Dalam tradisi Ahlul Bait, Doa Kumail dikenal sebagai Doa Khidir as, yang diajarkan Amirul Mukminin Ali as kepada Kumail bin Ziyad.
Teks Doa Kumail
> وَكَمْ مِنْ فَادِحٍ مِنَ الْبَلَاءِ أَقَلْتَهُ
Wa kam min fādiḥin mina al-balā’i aqaltah.
“Dan betapa banyak bala berat yang telah Engkau singkirkan.”
Kata fādiḥ menunjuk pada sesuatu yang sangat berat, membebani, atau berpotensi menghancurkan. Sementara aqaltah mengandung makna mengangkat, membatalkan, melepaskan, atau meringankan beban tersebut.
Tema utama
Manusia mengingat musibah yang benar-benar menimpanya, tetapi tidak mampu menghitung berapa banyak bala yang telah Allah jauhkan, ringankan, atau hentikan sebelum mencapai bentuknya yang paling berat.
Pada Bagian 15, kita membahas dosa yang dapat menurunkan bala. Penggalan ini mengarahkan pandangan kepada sisi berbeda: Allah juga menyingkirkan banyak bala melalui rahmat-Nya.
Namun kita tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap penderitaan merupakan hukuman. Bala dapat menjadi ujian, pendidikan, penyucian, atau jalan peningkatan derajat. Para nabi dan manusia-manusia suci pun mengalami ujian berat.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Anbiya 21:83–84
> وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ
“Dan ingatlah Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya kesusahan telah menyentuhku, dan Engkaulah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.’ Maka Kami menjawabnya dan menyingkirkan kesusahan yang menimpanya.”
Nabi Ayyub as tidak mendikte bentuk pertolongan. Ia menyebut penderitaannya, lalu menyebut kasih sayang Allah. Jawaban datang dengan disingkirkannya kesusahan tersebut.
- QS Al-An‘am 6:17
> وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ
“Jika Allah membiarkan suatu kesusahan menyentuhmu, tidak ada yang dapat menyingkirkannya selain Dia.”
Ayat ini tidak melarang manusia mencari dokter, pertolongan, atau jalan keluar. Semua itu merupakan sebab. Namun kemampuan sebab-sebab tersebut menghasilkan pertolongan tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-7 Ash-Shahīfah as-Sajjādiyyah, dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as:
> يَا مَنْ تُحَلُّ بِهِ عُقَدُ الْمَكَارِهِ
وَيَا مَنْ يَفْثَأُ بِهِ حَدُّ الشَّدَائِدِ
وَيَا مَنْ يُلْتَمَسُ مِنْهُ الْمَخْرَجُ إِلَىٰ رَوْحِ الْفَرَجِ
“Wahai Dia yang dengan-Nya simpul-simpul kesulitan diurai; yang dengan-Nya ketajaman penderitaan ditumpulkan; dan dari-Nya jalan keluar menuju kelapangan dicari.”
Doa tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada kesulitan yang dapat tertolak kecuali yang Allah tolak dan tidak ada kesusahan yang tersingkap kecuali yang Allah singkapkan.
Kerangka pembahasan
- Makna bala yang berat dan membebani.
- Tidak setiap bala merupakan hukuman atas dosa.
- Pertolongan dapat berupa pengangkatan, peringanan, atau kekuatan untuk bertahan.
- Manusia hanya mengetahui sedikit dari bahaya yang dijauhkan darinya.
- Sebab-sebab duniawi tetap digunakan, tetapi hasil akhirnya berada pada Allah.
- Mengingat pertolongan lama menumbuhkan keberanian menghadapi kesulitan baru.
- Syukur tidak hanya diberikan setelah sembuh, tetapi juga selama bertahan.
Pembuka syarah
Manusia mudah mengingat musibah yang datang. Ia mengingat tanggalnya, tempatnya, wajah orang-orang yang berada di sekitarnya, bahkan kata-kata yang diucapkan ketika kehidupannya berubah.
Namun adakah kita mengetahui tanggal sebuah musibah yang tidak jadi menimpa?
Kita tidak pernah melihat kendaraan yang nyaris bertabrakan dengan kita karena beberapa detik sebelumnya perjalanan tertunda.
Kita tidak mengetahui penyakit yang gagal berkembang karena tubuh masih diberi kemampuan melawannya. Kita tidak mengetahui keputusan buruk yang hampir diambil, kemudian dibatalkan oleh kegelisahan yang Allah tanamkan di dalam hati.
Doa Kumail mengajak kita mengingat pertolongan yang tidak seluruhnya dapat kita lihat:
> “Betapa banyak bala berat yang telah Engkau singkirkan.”
Kita biasanya bersyukur atas sesuatu yang diterima. Penggalan ini mengajari kita bersyukur atas sesuatu yang tidak sampai terjadi.
Ada bala yang Allah angkat seluruhnya. Ada yang tidak diangkat, tetapi diringankan. Ada pula yang tetap berlangsung, tetapi Allah menguatkan hati sehingga beban yang semestinya menghancurkan justru menjadi jalan pendewasaan.
Karena itu, pertolongan Allah tidak selalu berarti hilangnya seluruh masalah.
Nabi Ayyub as pernah disentuh kesusahan. Para nabi dikejar, dihina, diusir, dan dilukai. Imam Husain as tidak diselamatkan dari Karbala dengan cara dikeluarkan dari medan.
Tetapi Karbala tidak berhasil menghancurkan kebenaran yang beliau bawa. Bala itu menyentuh tubuh, tetapi tidak menundukkan jiwa.
Kita pun tidak berhak menganggap penderitaan seseorang sebagai bukti bahwa Allah meninggalkannya. Terkadang pertolongan Ilahi tidak terlihat pada keadaan yang berubah, tetapi pada hati yang tidak berhasil dihancurkan oleh keadaan.
Saat mengenang kehidupan, kita akan menemukan masa-masa ketika sebuah kesulitan terasa mustahil dilewati. Namun kini kita telah berada di sisi lain dari kesulitan itu. Kita masih hidup. Kita masih dapat berdoa. Bahkan mungkin kita tumbuh menjadi manusia yang lebih memahami luka orang lain.
Itulah salah satu bentuk aqaltah: Allah mengurangi daya hancur bala.
Iman tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian. Iman memberi kita mata untuk menemukan bahwa di tengah ujian pun, rahmat Allah sedang bekerja—mengurangi, menahan, mengalihkan, dan menguatkan.
Kita mungkin tidak pernah mengetahui seluruh bala yang telah dijauhkan.
Namun setiap pagi ketika masih diberi kesempatan membuka mata adalah bukti bahwa tidak semua bahaya memperoleh izin untuk mengakhiri perjalanan kita.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CHuCRSdAv/

