Pedang itu keluar dari sarungnya.
Cahaya melintas di sepanjang bilah. Beberapa orang menoleh. Di tangan lelaki yang menggenggamnya, sepotong besi dapat membuat seorang lawan mempertimbangkan kembali keberaniannya.
Namun, kali ini Ali datang membawa sebuah keperluan.
“Siapa yang hendak membeli pedangku ini?”
Bayangkan kesibukan di sekelilingnya perlahan kehilangan suara. Langkah tertahan. Pandangan berpindah dari bilah pedang menuju tangan pemiliknya, kemudian naik ke wajah lelaki yang berdiri di hadapan mereka.
Ali bin Abi Thalib.
Amirul Mukminin.
Menawarkan pedangnya.
Ada pertanyaan yang terasa terlalu berat untuk segera diucapkan. Untuk apakah beliau menjualnya? Keperluan sebesar apakah yang membuat pedang itu dibawa keluar untuk berpindah tangan?
Ali sendiri memberikan jawabannya.
“Demi Allah, sekiranya aku mempunyai uang untuk membeli sehelai izar, aku tidak akan menjualnya.”
Sehelai kain untuk dikenakan.
Begitu sederhana kebutuhannya. Begitu dalam kalimat itu jatuh ke dalam dada.
—
Di hadapan pemandangan semacam ini, manusia mungkin tergoda untuk menatap pedangnya lebih lama.
Mencermati besinya. Memperkirakan harganya. Membayangkan betapa berharganya memiliki sesuatu yang pernah berada dalam genggaman Ali.
Tetapi semakin lama kita memandang, semakin terasa bahwa yang sedang diperlihatkan kepada kita jauh melampaui sebuah benda.
Ada seorang pemimpin yang mengungkapkan kebutuhannya dengan terus terang.
Ia tidak menyembunyikan keadaan itu di balik kebesaran gelar. Ia juga tidak membungkusnya dengan penjelasan panjang agar orang lain tetap menganggapnya terhormat.
Ia membutuhkan pakaian.
Ia mempunyai pedang yang dapat dijual.
Maka ia membawanya.
Betapa tegak seseorang dapat berdiri ketika kehormatannya tidak ditentukan oleh banyaknya uang di tangannya.
Dalam adegan itu, Ali seakan meletakkan sebuah pertanyaan di hadapan seluruh penguasa yang akan datang sesudahnya:
Ketika kebutuhanmu tiba, milik siapakah yang pertama kali engkau sentuh?
Pertanyaan itu tidak memerlukan suara keras.
Cukup seorang lelaki. Sebuah pedang. Dan pengakuan bahwa ia belum mempunyai uang untuk sehelai kain.
—
Lalu seseorang menyahut.
Ia menyapa beliau dengan panggilan yang justru membuat pemandangan itu semakin menggetarkan.
“Wahai Amirul Mukminin…”
Pemimpin kaum beriman.
Panggilan itu berada di udara bersama kebutuhan yang baru saja diucapkan Ali. Betapa jauh jangkauan sebuah jabatan; betapa sederhana keperluan tubuh yang menyandangnya.
Orang itu menawarkan jalan keluar: ia akan menjual kain kepada Ali, sementara pembayarannya dapat ditangguhkan sampai jatah pemberian beliau diterima.
Kita dapat membayangkan sebuah tangan yang tadinya bersiap menimbang harga pedang, kini menawarkan kepercayaan.
Sebuah kebutuhan mendapat jawaban.
Dan di situlah kisah ini seolah dapat ditutup. Seorang pemimpin membutuhkan pakaian. Seorang lelaki memberinya kelonggaran. Ketegangan pun mereda.
Namun, riwayat itu masih menyimpan satu kalimat.
Kalimat pendek yang membuat seluruh peristiwa ini berdiri lebih tinggi.
—
Waktu berlalu.
Jatah pemberian Ali kemudian diterima.
Bayangkan kembali orang yang pernah menawarkan kelonggaran itu. Urusan sehari-hari mungkin telah membawanya kepada banyak kesibukan lain. Tetapi ada haknya yang masih berada dalam tanggungan Ali.
Di titik ini, kebesaran seseorang diuji dengan cara yang sangat sunyi.
Sebuah janji pernah diberikan. Pembayarannya ditangguhkan. Kini waktunya telah tiba.
Orang itu kemudian menuturkan bahwa ketika pemberian Ali keluar, Ali membayarnya.
Demikian sederhana akhir peristiwanya.
Tidak ada utang yang berubah menjadi hadiah hanya karena pembelinya seorang pemimpin. Tidak ada kelonggaran yang dibiarkan menggantung sebagai sesuatu yang harus dimaklumi oleh rakyat kecil.
Hak orang itu ditunaikan.
Dan justru di sanalah dada kita terasa sesak.
Sebab mudah mengagumi seseorang ketika ia berdiri di hadapan pasukan. Mudah terpesona oleh keberanian yang disaksikan ribuan mata. Tetapi kehidupan juga mempunyai ujian yang hanya melibatkan dua orang: seseorang yang berutang dan seseorang yang menunggu haknya kembali.
Ali hadir dengan keutuhan yang sama.
Kebutuhan tidak meruntuhkan martabatnya.
Jabatan tidak mengecilkan kewajibannya.
Kepercayaan seseorang ia jawab dengan pelunasan.
—
Sehelai kain akhirnya membawa kita melihat sesuatu yang lebih luas daripada pasar, lebih panjang daripada perjalanan sebuah pedang, lebih dalam daripada kesan pertama tentang kesederhanaan.
Kita melihat seorang manusia yang bersedia menyatakan, aku belum mempunyai uang, tanpa kehilangan kebesarannya.
Kita melihat seseorang yang menerima kelonggaran, kemudian memenuhi tanggungannya ketika mampu.
Dan kita melihat betapa kekuasaan dapat berada di tangan seseorang tanpa membuat hak orang lain terasa remeh baginya.
Kini bayangkan sekali lagi awal kisah itu.
Ali berdiri.
Pedang berada dalam genggamannya.
Orang-orang mendengar pertanyaan tentang siapa yang bersedia membelinya.
Mereka mungkin datang mendekat untuk melihat sebuah pedang.
Tetapi berabad-abad kemudian, kita masih berdiri di hadapan adegan yang sama, dengan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mengguncang:
Jika untuk sehelai kain saja ia begitu menjaga hak orang lain, bagaimana mungkin kita merasa cukup hanya mengagumi Ali—tanpa belajar mengikuti dirinya?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Kisah penawaran pedang, kebutuhan akan izar, penjualan dengan pembayaran tertunda, dan pelunasannya tercantum dalam beberapa jalur di Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu‘aim, jilid 1, hlm. 83–84. Narasi ini tidak menetapkan pedang tersebut sebagai Dzulfiqar. Gambaran cahaya, suasana, dan gerak orang merupakan dramatisasi; percakapan disampaikan dalam terjemahan makna
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CQncaxmG2/

