15 October 2026

Bagian 12: DI MANA EMPAT PULUH PERTANYAAN ITU?

Kisah itu bermula bukan dari keinginan tulus seorang murid untuk belajar.

Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur merasa khawatir melihat besarnya pengaruh Imam Ja‘far ash-Shadiq di tengah masyarakat. Orang-orang datang kepadanya, mempelajari ilmu, dan mengenali keluasan pengetahuannya.

Al-Manshur kemudian memanggil Abu Hanifah.

Menurut penuturan Abu Hanifah sendiri, al-Manshur berkata:

“Wahai Abu Hanifah, sesungguhnya orang-orang telah terpikat oleh Ja‘far bin Muhammad. Karena itu, persiapkanlah pertanyaan-pertanyaanmu yang paling sulit untuknya.”

Abu Hanifah menerima perintah itu.

Ia berkata:

“Maka aku mempersiapkan empat puluh pertanyaan yang sulit.”

Al-Manshur bukan sedang menyelenggarakan seminar ilmiah. Ia sedang menyiapkan ujian terbuka. Tujuannya bukan terutama mencari kebenaran, tetapi mengurangi kewibawaan Imam Ja‘far di hadapan masyarakat.

Jika Imam gagal menjawab satu atau dua pertanyaan, kekuasaan dapat mengatakan:

“Lihatlah, orang yang kalian anggap sebagai sumber ilmu ternyata tidak mengetahui semuanya.”

Ilmu dipergunakan sebagai jebakan politik.

Abu Hanifah dipilih sebagai orang yang akan memasangnya.

Majelis di al-Hirah

Pertemuan itu berlangsung di al-Hirah, Irak.

Ketika Abu Hanifah memasuki majelis, ia melihat al-Manshur duduk dan Imam Ja‘far berada di sebelahnya.

Abu Hanifah menuturkan:

“Ketika aku melihat Ja‘far bin Muhammad, masuk ke dalam diriku rasa segan kepadanya yang tidak kurasakan terhadap Abu Ja‘far al-Manshur.”

Kalimat ini sangat penting bagi kita.

Al-Manshur memiliki pasukan, penjara, kekayaan, dan kekuasaan untuk menentukan hidup mati seseorang. Namun kewibawaan Imam Ja‘far membuat Abu Hanifah merasakan sesuatu yang tidak dirasakannya di hadapan khalifah.

Ada wibawa yang lahir dari kekuasaan.

Ada pula wibawa yang lahir dari kebenaran.

Yang pertama membuat manusia takut terhadap hukuman.

Yang kedua membuat manusia menyadari keterbatasan dirinya.

Al-Manshur kemudian berkata:

“Wahai Abu Hanifah, ajukan pertanyaan-pertanyaanmu kepada Abu Abdillah.”

Ujian pun dimulai.

Tiga peta dalam setiap jawaban

Abu Hanifah mengajukan pertanyaan pertama.

Imam Ja‘far menjawab dengan menjelaskan:

“Kalian, penduduk Irak, mengatakan demikian. Penduduk Madinah mengatakan demikian. Sedangkan kami mengatakan demikian.”

Pertanyaan berikutnya diajukan.

Imam kembali menjelaskan pendapat ahli fikih Irak, pendapat ulama Madinah, kemudian pandangan Ahlul Bait.

Demikianlah seterusnya hingga empat puluh pertanyaan selesai diajukan. Dan tidak satupun yang tidak dijawab tuntas.

Abu Hanifah mengakui:

“Kadang-kadang beliau mengikuti pendapat kami. Kadang-kadang mengikuti pendapat penduduk Madinah. Kadang-kadang berbeda dari kami semua. Hingga aku menyelesaikan empat puluh pertanyaan dan tidak satu pun terlewatkan olehnya.”

Lalu Abu Hanifah berkata:

“Bukankah orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengetahui perbedaan pendapat manusia?”

Pertanyaan yang disiapkan untuk menjatuhkan Imam justru berubah menjadi kesaksian tentang keluasan ilmunya.

Empat puluh jebakan menjadi empat puluh bukti.

Imam mengetahui perbedaan, tetapi tidak kehilangan kebenaran

Ada satu hal yang sangat menarik dalam cara Imam Ja‘far menjawab.

Beliau tidak hanya mengetahui pendapatnya sendiri. Beliau mengetahui apa yang dikatakan ahli fikih Irak dan apa yang dikatakan ulama Madinah.

Imam mampu memetakan perbedaan sebelum menyampaikan kebenaran.

Inilah tanda keluasan ilmu. Seseorang belum benar-benar memahami pendapatnya bila ia tidak mengetahui pendapat yang berbeda, dasar yang digunakan, serta letak kelemahannya.

Namun mengetahui berbagai pendapat tidak berarti menganggap semuanya benar.

Imam berkata:

“Kalian mengatakan demikian. Mereka mengatakan demikian. Sedangkan kami mengatakan demikian.”

Beliau tidak mencampurkan seluruh pendapat lalu mengatakan bahwa kebenaran bergantung kepada siapa yang melihatnya. Beliau memahami keragaman pandangan, tetapi tetap menunjukkan satu posisi.

Keluasan pengetahuan tidak melahirkan relativisme.

Ia justru membuat seseorang semakin mampu membedakan antara pendapat manusia dan ajaran yang diwarisi dari Rasulullah.

Semua orang berhak didengar.

Semua pendapat dapat dipelajari.

Namun benar tetaplah benar.

Perbedaan tidak otomatis mengubah beberapa jawaban yang bertentangan menjadi sama-sama benar di sisi Allah.

Lalu, di mana empat puluh pertanyaan itu?

