

Abu Hanifah berkata:

“Burung yang mampu melihat air di dalam bumi, bagaimana mungkin tidak melihat jerat yang berada di atas tanah hingga lehernya tertangkap?”

Pertanyaan itu tajam.

Jika hudhud sanggup melihat sesuatu yang tersembunyi jauh di bawah tanah, tentu seharusnya ia lebih mudah melihat perangkap yang berada dekat di hadapannya. Abu Hanifah merasa telah menemukan pertentangan dalam jawaban Imam.

Namun Imam Ja‘far menjawab:

“Wahai Nu‘man, tidakkah engkau mengetahui bahwa apabila takdir telah datang, pandangan dapat tertutup?”

Tertawa sebelum memahami

Abu Hanifah tidak hanya bertanya. Ia sempat tertawa dan memandang murid-muridnya, seolah-olah kemenangan telah berada di tangannya.

Inilah satu kelemahan yang kerap menyertai orang berilmu: terlalu cepat merasa menemukan kesalahan orang lain.

Sebuah jawaban belum selesai dipahami, tetapi bantahan telah disiapkan. Sebuah kalimat belum ditempatkan dalam kerangkanya, tetapi kemenangan sudah diumumkan.

Padahal seseorang yang sedang mencari kebenaran tidak perlu tergesa-gesa merayakan kekeliruan lawan bicara. Sebab mungkin yang tampak sebagai kelemahan jawaban sebenarnya adalah keterbatasan pemahamannya sendiri.

Imam Ja‘far tidak terganggu oleh tawa itu. Beliau bertanya dengan tenang:

“Apa yang membuatmu tertawa?”

Beliau memberikan kesempatan kepada Abu Hanifah untuk mengeluarkan seluruh keberatannya. Setelah keberatan itu terlihat dengan jelas, barulah Imam menunjukkan bagian yang tidak diperhitungkannya.

Memiliki kemampuan bukan berarti menguasai segala sesuatu

Kemampuan melihat sesuatu tidak berarti dapat melihat segala sesuatu.

Seseorang dapat memahami hukum dengan sangat baik, tetapi tidak pandai membaca watak manusia. Orang lain mungkin ahli mengelola kekayaan, tetapi gagal mengelola keluarganya. Seorang dokter dapat mengenali penyakit pasiennya, tetapi terlambat menyadari penyakit yang tumbuh dalam tubuhnya sendiri.

Keahlian selalu mempunyai wilayah.

Bila dalam kisah ini hudhud diberi kemampuan menemukan air di bawah tanah, tidak berarti ia mengetahui seluruh bahaya yang terdapat di sekelilingnya. Kemampuan khusus tidak sama dengan pengetahuan mutlak.

Kesalahan Abu Hanifah terletak pada lompatan kesimpulannya:

Karena hudhud dapat melihat sesuatu yang sangat tersembunyi, berarti ia pasti dapat melihat semua yang lebih dekat.

Padahal keduanya bukan kemampuan yang harus selalu berjalan bersama. Menemukan air dan mengenali perangkap merupakan dua objek yang berbeda. Satu kemampuan tidak otomatis mencakup seluruh bentuk penglihatan dan pengetahuan.

Inilah salah satu jebakan qiyas: kita melihat kesamaan pada satu sisi, lalu menganggap seluruh sisi lainnya juga harus sama.

Ketika sebab tidak lagi cukup

Namun jawaban Imam bergerak lebih jauh daripada persoalan kemampuan burung. Beliau membawa Abu Hanifah kepada wilayah takdir:

“Apabila takdir telah datang, pandangan dapat tertutup.”

Manusia hidup melalui sebab. Ia berpikir dengan akal, melihat dengan mata, bekerja dengan kemampuan, dan menghindari bahaya berdasarkan pengetahuannya. Islam tidak menyuruh manusia meninggalkan seluruh sebab itu.

Namun sebab bukan Tuhan.

Mata tidak menjamin seseorang akan selalu melihat. Kecerdasan tidak menjamin seseorang tidak akan keliru. Pengetahuan tidak menjamin seseorang akan selamat dari semua bahaya.

