Jangan Terlalu Sedih Dengan Kematian | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Tiga Prinsip Berinteraksi dengan Dunia
Dalam menjalani kehidupan, kita perlu menempatkan diri dalam tiga posisi yang berbeda agar hidup menjadi harmonis.
Pertama, dalam berhadapan dengan alam semesta, kita sebaiknya menjadi seorang panteis, yaitu memposisikan diri secara harmonis dengan segala sesuatu di sekeliling kita agar tidak terjadi kerusakan,.
Kedua, dalam dunia ilmu pengetahuan dan sastra, kita sebaiknya menjadi seorang politeis.
Artinya, kita harus kaya akan rujukan, memiliki banyak idola, dan tidak membatasi tokoh yang dipelajari agar keilmuan kita semakin matang,.
Ketiga, dalam hal moralitas dan akhlak, kita harus menjadi seorang monoteis.
Kita tidak boleh “mengarang” sendiri standar kebenaran, melainkan harus setia dan konsisten pada satu prinsip tunggal kebaikan yang sudah baku (pakem), seperti kejujuran,.
Hakikat Roh dan Relativitas Waktu
Mengenai kematian, kita tidak perlu merasa terlalu takut atau sedih yang berlebihan.
Roh manusia diyakini bersifat abadi dan tidak akan sirna; ia hanya berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, seperti seseorang yang sedang berganti baju,. Kematian hanyalah hancurnya jasad fisik, sementara roh yang berasal dari Allah akan kembali kepada-Nya (Innalillahi wa inna ilaihi rojiun).
Pemahaman kita tentang waktu juga sering kali bersifat relatif.
Sebagaimana analogi dari Einstein, jika seseorang duduk di atas kompor panas selama satu menit, rasanya akan seperti satu jam, namun jika duduk bersama orang yang disukai, satu jam akan terasa seperti satu menit saja.
Begitu pula dengan keberadaan roh yang melampaui batasan fisik materi.
Kritik terhadap Dikotomi Barat dan Timur
Tokoh besar seperti Goethe sangat mengagumi para pujangga dari Timur dan menganggap mereka jauh lebih hebat dari pemikir Barat,.
Namun, ia juga memberikan kritik tajam bahwa kelemahan orang Timur adalah suka bertengkar dan membenci sesama saudaranya sendiri,.
Terkadang, mereka bisa lebih rukun dengan mereka yang berbeda agama daripada dengan sesama rekan dalam aliran yang berbeda.
Padahal, kebenaran dan kebaikan itu bersifat universal. Baik itu datang dari Barat maupun dari Timur, kebenaran tetaplah kebenaran yang membawa manfaat,.
Kita tidak perlu terjebak dalam dikotomi atau rasa permusuhan antar wilayah, karena saat ini pun banyak muncul gerakan spiritualitas di Barat yang tidak terikat pada agama formal (seperti New Age Movement),.
Kasih Sayang Tuhan yang Tak Terbatas
Satu hal yang menenangkan adalah keyakinan akan besarnya kasih sayang Allah.
Di mata Tuhan, baik seorang pujangga maupun seorang pencuri, keduanya adalah sama-sama pencari.
Tuhan memberikan waktu kepada setiap manusia untuk menemukan kebenaran-Nya,.
Kasih sayang Allah jauh melampaui kesalahan yang dilakukan manusia. Begitu besarnya ampunan Tuhan sehingga disebutkan bahwa siapa pun yang memiliki iman di hatinya, ia akan selamat.
Di akhirat nanti, kita mungkin akan terkejut melihat orang-orang yang dahulu kita anggap musuh atau berbeda pandangan, ternyata duduk bersama dalam satu majelis karena luasnya rahmat Allah yang tak terbayangkan oleh pikiran manusia.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







