15 October 2026

Bagian 10: MENGAPA ENGKAU MEMBIARKAN ORANG BERLALU DI DEPANMU?

Pada suatu hari, Abu Hanifah menemui Imam Ja‘far ash-Shadiq dan menyampaikan sesuatu yang dilihatnya:

“Aku melihat putramu, Musa, sedang salat. Orang-orang berlalu di hadapannya, tetapi ia tidak mencegah mereka. Dalam hal itu terdapat sesuatu yang perlu dipersoalkan.”

Dalam sebagian pandangan fikih, seseorang yang sedang salat dianjurkan meletakkan pembatas di hadapannya dan mencegah orang berjalan melintasi tempat sujudnya. Abu Hanifah melihat Musa bin Ja‘far tidak melakukannya. Ia lalu membawa persoalan tersebut kepada ayahnya.

Imam Ja‘far tidak langsung menjawab atas nama putranya.

Beliau berkata:

“Panggilkan Musa untukku.”

Musa yang ketika itu masih muda kemudian datang. Imam Ja‘far berkata kepadanya:

“Wahai putraku, Abu Hanifah mengatakan bahwa engkau sedang salat dan orang-orang berjalan di hadapanmu, tetapi engkau tidak mencegah mereka.”

Musa menjawab:

“Benar, Ayahku. Sesungguhnya Dia yang menjadi tujuan salatku lebih dekat kepadaku daripada mereka. Allah berfirman:

‘Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’

—QS. Qaf: 16”

Mendengar jawaban itu, Imam Ja‘far memeluk putranya dan berkata:

“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai tempat dititipkannya berbagai rahasia.”

Imam tidak menjawab atas nama putranya

Imam Ja‘far tentu dapat menjawab keberatan Abu Hanifah dengan mudah. Beliau mengetahui hukum salat, adab menggunakan pembatas, dan hukum orang yang berlalu di hadapan orang yang sedang salat.

Namun beliau memanggil Musa.

Ada pendidikan yang sangat indah di sini.

Imam tidak membiarkan anaknya hanya menjadi objek pembicaraan orang dewasa. Musa diberi ruang menjelaskan sendiri apa yang dilakukannya. Ia tidak disembunyikan di balik kewibawaan ayahnya.

Seorang ayah yang bijak tidak selalu berbicara menggantikan anaknya. Ia mengetahui kapan harus menjawab dan kapan harus memberikan kesempatan agar ilmu yang tersimpan dalam diri anaknya terlihat.

Imam Ja‘far bertanya dengan tenang. Tidak ada nada menyalahkan:

“Abu Hanifah mengatakan bahwa engkau melakukan hal ini.”

Musa pun menjawab bukan dengan kegelisahan seorang anak yang sedang membela diri. Ia menjawab dengan Al-Qur’an.

Siapakah yang dapat melintas antara manusia dan Allah?

Abu Hanifah melihat orang-orang berjalan di depan tubuh Musa.

Musa melihat Allah lebih dekat daripada seluruh orang yang berlalu.

Jawabannya bukan berarti orang-orang itu secara fisik tidak ada. Ia juga tidak mengatakan adab salat tidak penting. Ia sedang membongkar bayangan bahwa seseorang yang berjalan di depan orang salat dapat memutus hubungan antara hamba dan Tuhannya.

Salat bukan garis yang bergerak secara mendatar dari tubuh manusia menuju kiblat, lalu terpotong ketika seseorang melintas di hadapannya.

Salat adalah penghadapan hati kepada Allah.

Tidak seorang pun dapat berdiri di antara Allah dan hamba-Nya. Tidak ada tubuh yang cukup besar untuk menghalangi pengetahuan Allah. Tidak ada dinding yang dapat menjauhkan-Nya. Tidak ada manusia yang berjalan di depan kita dapat membuat Allah berhenti mendengar doa.

Sebab Allah bukan berada di balik orang yang berlalu itu.

Dia lebih dekat daripada urat leher.

Kedekatan yang bukan jarak

Ketika Al-Qur’an mengatakan Allah lebih dekat daripada urat leher, yang dimaksud bukan jarak fisik.