Berapa banyak orang mengetahui risiko sebuah perbuatan, tetapi tetap terjatuh ke dalamnya? Berapa banyak orang sangat cermat menjaga keselamatan orang lain, tetapi lalai pada keselamatan dirinya? Berapa banyak ahli yang ditaklukkan oleh persoalan yang menjadi bidang keahliannya sendiri?

Bukan karena ilmu tidak berguna. Bukan pula karena ikhtiar harus ditinggalkan. Melainkan karena manusia tidak pernah menguasai seluruh unsur yang menentukan sebuah kejadian.

Ada batas yang tidak dapat dilewati oleh penglihatan manusia.

Takdir bukan alasan untuk menyerah

Perkataan Imam Ja‘far tidak boleh dipahami sebagai ajaran untuk pasrah tanpa usaha.

Seseorang tidak boleh memasuki bahaya dengan sengaja, lalu berkata, “Jika takdir datang, aku tidak dapat menghindarinya.” Itu bukan tawakal, melainkan menyia-nyiakan akal yang juga diberikan Allah.

Hudhud tetap menggunakan kemampuannya. Manusia tetap diwajibkan berpikir, belajar, berhati-hati, dan memilih jalan yang benar. Namun setelah seluruh usaha dilakukan, ia harus menyadari bahwa kemampuan itu bukan kekuasaan mutlak.

Takdir mengajarkan kerendahan hati.

Manusia berusaha seolah-olah pilihannya menentukan masa depan. Namun ia berserah diri karena mengetahui bahwa tidak satu pun sebab bekerja di luar kekuasaan Allah.

Dengan demikian, iman kepada takdir bukanlah pembunuhan terhadap akal. Ia adalah batas yang menjaga akal agar tidak mengangkat dirinya menjadi Tuhan.

Jerat orang berilmu

Ada sebuah ironi dalam percakapan ini.

Abu Hanifah mempertanyakan bagaimana hudhud dapat terjerat, padahal ia mempunyai penglihatan yang tajam. Namun pada saat yang sama, Abu Hanifah sendiri hampir terjerat oleh ketajaman pikirannya.

Ia merasa dapat melihat kelemahan jawaban Imam. Ia tertawa, memandang murid-muridnya, dan berkata:

“Aku telah menemukan kekeliruanmu.”

Tetapi justru perasaan telah menang itulah jeratnya.

Jerat orang awam mungkin ketidaktahuan. Jerat orang berilmu sering kali adalah keyakinan bahwa pengetahuannya telah mencakup semuanya.

Orang yang tidak tahu masih mungkin bertanya. Namun orang yang merasa telah tahu akan menertawakan jawaban sebelum memahaminya. Ia bukan lagi mencari kebenaran, melainkan mencari celah untuk memenangkan dirinya.

Hudhud terjerat karena pandangannya tertutup.

Manusia pun dapat mengalami hal yang sama. Bukan matanya yang tertutup, melainkan hatinya. Ia melihat banyak hal, tetapi tidak melihat kesombongan yang tumbuh dalam dirinya.

Di hadapan ilmu Ahlul Bait

Imam Ja‘far tidak memenangkan percakapan itu dengan suara keras. Beliau hanya mengingatkan Abu Hanifah tentang satu kenyataan yang selama ini berada di hadapannya: pengetahuan makhluk selalu memiliki batas.

Akal harus digunakan sejauh-jauhnya. Pertanyaan harus diajukan setajam-tajamnya. Namun akal dan pertanyaan itu harus tetap disertai kerendahan hati.

Sebab tidak semua yang tidak dapat kita jelaskan berarti salah. Tidak semua yang tampak bertentangan benar-benar bertentangan. Dan tidak setiap tawa menandakan kemenangan.

Kadang-kadang seseorang tertawa karena merasa telah menemukan jerat dalam perkataan orang lain.

Padahal tanpa disadarinya, dialah yang sedang berdiri tepat di atas jerat itu.

Abu Hanifah bertanya tentang hudhud yang tidak melihat perangkap di tanah.

Imam Ja‘far menjawab tentang manusia yang tidak melihat keterbatasan dirinya sendiri.

Dialog hanafi4

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18LWTgVKNa/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us