Mina dipenuhi manusia.
Mereka baru saja meninggalkan Arafah dan Muzdalifah. Talbiyah, doa, takbir, langkah kaki, serta debu perjalanan memenuhi tanah suci. Rasulullah SAW telah melempar tujuh kerikil di Jamrah Aqabah, lalu bergerak menuju tempat penyembelihan.
Hari itu adalah Hari Nahr—hari kurban dalam Haji Wada’.
Haji terakhir Rasulullah SAW.
Di hadapan beliau berdiri seratus ekor unta yang akan dipersembahkan sebagai hadyu—kurban yang dibawa menuju Tanah Haram sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Seratus unta itu datang dari dua arah.
Sebagian dibawa Rasulullah SAW dari Madinah. Sebagian lainnya dibawa Ali bin Abi Thalib ketika kembali dari Yaman. Dalam hadis panjang tentang Haji Wada’, Jabir bin Abdullah menjelaskan:
“Jumlah keseluruhan hadyu yang dibawa Ali dari Yaman dan yang dibawa Rasulullah adalah seratus ekor.”
Jadi bahkan sebelum penyembelihan dimulai, ibadah itu telah mempertemukan persembahan Rasulullah dan Ali dalam satu kumpulan yang sama.
Rasulullah SAW kemudian berdiri di tempat penyembelihan.
Beliau tidak sekadar menyuruh orang lain melakukannya. Tidak hanya duduk menyaksikan. Dengan tangannya sendiri, Rasulullah menyembelih unta-unta tersebut satu demi satu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jumlahnya terus bertambah hingga mencapai enam puluh tiga ekor.
Sebagian ulama melihat angka enam puluh tiga sebagai isyarat jumlah usia Rasulullah SAW. Namun hadis sendiri tidak menjelaskannya demikian. Yang pasti, di penghujung kehidupan beliau, enam puluh tiga ekor unta itu disembelih langsung oleh tangan manusia termulia.
Setelah unta yang keenam puluh tiga, Rasulullah berhenti.
Masih tersisa tiga puluh tujuh ekor.
Di sekeliling beliau terdapat banyak sahabat. Ribuan orang sedang melaksanakan haji. Jika hanya membutuhkan tenaga untuk menyelesaikan penyembelihan, Rasulullah dapat menyerahkannya kepada siapa saja.
Namun beliau tidak menyerahkannya kepada sembarang orang.
Rasulullah menyerahkan sisanya kepada Ali bin Abi Thalib.
Hadis Jabir menyatakan dengan sangat jernih:
“Kemudian beliau memberikannya kepada Ali. Ali pun menyembelih sisanya, dan Rasulullah menyertakan Ali dalam hadyu beliau.”
Redaksi Arabnya bahkan lebih kuat:
وَأَشْرَكَهُ فِي هَدْيِهِ
“Dan beliau menyertakan Ali dalam kurbannya.”
Bukan hanya menyuruh Ali membantu.
Bukan sekadar meminta Ali menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Rasulullah menyertakan Ali dalam hadyu beliau.
Perhatikanlah bahasa perbuatan itu.
Enam puluh tiga ekor disembelih oleh tangan Rasulullah. Sisanya diserahkan kepada tangan Ali. Ibadah yang dimulai oleh Muhammad diselesaikan oleh Ali.
Ali tidak berdiri di luar ibadah Rasulullah.
Ali dimasukkan ke dalamnya.
Ali mengambil alat penyembelihan itu dan melanjutkan apa yang telah dimulai Rasulullah SAW.
Enam puluh empat.
Enam puluh lima.
Satu demi satu unta yang tersisa disembelih hingga jumlahnya genap seratus.
Tangan Ali tidak menggantikan tangan Rasulullah.
Tangan Ali meneruskan amanah dari tangan Rasulullah.
Di situlah letak keindahannya.
Dalam kehidupan Rasulullah, Ali memang selalu hadir sebagai penerus pekerjaan yang tidak boleh terputus.
Ketika Rasulullah meninggalkan Madinah dalam Perang Tabuk, Ali yang dipercayakan menjaga kota dan keluarga beliau.
Ketika benteng Khaibar harus ditaklukkan, panji diberikan kepada Ali.
Ketika Surah Bara’ah harus disampaikan kepada kaum musyrik, Ali yang diutus menggantikan pembawa sebelumnya.
Ketika utang dan amanah Rasulullah harus ditunaikan, Ali yang diperintahkan menyelesaikannya.
Dan pada Haji Wada’, ketika kurban Rasulullah masih tersisa, Ali yang melanjutkannya.
Ini bukan satu peristiwa yang berdiri sendiri.
Ini adalah pola.
Muhammad memulai.
Ali menyelesaikan.
Muhammad memberikan amanah.
Ali menunaikannya.
Muhammad menunjuk.
Ali tidak pernah ragu.
Namun kisah ini tidak berhenti pada penyembelihan.
Setelah seluruh hadyu disembelih, Rasulullah SAW memerintahkan agar diambil sepotong daging dari setiap unta.
Bayangkan.
Seratus ekor kurban.
Dari masing-masingnya diambil satu bagian. Semua potongan itu dikumpulkan ke dalam sebuah periuk, kemudian dimasak bersama.
