KETIKA KEMAJUAN DIJADIKAN TIRAI KEZALIMAN
Sejarah sering melakukan satu kekeliruan besar: ia menghubungkan kemajuan ilmu, kebudayaan, dan kemakmuran suatu zaman dengan kesalehan penguasa yang sedang bertakhta.
Padahal, perkembangan peradaban adalah hasil kerja panjang para ilmuwan, penerjemah, tabib, pemikir, pedagang, dan masyarakat lintas generasi—bukan milik pribadi seorang raja.
Karena itu, kemajuan yang terjadi pada masa Harun al-Rasyid tidak boleh dijadikan pembenaran atas kekuasaannya. Perpustakaan tidak dapat menghapus penjara.
Penerjemahan kitab tidak dapat menebus persekusi. Kemegahan Bagdad tidak dapat membatalkan penderitaan Imam Musa al-Kazim a.s. dan manusia-manusia lain yang menjadi korban politik dinasti.
Lima tulisan saya berikut berangkat dari satu prinsip moral yang tegas: kemajuan ilmu harus dihargai sebagai pencapaian peradaban, sedangkan kejahatan penguasa harus dicatat sebagai tanggung jawab penguasa.
Keduanya tidak boleh dicampurkan sehingga prestasi masyarakat berubah menjadi apologi bagi kezaliman istana.
Harun al-Rasyid boleh dikenang sebagai raja yang hidup pada masa berkembangnya Bagdad. Namun, ia juga harus diingat sebagai penguasa yang memenjarakan seorang Imam dari keturunan Rasulullah saw.
Sejarah yang jujur tidak memilih salah satunya. Ia mencatat keduanya, tetapi tidak membiarkan yang pertama menghapus yang kedua.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19ipzd6jLc/

