Hanya 50 tahun setelah Rasulullah saw wafat, terjadi peristiwa pembantaian keluarga rasul di Karbala. Kok bisa? Apa yang terjadi dengan umat Islam masa itu?

Apakah umat Islam sudah melupakan Nabi mereka, sehingga sampai terjadi tragedi pembantaian cucu beliau tersayang bersama keturunan Nabi yang lainnya?

Ya, para sejarawan Islam telah merekam betapa kondisi ajaran Islam dan umat Islam saat itu berada pada titik yang sangat kritis. Begitu banyak terjadi kemungkaran, merebaknya bid’ah-bid’ah dan penyimpangan yang merusak ajaran Rasulullah saw dalam masyarakat. Kerusakan umat Islam telah merebak di semua lapisan masyarakat.

Simak ungkapan Imam Ali as tentang kondisi saat itu:

“Aneh! Mereka melihat Sunnah Nabi mereka bertukar dan berubah sedikit demi sedikit, bab demi bab, kemudian mereka meridhoinya tanpa sembarang penentangan”.

“Malah mereka mempertahankannya pula. Mereka mencela orang yang mengkritik dan mengingkarinya. Kemudian kaum yang datang selepas kita akan mengikuti bid’ah-bid’ah tersebut sebagai sunnah Rasulullah saw”.

Lebih-lebih lagi, ketika Islam berada di bawah kepemimpinan Muawiyah. Dengan kekuasaan dan harta berlimpah, melalui para ulama yang menjadi pendukungnya, tentu dengan imbalan dinar yang melimpah … Muawiyah memerintahkan penulisan ribuan hadis palsu di kalangan umat Islam.

Ia juga memanfaatkan ajaran-ajaran akidah dan menggunakan siasat politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Ia menyebarkan pemahaman bahwa pemerintahannya merupakan karunia Allah dan qadha Ilahi. Ia menganggap memiliki kedudukan seperti “Nabi” bagi masyarakat Suriah, sebagai orang-orang saleh, sebagai pembela agama dan ahkamnya.

Hadis-hadis palsu tersebut tersebar ke seluruh penjuru negeri Islam. Salah satu target hadits-hadits palsu itu ialah menjadikan umat Islam tidak lagi mengenal keluarga suci Ahlulbait Nabi saw.

Masyarakat Islam di Syam, misalnya, begitu percaya bahwa Ahlulbait Nabi adalah Abu Sufyan dan keturunannya. Imam Ali as adalah seorang yang telah kafir dan Imam Ali wajib dilaknat di mimbar-mimbar mesjid selama sekitar 70 tahunan di seluruh penjuru negeri.

Sebagai gambaran saja, betapa dahsyat penyesatan ajaran Islam saat itu, sehingga bahkan umat Islam benar-benar tidak lagi mengenal keluarga Nabi, tercermin dari peristiwa berikut ini:

Kejadiannya terjadi saat Imam Ali Zainal Abidin as, yang sedang dibawa ke istana Yazid … Di perjalanan itu, seorang lelaki tua mendekati Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membinasakan kalian dan memenangkan pemimpin kami”

Imam Ali Zainal Abidin as tahu bahwa orang tua ini tidak tahu sebenarnya peristiwa yang terjadi. Kepadanya beliau bertanya, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an ?”

Apakah engkau baca firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta balasan dari kalian kecuali kecintaan (mawaddah) kalian kepada keluargaku ?”

Dan firman Allah, “Penuhilah hak keluarga (Rasul)”, serta firman Allah, “Dan ketahuilah, sesungguh nya pada rampasan perang kalian terdapat seperlima hak Allah Swt, rasul-Nya dan keluarganya ?”

“Ya” jawab lelaki tua tersebut.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Demi Allah, kamilah keluarga Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut”.

Beliau melanjutkan pertanyaannya, “Apakah engkau membaca firman Allah, “Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kotoran (rijz) dari kalian hai Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya ?”

“Ya” jawab lelaki tua itu.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Kamilah Ahlulbait itu wahai bapak tua”.

Dengan terkejut bapak tua itu berkata, “Bersumpahlah demi Allah, bahwa kalianlah yang disebut ayat-ayat tadi”.

Beliau menjawab, “Demi Allah, kamilah mereka itu, demi kakek kami Rasulullah, kamilah yang dimaksud ayat itu”.

Lelaki tua itu sangat menyesal dan akhirnya bersujud mohon ampun dan bertaubat, “Aku berlepas diri kepada Allah dari orang-orang yang memerangi kalian”.

****

Kebenaran menjadi samar oleh kotornya hati yang tergerus nafsu duniawi. Saat itu, banyak para sahabat Nabi yang telah dibutakan mata hatinya oleh kepalsuan duniawi.