Setiap kurban terwakili di dalamnya.
Yang disembelih oleh Rasulullah ada di sana.
Yang disembelih oleh Ali juga ada di sana.
Ketika daging itu telah matang, Rasulullah dan Ali duduk bersama.
Keduanya memakan daging tersebut.
Keduanya meminum kuahnya.
Adegan ini tampak sederhana. Tidak ada pidato. Tidak ada panji-panji. Tidak ada pengumuman di hadapan manusia.
Hanya Rasulullah dan Ali menikmati daging dari kurban yang mereka selesaikan bersama.
Namun justru dalam kesederhanaan itu terdapat kedekatan yang sulit disembunyikan.
Rasulullah tidak memisahkan bagian yang disembelihnya dari bagian yang disembelih Ali. Semua dihimpun dalam satu periuk.
Dagingnya dimakan bersama.
Kuahnya diminum bersama.
Ibadahnya satu.
Amanahnya berlanjut.
Kebersamaannya sempurna.
Haji Wada’ biasanya dikenang melalui khutbah Rasulullah di Arafah, larangan riba, kehormatan darah dan harta, serta kesaksian umat bahwa beliau telah menyampaikan risalah.
Semua itu benar.
Namun di antara lautan manusia dan besarnya peristiwa Haji Wada’, terdapat sebuah pemandangan yang sering luput dibicarakan:
Rasulullah menyerahkan sisa kurbannya kepada Ali, menyertakan Ali dalam hadyunya, kemudian memakan daging dan meminum kuahnya bersama Ali.
Mengapa Ali?
Mengapa pada salah satu ibadah terakhir dan terbesar Rasulullah, Ali kembali ditempatkan di sisi beliau?
Mengapa pekerjaan yang dimulai tangan Rasulullah diselesaikan oleh tangan Ali?
Orang boleh mengatakan bahwa ini hanyalah pembagian pekerjaan.
Tetapi hadis tidak berhenti dengan mengatakan Ali sekadar menyembelih sisanya. Hadis secara khusus menambahkan:
“Rasulullah menyertakan Ali dalam hadyu beliau.”
Kalimat itu tidak dibutuhkan jika Ali hanyalah seorang pekerja penyembelihan.
Ali bukan sekadar orang yang membantu.
Ia adalah orang yang disertakan.
Ada perbedaan besar antara diminta bekerja dan disertakan dalam persembahan.
Seorang pekerja hanya menyelesaikan tugas.
Seseorang yang disertakan memperoleh bagian dalam makna, kehormatan, dan ibadah tersebut.
Kedekatan Rasulullah dan Ali tidak selalu dinyatakan melalui kalimat panjang. Kadang-kadang ia berbicara melalui tindakan.
Melalui panji yang diserahkan.
Melalui pintu yang dibiarkan terbuka.
Melalui posisi di Mubahalah.
Melalui tangan yang diangkat di Ghadir Khumm.
Dan melalui tiga puluh tujuh ekor unta yang penyembelihannya dipercayakan kepada Ali dalam Haji Wada’.
Orang dapat memperdebatkan kata-kata.
Namun sulit memperdebatkan pola perbuatan yang terus berulang.
Setiap kali terdapat amanah besar, Ali berada di sana.
Setiap kali tugas itu menyangkut kelanjutan pekerjaan Rasulullah, Ali berada di sana.
Setiap kali Rasulullah membutuhkan seseorang yang tidak akan mundur, menunda, atau mengubah perintah, Ali berada di sana.
Pada Hari Nahr itu, Rasulullah SAW seakan memperlihatkan sesuatu dengan bahasa yang sangat sederhana:
Apa yang dimulai tanganku, diselesaikan tangan Ali.
Apa yang menjadi kurbanku, Ali kusertakan di dalamnya.
Apa yang telah kami persembahkan, kami makan bersama.
Inilah Ali.
Kedekatannya kepada Rasulullah bukan kedekatan seremonial. Bukan pula kemuliaan yang dibangun oleh pengikutnya berabad-abad kemudian.
Kedekatan itu tercatat dalam perbuatan Rasulullah sendiri.
Di Mina, pada Haji Wada’, amanah kurban berpindah dari tangan Muhammad ke tangan Ali—bukan untuk mengambil alih, melainkan untuk menyempurnakan.
Dan setelah menyaksikan bagaimana Rasulullah terus-menerus mempercayakan penyelesaian amanahnya kepada Ali, pertanyaan itu kembali berdiri di hadapan kita:
Kenapa tidak mengikuti Ali?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Sumber:
Hadis panjang Jabir bin Abdullah mengenai Haji Wada’ dalam Shahih Muslim no. 1218a. Riwayat ini sampai melalui Imam Ja‘far ash-Shadiq dari ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir, dari Jabir.
Teks hadis menyatakan total hadyu Rasulullah dan Ali seratus ekor; Rasulullah menyembelih 63, Ali menyelesaikan sisanya, lalu keduanya memakan daging dan meminum kuahnya. “Teks Shahih Muslim 1218a” dan “teks Arab lengkap beserta sanadnya”
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CYmqmvb1t/

