AL-TSAQALAIN
BAGIAN VI
Wasiat Terakhir yang Terlalu Jelas untuk Diabaikan
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ’Imran: 103)
Ada sebuah kaidah sederhana dalam memahami perkataan seseorang yang akan meninggalkan dunia.
Semakin dekat seseorang kepada akhir hayatnya, semakin sedikit kata-kata yang tidak penting.
Orang yang mengetahui ajalnya telah dekat tidak lagi berbicara tentang hal-hal sepele.
Ia akan meninggalkan wasiat.
Bukan teka-teki.
Inilah yang membuat kita harus membaca kembali salah satu sabda Rasulullah SAW yang paling masyhur, paling luas periwayatannya, dan paling sering diperdebatkan maknanya.
Sabda itu dikenal sebagai Hadis al-Tsaqalain.
Wasiat, Bukan Sekadar Nasihat
Dalam riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ، أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ، فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ، فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ… وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي.
“Ketahuilah, sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang berat. Yang pertama adalah Kitab Allah; di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka berpeganglah kepada Kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya… Dan Ahlul Baitku. Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku. Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku. Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.”
(Sahih Muslim, Kitab Fadha’il ash-Shahabah)
Perhatikan satu hal.
Rasulullah SAW mengulang kalimat tentang Ahlul Bait sebanyak tiga kali.
Dalam tradisi Arab, pengulangan adalah penegasan.
Kalau sesuatu diulang oleh Rasulullah SAW tiga kali, berarti beliau sedang memastikan agar tidak ada seorang pun yang menganggapnya remeh.
Mengapa Bukan Abu Bakar?
Sekarang mari kita bertanya dengan sangat jujur.
Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW meninggalkan wasiat kepada umat.
Mengapa beliau tidak berkata:
“Aku tinggalkan kepada kalian Al-Qur’an dan Abu Bakar.”
Mengapa tidak Umar?
Mengapa tidak Utsman?
Mengapa tidak seluruh sahabat?
Mengapa justru beliau berkata:
Kitab Allah dan Ahlul Baitku.
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan para sahabat.
Tetapi untuk memahami pilihan kata Rasulullah SAW.
Karena setiap kata beliau memiliki makna.
Dan beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu.
Allah SWT menegaskan:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah ia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. an-Najm: 3–4)
Mengapa Ahlul Bait Dipasangkan dengan Al-Qur’an?
Inilah pertanyaan yang jarang diajukan.
Mengapa Rasulullah SAW tidak mengatakan:
“Berbuat baiklah kepada keluargaku.”
Mengapa beliau justru memasangkan Ahlul Bait dengan Al-Qur’an?
Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang tidak pernah sesat.
Kalau Rasulullah SAW menjadikan Ahlul Bait sebagai pendamping Al-Qur’an dalam wasiat terakhirnya, tentu ada hikmah yang jauh lebih besar daripada sekadar anjuran menghormati keluarga beliau.
Sebab penghormatan kepada keluarga Nabi sudah diajarkan dalam Al-Qur’an:
قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
“Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian upah apa pun selain kecintaan kepada keluarga dekatku.”
(QS. asy-Syura: 23)
Kalau hanya ingin mengulang perintah mencintai keluarga Nabi, mengapa Rasulullah SAW menjadikannya sebagai dua pusaka yang ditinggalkan kepada umat?
Dua Pusaka, Satu Jalan
Dalam banyak riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ، كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي، مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا، وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka: Kitab Allah dan itrahku, Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemuiku di telaga.”
Perhatikan dua kalimat yang sangat penting.
Pertama:
لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا
“Kalian tidak akan sesat selama-lamanya.”
Bukan sesat sesekali.
Bukan sesat sampai waktu tertentu.
Tetapi tidak akan sesat selamanya.
Kedua:
لَنْ يَفْتَرِقَا
“Keduanya tidak akan pernah berpisah.”
Kalau Al-Qur’an tidak pernah berpisah dari Ahlul Bait sampai Hari Kiamat, maka muncul pertanyaan yang sangat mendasar.
Siapakah Ahlul Bait yang selalu bersama Al-Qur’an itu pada setiap zaman?
Inilah pertanyaan yang kemudian melahirkan pembahasan tentang imamah dalam mazhab Ahlul Bait.
Perhatikan, pembahasan itu tidak lahir dari ruang kosong.
Ia lahir dari pertanyaan terhadap bunyi hadis itu sendiri.
Bandingkan dengan Dalil Imam Shalat
Sekarang mari kita letakkan dua dalil itu berdampingan.
Dalil imam shalat:
Tidak ada kalimat:
“Barang siapa mengikuti Abu Bakar tidak akan sesat.”
Tidak ada kalimat:
“Abu Bakar tidak akan pernah berpisah dari Al-Qur’an.”
Tidak ada kalimat:
“Aku tinggalkan Abu Bakar sebagai pusaka bagi kalian.”
Tetapi dalam Hadis Tsaqalain semua itu justru ditemukan terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait.
Lalu mengapa hadis yang sangat jelas ini justru dipersempit hanya menjadi anjuran mencintai keluarga Nabi, sementara sebuah peristiwa shalat yang tidak pernah memuat penetapan khalifah dijadikan dasar utama teori suksesi?
Bukankah secara metodologi seharusnya yang jelas didahulukan daripada yang samar?
Mengapa Wasiat Ini Terlupakan?
Barangkali karena wasiat yang paling jelas sering kali menjadi yang paling berat untuk diterima.
Sejarah memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu menolak kebenaran karena kurangnya dalil.
Kadang mereka menolak karena dalil itu menuntut perubahan cara berpikir yang telah lama diwarisi.
Padahal Allah telah mengingatkan:
فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
“Maka kepada perkataan apa lagi setelah ini mereka akan beriman?”
(QS. al-A’raf: 185)
Rasulullah SAW tidak meninggalkan umat dalam kebingungan.
Beliau meninggalkan dua pusaka.
Bukan satu.
Beliau tidak mengatakan:
“Peganglah Al-Qur’an saja.”
Beliau juga tidak mengatakan:
“Peganglah keluargaku saja.”
Beliau memerintahkan agar keduanya dipegang bersama.
Karena Al-Qur’an tanpa penafsir yang dijamin tidak akan pernah berpisah darinya akan melahirkan ribuan tafsir.
Dan kecintaan kepada Ahlul Bait tanpa berpegang kepada Al-Qur’an akan berubah menjadi sekadar romantisme sejarah.
Maka dua pusaka itu bukan dua jalan.
Melainkan satu jalan yang tidak pernah terpisah hingga Hari Kiamat.
Barangkali, di sinilah letak jawaban mengapa Rasulullah SAW tidak pernah merasa cukup hanya menunjuk seorang imam shalat.
Beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Beliau meninggalkan manhaj.
Yaitu Al-Qur’an dan Ahlul Bait, sebagai dua pusaka yang tidak boleh dipisahkan oleh siapa pun.
(Bersambung)

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CA9Xwy2uH/