Di sinilah saya harus jujur. Saya tidak menemukan detailnya. Bila ada pembaca yang bisa membantu. Saya sangat berterima kasih.

Sumber-sumber yang meriwayatkan pertemuan tersebut hanya mempertahankan ringkasan peristiwanya. Mereka menyebut jumlah empat puluh, menjelaskan pola jawaban Imam, serta memuat pengakuan Abu Hanifah.

Namun mereka tidak menuliskan daftar lengkap pertanyaan itu satu per satu.

Kita tidak memiliki sebuah naskah kuno yang berjudul Empat Puluh Pertanyaan Abu Hanifah kepada Ja‘far ash-Shadiq dengan urutan nomor satu sampai empat puluh.

Berbagai kitab memang mencatat percakapan Abu Hanifah dengan Imam Ja‘far: tentang mut‘ah, satu saksi dan sumpah, jarak timur dan barat, burung hudhud, makna nikmat, amar makruf, kebaruan Al-Qur’an, naungan orang ihram, dan beberapa persoalan lainnya.

Namun saya, dengan keterbatasan saya, tidak boleh langsung mengatakan bahwa seluruh dialog yang tersebar itu merupakan bagian dari majelis empat puluh pertanyaan di al-Hirah.

Sebagiannya mungkin berasal dari pertemuan tersebut.

Sebagiannya mungkin terjadi pada kesempatan lain.

Sumber yang tersedia tidak selalu memberikan keterangan yang cukup untuk memastikannya.

Karena itu, sebelas tulisan yang telah saya susun dalam seri ini adalah pertanyaan dan dialog yang dapat dilacak dalam literatur—bukan rekonstruksi resmi daftar empat puluh pertanyaan.

Saya terbatas dan membatasi apa yang dapat saya pastikan, dan saya menjaga nama Imam dari kisah-kisah yang dibentuk oleh keinginan kita sendiri.

Mengapa daftar itu tidak diwariskan?

Ada beberapa kemungkinan.

Tradisi biografi sering kali hanya mempertahankan inti sebuah peristiwa. Tujuan penulisnya adalah menunjukkan keluasan ilmu Imam Ja‘far dan pengakuan Abu Hanifah, bukan mencatat seluruh majelis seperti notulensi modern.

Boleh jadi sumber yang lebih lengkap pernah ada, tetapi tidak sampai kepada saya. Dan karena keterbatasan saya yang bodoh ini.

Boleh jadi para perawi hanya menerima ringkasannya.

Al-Manshur memerintahkan Abu Hanifah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tersulit karena orang-orang telah terpikat kepada Imam Ja‘far.

Namun setelah seluruh pertanyaan diajukan, Abu Hanifah justru menyatakan:

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih faqih daripada Ja‘far bin Muhammad.”

Inilah kegagalan kekuasaan memahami sumber kewibawaan seorang imam.

Kekuasaan mengira kehormatan Imam berdiri di atas ketidaktahuan masyarakat. Jika Imam dipermalukan dalam sebuah perdebatan, pengaruhnya akan runtuh.

Padahal kewibawaan Imam tidak dibangun oleh propaganda.

Ia berdiri di atas ilmu.

Al-Manshur dapat memanggil seorang ahli fikih untuk mengujinya. Ia dapat menyiapkan majelis, memilih pertanyaan, dan mengatur suasana.

Namun kekuasaan tidak dapat menciptakan ilmu yang tidak dimilikinya.

Empat puluh pertanyaan telah dipersiapkan untuk memperlihatkan batas pengetahuan Imam Ja‘far.

Yang tampak justru batas pengetahuan semua orang di hadapannya.

Empat puluh pertanyaan yang berubah menjadi satu

Kita mungkin tidak mengetahui bunyi lengkap empat puluh pertanyaan tersebut.

Namun majelis itu meninggalkan satu pertanyaan besar bagi umat:

Jika Abu Hanifah sendiri mengakui bahwa ia tidak pernah melihat orang yang lebih faqih daripada Ja‘far bin Muhammad, mengapa umat lebih mengenal fikih Abu Hanifah daripada fikih Ja‘far bin Muhammad?

Jika Imam mengetahui pendapat Irak, Madinah, dan pendapat Ahlul Bait sekaligus, mengapa ilmu Ahlul Bait ditempatkan hanya sebagai salah satu catatan kecil di pinggir sejarah mazhab?

Jika orang yang diuji justru terbukti paling mengetahui seluruh perbedaan, mengapa ia tidak dijadikan rujukan utama ketika umat berselisih?

Empat puluh pertanyaan Abu Hanifah memang tidak sampai kepada kita secara lengkap.

Namun pengakuannya sampai.

Dan mungkin itulah jawaban terpenting yang hendak dipelihara sejarah:

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih faqih daripada Ja‘far bin Muhammad.”

Dialog hanafi12
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

⸻

Catatan sumber:

Kisah majelis empat puluh pertanyaan dicatat dalam sejumlah karya biografi Sunni. Al-Mizzi memuatnya dalam Tahdzīb al-Kamāl melalui Hasan bin Ziyad yang menukil pengakuan Abu Hanifah.
Lihat Tahdzīb al-Kamāl, biografi Ja‘far bin Muhammad. Adz-Dzahabi juga memuat kisah dan pengakuan tersebut dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 6, biografi Imam Ja‘far.

Semua versi yang berhasil dilacak menyebut jumlah empat puluh serta pola jawaban Imam, tetapi tidak menyertakan daftar lengkapnya.
Karena itu, secara historiografis kita dapat menerima bahwa tradisi mengenai majelis empat puluh pertanyaan memang tercatat, tetapi tidak dapat mengklaim telah memiliki isi lengkap keempat puluh pertanyaan tersebut.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1FA47ywV5y/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us