Nabi saw juga pernah mensinyalir akan hal ini: “Setelah kematianku, Aku tidak khawatir kalian akan jatuh dalam kemusyrikan, tapi aku takut kalian saling berebut dunia satu sama lain”.

Apa telah yang diprediksi oleh Nabi saw tentang perilaku para sahabat sepeninggal beliau bisa kita simak dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ja’far Shodiq as :

Imam Shodiq as meriwayatkan dari leluhur-leluhur beliau as bahwa, Rasul saw bersabda, “Semua yang terjadi pada umat-umat terdahulu tentunya akan terjadi pada umat ini dengan cara yang sepenuhnya identik dan persis sama”. (Kamal ad-Din).

Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya kamu akan mengikuti adat istiadat orang-orang sebelum kamu, dengan cara yang sepenuhnya identik dan sama, kamu tidak akan menyimpang dari jalan mereka, kamu akan meniru mereka dengan persis (dengan setiap cara yang dapat dibayang kan) jengkal demi jengkal, tangan demi tangan, lengan demi lengan, sedemikian rupa sehingga jika seorang dari umat terdahulu memasuki sarang iguana (biawak) maka kamupun akan memasukinya”.

Mereka bertanya : “Apakah maksud Anda mereka adalah kaum Yahudi dan Kristiani, wahai Rasulullah ?”

Beliau saw bersabda : “Siapa lagi yang aku maksud ?” Tentu saja kamu akan mengurai tali Islam untai demi untai.

Hal pertama yang akan kamu hancurkan dari agamamu adalah yang berupa “sifat dapat dipercaya” dan yang terakhirnya adalah “shalat”. (At-Tafsir, Al-Qummi).

At-Tirmidzi meriwayatkan Nabi saw bersabda, “Demi Dia yang ditangan-Nya jiwaku berada, sesungguhnya kamu akan mengikuti adat istiadat orang-orang sebelum kamu”

Dalam riwayat lain ada tambahan, “Dengan cara yang sepenuhnya identik dan persis sama, sedemikian rupa sehingga jika ada diantara mereka seseorang yang hidup bersama sebagai suami isteri dengan ibunya sendiri, maka seseorang diantara kamu juga akan melakukan demikian. Tetapi aku tidak tahu apakah kamu akan menyembah anak lembu atau tidak”.

****

Lalu, setelah Muawiyah mati, Yazid pun meneruskan kekuasan kerajaan Bani Umayyah. Sekalipun ia tidak layak menjadi khalifah, namun dengan berbagai teror yang begitu menakutkan, menyebabkan para tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat memilih “membiarkan kezaliman” terjadi, membisu atas beragam kemungkaran yang merajalela karena takut kepada penguasa dzolim Bani Umayah.

Terbukti dari “nasehat” mereka agar Imam Husein as membatalkan perjuangannya. Mayoritas ulama dan tokoh masyarakat seperti Abdullah bin Umar bin Khattab (Ibnu Umar) memilih tutup mata demi keamanan harta dan keluarga mereka, lalu membai’at Yazid.

Masyarakat awam yang berada dalam kondisi tertekan, akhirnya hanya bisa berusaha menyelamatkan diri sendiri. Ya, mayoritas umat memilih diam.

Ajaran Islam hakiki berada dalam bahaya besar. Apabila tidak dilakukan sesuatu yang dampaknya abadi, yang efeknya sangat-sangat luar biasa … maka Islam hakiki benar-benar akan lenyap.

Imam Husein as dapat membaca situasi kondisi umat Islam saat itu betul-betul berada pada titik paling kritis. Islam berada dalam kondisi bahaya, di titik persimpangan.

Kondisi umat seperti ini, apabila dibiarkan … maka Islam bisa punah.

Karena itu, Imam Husein as hanya memiliki satu jalan, yaitu bangkit membangunkan umat yang “tertidur”, menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan menyeru para sahabatnya untuk berjihad menentang tirani dan kezaliman … sekalipun syahid yang menjadi taruhannya.

Ya, satu-satunya jalan yang tersisa, demi agar Islam tetap hidup dan abadi, ialah pengorbanan Imam Husein as.

Imam Husein as berkata : “Jika orang seperti aku ini berbai’at kepada manusia fasik semacam Yazid, maka ucapkan selamat tinggal Islam. Islam yang dibangun oleh kakekku Muhammad dengan keringat dan darah akan hilang dari muka bumi ini. Lebih baik mati mulia daripada hidup dalam kehinaan dengan membai’at Yazid”.

“Jika diriku harus terbunuh menjadi tumbal demi tegaknya Islam Muhammad, maka wahai pedang-pedang inilah aku, cincang-cincanglah aku”.

Ya, inilah tujuan Imam Husein as.

