Kajian ini membahas kitab Misbahush Syariah karya Imam Ja’far ash-Sadiq, khususnya mengenai penjelasan tentang kenyamanan atau ketentraman (roha).
Pada dasarnya, setiap manusia secara fitrah menyukai kenyamanan dan tidak ada yang menginginkan kekacauan dalam hidupnya.
Puncak Kenyamanan: Perjumpaan dengan Allah
Menurut Imam Ja’far ash-Sadiq, tidak ada kenyamanan sejati bagi seorang mukmin kecuali saat ia berjumpa dengan Allah SWT (liqo Allah).
Seorang mukmin sejati adalah mereka yang hatinya selalu terpaku dan bergantung hanya kepada Allah, sehingga hal-hal duniawi lainnya tidak memberikan kenyamanan hakiki.
Dunia dipandang sebagai proses menghadapi berbagai persoalan sambil terus menjaga hati agar tidak terikat pada selain Allah.
Perjumpaan ini adalah puncak kenikmatan, di mana Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang (nafsul mutmainnah) untuk kembali ke surga perjumpaan yang khusus (jannatul liqo).
Kematian bagi seorang mukmin bukanlah hal yang menakutkan, melainkan “hari pengantin” karena menjadi pintu gerbang perjumpaan dengan Sang Kekasih.
4 Keadaan yang Mendatangkan Ketentraman di Dunia
Selain perjumpaan di akhirat, terdapat empat keadaan yang dapat memberikan kenyamanan bagi seorang mukmin selama hidup di dunia:
- Diam (Ash-Shomtu):
Diamnya seorang mukmin adalah ibadah karena ia melakukan muhasabah (introspeksi diri).
Dalam diam, ia meneliti keadaan batinnya, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan menyandarkan diri pada kekuatan-Nya di tengah hempasan ombak kehidupan. - Menyendiri (Al-Khalwah):
Seseorang sering kali terpengaruh oleh kebisingan dunia yang menyebabkan kekacauan hati.
Dengan menyendiri bersama Allah, seseorang dapat berpikir lebih tenang, melepaskan diri dari gangguan zaman, dan menemukan kembali sandaran batin yang kuat. - Lapar/Puasa (Al-Ju’):
Rasa lapar melalui ibadah puasa berfungsi untuk mengendalikan syahwat yang liar dan menghilangkan perasaan was-was.
Tanpa kendali atas syahwat, manusia dianggap “sakit” atau “gila” karena tidak sadar akan jati diri dan Tuhannya. - Terjaga di Malam Hari (As-Saharu):
Bangun di penghujung malam untuk beribadah (Tahajjud) memberikan cahaya pada hati dan menyucikan batin.
Ini adalah tanda kekasih Allah yang tetap bermunajat saat manusia lain terlelap.
Kunci Kebahagiaan: Qana’ah dan Sandaran pada Allah
Kenyamanan juga bersumber dari sifat qana’ah (merasa cukup), yang merupakan kekayaan sejati.
Sebaliknya, keserakahan hanya akan mendatangkan dahaga yang tak pernah usai.
Penderitaan yang paling besar adalah ketika seseorang merasa hebat dengan kekuatannya sendiri sehingga Allah melepaskan perlindungan-Nya.
Kekuatan sejati muncul saat seseorang menyadari kelemahannya dan menyandarkan seluruh urusannya hanya kepada Allah SWT.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Ketua STF Sadra Jakarta dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Episode ke 22 Kajian Kitab Pelita Syariah dan Gerbang Hakikah Imam Ja’far Ash Shadiq .
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