Allah tidak berada di dalam tubuh manusia. Dia tidak menempati ruang, tidak dibatasi arah, dan tidak mendekat sebagaimana satu benda mendekati benda lain.

Kedekatan Allah adalah kedekatan ilmu, kekuasaan, pemeliharaan, dan keberadaan yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya.

Manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Ia dapat menutup pintu, mematikan cahaya, dan merahasiakan isi hatinya.

Namun ia tidak pernah berada jauh dari Allah.

Bahkan sebelum sebuah pikiran menjadi kata, Allah telah mengetahuinya:

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.”

—QS. Qaf: 16

Barulah ayat itu melanjutkan:

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Maka kedekatan tersebut bukan hanya tentang tempat. Ia berbicara tentang ketidakmungkinan manusia keluar dari pengetahuan dan pemeliharaan Allah.

Musa bin Ja‘far memahami kedekatan itu ketika masih muda.

Orang-orang berlalu di depan matanya, tetapi tidak berlalu di dalam hatinya.

Salat yang mudah diputus

Banyak orang tidak membutuhkan seseorang berjalan di depan mereka untuk kehilangan salat.

Tubuhnya menghadap kiblat, tetapi pikirannya berjalan ke tempat lain.

Ia memikirkan pekerjaan, utang, percakapan yang belum selesai, orang yang dibenci, makanan yang akan disantap, atau pujian yang ingin diperoleh. Tidak ada seorang pun melintas di depan sajadahnya, tetapi puluhan urusan dunia berlalu di dalam pikirannya.

Secara fikih, salatnya mungkin tetap sah.

Namun secara batin, berapa banyak bagian salat yang benar-benar sampai kepada Allah?

Orang-orang yang berjalan di hadapan Musa tidak memutus perhatiannya karena ia mengetahui siapa yang sedang dihadapinya.

Sementara kita dapat salat sendirian di dalam kamar yang terkunci, tetapi dunia tetap ramai di dalam kepala.

Gangguan terbesar dalam salat bukan selalu sesuatu yang berada di depan mata.

Gangguan terbesar adalah sesuatu yang memperoleh tempat lebih besar di dalam hati daripada Allah.

Fikih dan ruh salat

Dalam fikih Ahlul Bait, sesuatu yang melintas di hadapan orang yang salat tidak membatalkan salatnya.

Imam Ja‘far pernah ditanya apakah sesuatu yang berjalan di depan seorang mukmin dapat memutus salatnya. Beliau menjawab:

“Tidak ada sesuatu pun yang memutus salat seorang mukmin. Namun cegahlah sebisa kalian.”

Karena itu, meletakkan sutrah—pembatas sederhana di depan tempat salat—dan menghindari lalu-lalang tetap termasuk adab penghormatan terhadap salat. Tetapi bila seseorang lewat, salat tidak menjadi batal.

Di sinilah keseimbangannya.

Adab lahiriah tetap dijaga.

Namun adab lahiriah tidak boleh melahirkan anggapan yang keliru tentang hubungan manusia dengan Allah.

Pembatas membantu menjaga ketertiban. Ia bukan dinding yang membuat Allah dapat dijangkau. Orang yang berlalu mungkin mengganggu konsentrasi, tetapi ia tidak mempunyai kekuasaan memutus hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Fikih menjaga bentuk salat.

Makrifat menghidupkan ruhnya.

Dan Musa bin Ja‘far memperlihatkan keduanya dalam satu jawaban.

Ilmu yang sambung-menyambung

Setelah mendengar jawaban putranya, Imam Ja‘far memeluknya dan berkata:

“Wahai tempat dititipkannya berbagai rahasia.”

Kalimat itu bukan sekadar pujian seorang ayah yang bangga kepada anaknya.

Ia merupakan pengakuan tentang sebuah mata rantai.

