Jalani Hidup Sebagai Permainan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Dunia sebagai Panggung Sandiwara
Dunia ini pada hakikatnya adalah sebuah panggung sandiwara, di mana kita semua adalah para aktor yang memerankan drama kehidupan.
Mengutip pemikiran Shakespeare, setiap laki-laki dan perempuan hanyalah pemain yang memiliki masa untuk masuk dan keluar panggung.
Dalam rentang waktunya, seseorang akan memainkan banyak babak atau peran.
Menurut analisis tersebut, perjalanan hidup manusia terbagi ke dalam tujuh babak (Seven Ages):
- Bayi (Infant):
Fase awal kehidupan. - Anak Sekolah (Schoolboy):
Masa menuntut ilmu. - Remaja (Lover):
Fase penuh gejolak cinta, seperti “cinta monyet”. - Tentara/Pekerja (Soldier):
Mulai memasuki dunia kerja dan tanggung jawab. - Hakim (Justice):
Fase mulai mengejar kebijaksanaan, falsafah, dan makna hidup. - Masa Tua yang Mapan:
Tahap di mana seseorang sudah matang secara pikiran dan posisi. - Kanak-kanak Kedua (Second Childishness):
Fase akhir di mana manusia kembali seperti bayi; fisik melemah, ingatan kabur, dan kembali bergantung pada orang lain.
Kita terus berganti peran dari satu akting ke akting lainnya.
Misalnya, saat ini Anda menjadi murid yang mendengarkan, namun sesampainya di rumah, Anda bisa berubah peran menjadi “guru” saat menceritakan kembali ilmu tersebut kepada orang lain.
Karena hidup adalah akting, janganlah dianggap terlalu serius, namun jangan pula bermain-main (serampangan) dalam memerankannya agar hasilnya maksimal.
Lima Karakteristik Bermain (Playing)
Untuk menjalani hidup sebagai permainan yang indah, kita perlu memahami variabel-variabel dalam bermain:
- Serius dalam Ketidakseriusan:
Bermain itu sebenarnya tidak serius (seperti sepak bola yang hanya berebut satu bola), namun Anda harus menjalaninya dengan serius agar permainan tersebut bermakna dan membuahkan kemenangan. - Bebas dan Sukarela:
Permainan tidak boleh dipaksakan. Jika seseorang dipaksa bermain, misalnya dipaksa main catur padahal tidak mau, maka permainan tersebut akan rusak dan tidak beraturan. - Melibatkan Intelek dan Imajinasi:
Bermain bukan sekadar aktivitas jasmani.
Di era modern, banyak permainan yang minim gerakan fisik (seperti bermain gadget), namun melibatkan aktivitas intelektual dan imajinasi yang tinggi. - Efek Menyenangkan:
Tujuan utama bermain adalah mencari kebahagiaan. Jika hidup ini sandiwara, rugi jika kita menjalaninya dengan sumpek.
Anggaplah masalah besar atau kesedihan sebagai bagian dari “casting” atau peran sementara agar hati tidak terlalu terbebani,. - Menikmati Proses:
Dalam permainan, proses jauh lebih penting daripada hasil akhir. Sama halnya dengan sepak bola, yang dinikmati adalah jalannya pertandingan, bukan sekadar skor akhirnya.
Begitu juga dalam hidup, nikmatilah setiap prosesโbaik itu saat menjadi mahasiswa, saat sakit, hingga saat harus begadang mengerjakan tugasโkarena di sanalah letak seninya,.
Menemukan Karakter Melalui Permainan
Dalam pandangan teologi, hasil akhir adalah urusan Tuhan, sementara proses adalah bagian yang berada dalam kuasa kita untuk dinikmati.
Pengalaman-pengalaman sulit dalam proses tersebutlah yang nantinya akan menjadi kenangan indah untuk diceritakan.
Plato pernah berkata bahwa karakter asli seseorang akan lebih terlihat melalui satu jam bermain bersama dibandingkan dengan satu tahun obrolan biasa.
Melalui interaksi langsung dalam “permainan” hidup, kita bisa melihat kejujuran dan watak asli seseorang yang seringkali tertutupi oleh kata-kata atau citra dalam buku biografi,.
Oleh karena itu, jangan terbiasa menghakimi atau mengomentari hidup orang lain jika kita tidak terlibat langsung atau tidak tahu sejarah dan “permainan” apa yang sedang mereka jalankan.
Jika ingin benar-benar mengenal seseorang, ajaklah dia “bermain” atau terlibat bersama dalam proses kehidupan.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