Beliau as juga berkata :
“Aku tidak keluar (ke Karbala) untuk kejelekan atau kesia-siaan atau kerusakan atau sebagai orang yg zalim. Akan tetapi aku keluar untuk memperbaiki umat kakekku Muhammad saw”.

Imam Husein as sadar betul, hanya dengan syahidnya beliau dan keluarganya … kebangkitan Islam akan terus bersinar. Dan Imam Husein as siap mengorbankan semuanya … demi tetap tegaknya Islam.

****

Kemudian ternyata memang terbukti, revolusi Imam Husein as inilah yang terus membara sampai hari ini, hingga nanti munculnya Imam Mahdi as.

Karena itu … di titik inilah kita dapat memahami pernyataan Rasul saw, “Husein dariku dan aku dari Husein.”

Husain minni wa ana min al-Husain.
(Sunan al-Turmudzi, hadis nomor 2970).

Al-Husain jelas dari Rasulullah Saw, ya memang karena ia keturunan Sang Nabi. Tapi apa makna “dan aku dari Husain”?

Frasa kalimat “Aku dari Husein” hanya dapat dimaknai bahwa ajaran Rasul saw (Islam) tetap hidup abadi karena pengorbanan agung Al Husein as.

Yassin Al-Jibouri menafsirkannya sebagai berikut. Nabi Saw adalah perwujudan Islam. Nabi adalah manifestasi Islam seluruhnya.

Ketika Nabi menyampaikan hadits itu, Nabi Saw tahu bahwa keberlangsungan agama Islam yang dibawanya hanya akan tegak sampai hari kiamat melalui Al-Husain.

Ya … syahadah Imam Husain di Karbala-lah yang menyelamatkan Islam.

Benar kiranya, kita dan setiap muslim sekarang ini telah berhutang terima kasih kepada Imam Husein as.

DAMPAK REVOLUSI IMAM HUSEIN

Tragedi Asyuro pun terjadilah sebagai ketetapan Allah swt dan telah ditulis dalam sejarah sehingga akhirnya sampai ke tangan kita setelah ribuan tahun berlalu.

Ini sungguh sebuah mujizat sebenarnya. Padahal Yazid berusaha keras membungkam dan menutupi peristiwa ini dari masyarakat luas.

Yang terjadi malah terbalik … gaungnya terus membesar menerobos batas negeri menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Hal ini diawali oleh sosok saksi mata yang mengalami langsung penderitaan rombongan keluarga Nabi saw itu. Dialah seorang wanita orator ulung sebagai juru bicara yang berorasi di sepanjang perjalanan sampai tiba di istana Yazid, membuka kedok kebusukan Yazid dimata umat Islam di Syam yang menyambut kedatangan tawanan perang pemberontak.

Dialah srikandi Karbala, Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Zainab menjadi pelindung, pengasuh yang melayani para aggota rombongan tawanan keluarga Nabi saw di sepanjang perjalanan sambil menerima siksaan dari para pasukan pengawal.

Diantara tawanan lelaki yang tersisa dari putra Imam Husein as adalah Imam Ali bin Husain Zainal Abidin as dan putranya yg masih kecil Muhammad bin Ali Al Baqir.

Zainab binti Ali bin Abi Thalib bersama Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as dengan kefasihan lisan ayah dan kakeknya Ali bin Abi Thalib mengagetkan semua yang hadir ketika berorasi di mimbar istana dihadapan Yazid bin Muawiyah, membongkar kebiadaban Yazid terhadap mereka keluarga Nabi saw, di saat Yazid bersama jajaran petinggi Bani Umayah berpesta pora merayakan kemenangan atas kematian Imam Husein as.

Warga Syam sontak tersadar dan menyesal selama ini telah dibohongi oleh rekayasa Yazid. Kini mereka baru tahu, kepala yang diarak itu adalah kepala Imam Husein as cucu Rasulullah dan kerabat serta pengikutnya.

Sekalipun Yazid berusaha berlepas diri dari tanggung jawab dengan menuduh Ibnu Ziyad sebagai pembunuhnya, seorang pasukan Umar bin Sa’ad malah membuka kebohongannya dengan menyebutkan bahwa pembunuhan itu karena perintah Yazid.

Masyarakat Syam marah kepada Yazid sehingga akhirnya Yazid ketakutan kalau-kalau rakyat berontak. Akhirnya ia segera membebaskan para tawanan keluarga Rasulullah saw, dan menyetujui permintaan Ali Zainal Abidin yaitu :
– Menyerahkan kembali kepala Imam Husein as, untuk dikuburkan bersama jasad beliau di Karbala,
– Mengembalikan semua barang-barang yang telah dirampas oleh para pasukan,
– Dan Yazid pun menghapus hukuman mati untuk Ali Zainal Abidin sehingga dia sendiri yang mengawal kepulangan keluarganya ke Madinah.