Ilmu yang berada pada Imam Ja‘far tidak akan berhenti bersamanya. Rahasia-rahasia pengetahuan Rasulullah akan diteruskan kepada Musa bin Ja‘far. Dari seorang imam kepada imam berikutnya, ilmu itu tidak disusun melalui dugaan yang saling bertentangan.

Ia diwariskan.

Musa tidak menunggu dewasa untuk menunjukkan sumber ilmunya. Ketika ditanya, ia langsung kembali kepada Al-Qur’an. Namun ayat yang dibacanya bukan sekadar hafalan. Ia menangkap ruh ayat dan menerapkannya pada keadaan yang sedang dihadapinya.

Inilah perbedaan antara anak yang menghafal ayat dan manusia yang menjadi tempat hidupnya ayat.

Abu Hanifah datang mempertanyakan tindakan seorang anak.

Imam Ja‘far justru memperlihatkan kepadanya calon imam yang membawa rahasia ilmu Ahlul Bait.

Lebih dekat daripada segala sesuatu

Jawaban Musa bin Ja‘far seharusnya mengubah cara kita berdiri dalam salat.

Kita sering memanggil Allah seolah-olah Dia jauh. Kita mengucapkan takbir, tetapi hati masih mencari kehadiran-Nya di suatu tempat yang tidak kita ketahui.

Padahal sebelum kita mengangkat tangan, Allah telah mengetahui apa yang hendak kita katakan.

Sebelum air mata jatuh, Dia mengetahui luka yang melahirkannya.

Sebelum permohonan tersusun menjadi kalimat, Dia mengetahui kebutuhan yang tidak mampu kita ungkapkan.

Salat bukan usaha membuat Allah mendekat.

Salat adalah usaha manusia menyadari bahwa Allah tidak pernah jauh.

Orang dapat berjalan di depan kita.

Dunia dapat bergerak di sekitar kita.

Suara dapat datang dari segala arah.

Namun jika hati telah menemukan Dia yang lebih dekat daripada urat leher, seluruh yang berlalu hanyalah sesuatu yang berlalu.

Ia tidak harus memasuki hati.

Abu Hanifah melihat seorang anak yang tidak mencegah manusia melintas di hadapannya.

Imam Ja‘far melihat sesuatu yang berbeda.

Beliau melihat seorang imam yang sejak muda telah mengetahui bahwa tidak seorang pun dapat melintas di antara seorang hamba dan Allah.

Lalu beliau memeluknya.

Satu mata rantai memeluk mata rantai berikutnya.

Dan ilmu Rasulullah terus berjalan—tanpa pernah terputus.

Dialog hanafi10

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

⸻

Catatan sumber:

Riwayat ini terdapat dalam al-Kāfī, jilid 3, halaman 297.
Al-Kulaini meriwayatkannya dari Ali bin Ibrahim secara marfū‘ kepada Muhammad bin Muslim; artinya, terdapat perawi yang tidak disebutkan dalam rangkaian sanad sehingga riwayat ini tidak dapat dinilai sahih berdasarkan sanadnya yang tampil. Lihat al-Kāfī, jilid 3, hlm. 297.

Terdapat riwayat lain dengan isi serupa dalam at-Tawhīd karya Syekh ash-Shaduq: Sufyan ats-Tsauri melihat Musa bin Ja‘far yang masih muda salat sementara orang-orang berlalu di hadapannya ketika tawaf, lalu memperoleh jawaban, “Dia yang menjadi tujuan salatku lebih dekat daripada mereka.”
Kesamaan kandungan ini memperkuat keberadaan tema tersebut dalam tradisi riwayat, tetapi tidak otomatis menyempurnakan sanad dialog Abu Hanifah.

Adapun ketentuan fikihnya dijelaskan dalam riwayat lain di halaman yang sama: sesuatu yang melintas tidak membatalkan salat, meskipun menggunakan pembatas dan mencegah orang melintas sebisa mungkin tetap termasuk adab serta penghormatan terhadap salat.
Riwayat-riwayat tersebut dihimpun kembali dalam Wasā’il al-Syī‘ah, jilid 3, hlm. 436.

Dialog hanafi10

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Cq9xd8mXF/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us