15 October 2026

BAGIAN V – GHADIR KHUM

Ketika Rasulullah Berbicara Terang, Mengapa Umat Mencari Isyarat?

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah akan memeliharamu dari manusia.”

(QS. al-Ma’idah: 67)

Ada sebuah ironi yang sangat menarik dalam sejarah Islam.

Ketika Rasulullah SAW berbicara secara terbuka di hadapan puluhan ribu manusia, sebagian orang mengatakan, “Itu bukan tentang kepemimpinan.”

Tetapi ketika Rasulullah SAW sedang sakit keras, dalam sebuah peristiwa shalat yang riwayatnya sendiri dipahami dengan berbagai cara, justru di sanalah mereka melihat penunjukan khalifah.

Bukankah ini paradoks?

Bukankah sesuatu yang terang seharusnya lebih didahulukan daripada sesuatu yang masih memerlukan dugaan?

Ghadir Khum Bukan Percakapan Pribadi

Peristiwa Ghadir Khum bukan terjadi di dalam rumah.

Bukan pula di sudut masjid.

Ia terjadi di sebuah persimpangan besar, ketika Rasulullah SAW baru kembali dari Haji Wada’.

Ribuan kaum Muslimin sedang bersiap kembali ke daerah masing-masing.

Dalam situasi seperti itu Rasulullah SAW justru memerintahkan mereka berhenti.

Yang telah berjalan dipanggil kembali.

Yang tertinggal ditunggu.

Mengapa?

Kalau hanya ingin menyampaikan bahwa Ali adalah sahabat yang baik, bukankah itu dapat diucapkan kapan saja?

Mengapa harus menghentikan perjalanan ribuan orang di tengah teriknya padang pasir?

Pertanyaan ini sendiri sudah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat penting sedang disampaikan.

Al-Qur’an Mengabadikan Momentum Itu

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan Allah akan melindungimu dari manusia.”

**(QS. al-Ma’idah: 67)

Terlepas dari adanya perbedaan pandangan mengenai sebab turunnya ayat ini, satu hal tidak dapat disangkal.

Ayat ini menggunakan bahasa yang luar biasa tegas.

Allah tidak sedang berbicara tentang perkara kecil.

Allah berbicara tentang sesuatu yang apabila tidak disampaikan, seakan-akan seluruh risalah belum sempurna.

Apakah masuk akal bila perkara sebesar ini hanya berkaitan dengan anjuran mencintai Ali?

Bukankah kaum Muslimin telah mengetahui sejak lama bahwa Ali adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW?

Mengapa Allah menggunakan redaksi sedemikian agung?

Pertanyaan Rasulullah Sebelum Ghadir

Sebelum mengangkat tangan Ali a.s., Rasulullah SAW terlebih dahulu bertanya kepada kaum Muslimin:

أَلَسْتُ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ؟

“Bukankah aku lebih berhak atas orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri?”

Mereka menjawab:

بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Benar, wahai Rasulullah.”

Perhatikan urutannya.

Rasulullah SAW tidak memulai dengan kata mawla.

Beliau memulai dengan konsep awla—hak otoritas beliau atas kaum mukmin.

Barulah setelah itu beliau bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.”

Secara kebahasaan, kedua kalimat ini tidak dapat dipisahkan.

Kalau kalimat pertama berbicara tentang otoritas Rasulullah, maka kalimat berikutnya tidak mungkin tiba-tiba berubah hanya menjadi ajakan berteman atau saling mencintai.

Konteks menentukan makna.

Dan konteks Ghadir adalah otoritas.

Mengapa Tidak Mengatakan “Khalifah”?

Pertanyaan ini sering diajukan.

Jawabannya justru kembali kepada Al-Qur’an.

Al-Qur’an sendiri tidak selalu menggunakan satu istilah untuk satu konsep.

Kadang menggunakan imam.

Kadang wali.

Kadang ulil amri.

Kadang khalifah.

Kadang waris.

Yang menentukan makna bukan satu kata, melainkan keseluruhan konteks.

Misalnya, ketika Al-Qur’an menyebut Ibrahim sebagai imam, itu jelas bukan imam shalat.

Ketika Allah menyebut Daud sebagai khalifah, itu bukan sekadar penguasa administratif.

Demikian pula ketika Rasulullah SAW menggunakan kata mawla, maknanya tidak boleh dipotong dari keseluruhan khutbah Ghadir.

Bandingkan dengan Dalil Imam Shalat

Sekarang mari kita bandingkan secara jujur.

Peristiwa imam shalat:

* Tidak ada khutbah.

* Tidak ada pengumpulan massa.

* Tidak ada perintah menyampaikan kepada yang tidak hadir.

* Tidak ada baiat umum.

* Tidak ada sabda eksplisit: “Ini khalifah kalian.”

Sedangkan Ghadir Khum:

* Rasulullah menghentikan perjalanan ribuan orang.

* Beliau berkhutbah panjang.

* Beliau mengawali dengan pertanyaan tentang otoritas beliau.

* Beliau mengangkat tangan Ali di hadapan manusia.

* Beliau bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

Lalu beliau berdoa:

اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَهُ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَهُ…

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya…”

Kemudian dalam banyak riwayat sejarah, para sahabat memberikan ucapan selamat kepada Ali, termasuk riwayat terkenal tentang ucapan Umar:

بَخٍّ بَخٍّ لَكَ يَا عَلِيُّ، أَصْبَحْتَ مَوْلَايَ وَمَوْلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ

“Selamat, wahai Ali. Kini engkau menjadi mawlaku dan mawla setiap mukmin laki-laki dan perempuan.”

Maka pertanyaannya sederhana.

Jika semua itu masih dianggap belum cukup berbicara tentang kepemimpinan, lalu mengapa sebuah peristiwa imam shalat yang tidak pernah disertai pernyataan eksplisit justru dianggap sebagai penunjukan khalifah?

Bukankah kaidah ilmu mengajarkan bahwa dalil yang lebih jelas harus didahulukan daripada dalil yang masih memerlukan penafsiran?

Mengapa Ghadir Terlupakan?

Mungkin karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang hadir.

Sejarah juga ditulis oleh mereka yang kemudian berkuasa.

Tetapi Al-Qur’an mengajarkan agar ukuran kita bukan siapa yang paling banyak mengulang sebuah cerita.

Melainkan siapa yang paling dekat dengan kebenaran.

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Maka tidak ada lagi setelah kebenaran itu selain kesesatan.”

(QS. Yunus: 32)

Karena itu, persoalan sebenarnya bukanlah apakah kita mencintai Abu Bakar atau mencintai Ali.

Persoalannya adalah metode memahami dalil.

Apakah kita mendahulukan nash yang disampaikan Rasulullah SAW di hadapan puluhan ribu manusia?

Ataukah kita lebih memilih sebuah kesimpulan yang dibangun dari sebuah peristiwa yang tidak pernah disertai penetapan eksplisit tentang kekhalifahan?

Di sinilah setiap pencari kebenaran harus memilih.

Bukan memilih tokoh.

Tetapi memilih metode.

Sebab orang yang benar tidak selalu menang karena banyak pengikutnya.

Tetapi kebenaran selalu menang ketika manusia berani mendahulukan dalil yang terang daripada dugaan yang samar.

(Bersambung)

Hari hari5

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19fqFvbNnL/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us