Sungguh Yazid tidak menyangka jika kematian Imam Husein as bukannya akan menghapus jejak Ahlulbait Rasulullah saw dari pikiran masyarakat tetapi ternyata justru malah meningkatkan rasa simpati masyarakat kepada Ahlulbait Rasulullah saw.

Tanpa ada kesaksian Zainab dan Ali Zainal Abidin, bisa dipastikan “tragedi Asyuro” akan terkubur ditelan waktu dibawah upaya masif otoritas umat yang berkuasa untuk menghilangkan jejak-jejak Ahlulbait Rasulullah saw.

Artinya Islam Muhammadi yang diajarkan oleh para Imam Ahlulbait as akan terhapus di muka bumi ini. Umat Islam tidak akan ada yang mengenal lagi Ahlulbait Rasulullah saw, dan sebagai gantinya yang ada adalah Islam Bani Umayah, Islam teror yang menyimpang dan menghancurkan ruh ajaran Islam Muhammad.

Bahkan sampai sekarang upaya masif dari kelompok musuh Ahlulbait as untuk menguburkan dan menghilangkan “tragedi Asyuro” dari memori umat Islam masih terjadi di masyarakat muslim di seluruh dunia.

***

Sementara itu, di Madinah, terjadi kegemparan luar biasa, ketika penduduk mendapat khabar kembalinya keluarga Rasulullah saw. Ribuan orang, sanak keluarga keturunan Rasulullah saw berbaur menyongsong dengan isak tangis pilu.

Keluarga Imam Husein as kemudian menuju pusara suci Rasulullah saw dan menumpahkan kerinduan kepada beliau saw sambil mengadukan penderitaan mereka, mengadukan perlakuan umat kepada mereka.

Sejak saat itu menyebarlah cerita peristiwa tragis Karbala ke penjuru negeri. Masyarakat Madinah begitu marah sehingga mencabut bai’at kepada Yazid.

Umat Islam mulai “terbangun” dari tidurnya. Perlawanan kepada Bani Umayah merebak dimana-mana.

Untuk meredam perlawanan masyarakat, Yazid semakin brutal bertindak. Madinah dihancurkan dengan kejam selama 3 hari. Pembunuhan sadis, pemerkosaan dan penjarahan terjadi di kota Rasulullah saw tersebut. Lalu bahkan juga Baitullah di kota Mekah dihancurkan dengan panah api.

Zainab yang dianggap sebagai penyebar berita tragedi Asyuro, diasingkan oleh Yazid ke Mesir, sampai wafat dan dimakamkan di sana.

Imam Ali Zainal Abidin as diawasi dengan ketat tidak boleh bertemu dengan pengikut beliau. Beliau as akhirnya berdakwah lewat do’a-do’a beliau yang termashur “Shahifah Sajjadiyyah” sampai kesyahidan beliau akibat diracun kalifah penerus Bani Umayah.

Rupanya Allah Swt menyegerakan hukuman untuk Yazid. Selama penyerangan pasukannya ke Ka’bah, di Syam Yazid tewas mengenaskan terkena tetanus digigit oleh kera peliharaannya sendiri.

Berakhirlah era kekuasaan teror Yazid bin Muawiyah, tetapi teror terhadap pengikut Ahlulbait as tidak akan pernah berhenti.

Kalifah Bani Umayah penerus Yazid terus melakukan kekejaman dan teror terhadap umat Islam khusus nya para pengikut Ahlulbait Nabi saw yang dianggap penghalang terhadap kelanggengan kekuasaan dzalim penguasa.

Sampai kekuasaan beralih ke Bani Abassiyah, para Imam Ahlulbait as tetap dipandang sebagai musuh yang menjadi penghalang kekuasaan mereka.

Akibatnya … keterasingan umat terhadap Ahlulbait berlanjut secara turun temurun ke generasi ke generasi penerus umat Islam. Bahkan sampai masa kini. Hal ini karena mayoritas otoritas umat Islam masih merupakan kelanjutan dan kepanjangan pengikut Bani Umayah atau Usmaniyah.

***

Tetapi perjuangan melawan kedzoliman para penguasa tiran tetap berlanjut sampai sekarang. Pengorbanan Imam Husein as menjadi inspirasi global yang mendunia, untuk terus berjuang melawan Yazid-Yazid masa kini yang masih berkeliaran.

Panggilan Imam Husein as di akhir hayat beliau di padang Karbala, ”Wahai manusia, adakah yang mau menolong aku?” kini mendapat sambutan jutaan manusia yang berdatangan menziarahi beliau di Karbala.

Labaika ya Husein . . . kami memenuhi panggilanmu . .
Labaika ya Husein . . .

Salam untukmu ya Husein.