Madinah telah tertidur.
Pintu-pintu rumah tertutup. Lampu-lampu padam. Jalan-jalan yang dahulu bergemuruh menyambut kedatangan Rasulullah saw. kini tenggelam dalam kesunyian.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada ribuan manusia yang mengiringi.
Hanya beberapa lelaki berjalan perlahan di bawah kegelapan malam, membawa sebuah keranda sederhana.
Di dalamnya terbaring Fathimah az-Zahra a.s.
Putri Rasulullah.
Penghulu seluruh perempuan alam semesta.
Perempuan yang dahulu setiap kali memasuki ruangan, Rasulullah berdiri menyambutnya, mencium tangannya, lalu mempersilahkannya duduk di tempat beliau.
Kini ia meninggalkan Madinah tanpa suara.
Begitulah wasiatnya.
Ia meminta dimakamkan pada malam hari.
Ia tidak menghendaki orang-orang yang telah menyakitinya hadir dalam pemakamannya.
Bahkan tempat peristirahatan terakhirnya harus disembunyikan.
Imam Ali berjalan di sisi keranda.
Langkahnya tenang, tetapi dadanya seperti menahan gunung.
Belum lama ia menurunkan tubuh Rasulullah ke dalam makam.
Kini ia harus menguburkan bagian dari tubuh Rasulullah sendiri.
Di belakangnya berjalan Hasan dan Husain.
Dua anak kecil yang belum sepenuhnya memahami bagaimana dunia dapat merenggut kakek mereka—kemudian, begitu cepat, mengambil ibu mereka.
Tidak ada suara selain langkah kaki dan tangisan yang berusaha ditahan.
Beberapa sahabat setia mengikuti dalam diam.
Mereka tidak membawa panji.
Tidak menyalakan banyak obor.
Madinah tidak boleh mengetahui ke mana putri Nabi dibawa.
Sampailah mereka di tempat yang telah dipersiapkan.
Keranda diletakkan.
Imam Ali berdiri di hadapan jasad istrinya.
Inilah perempuan yang tinggal bersamanya dalam rumah yang hampir tidak memiliki perabot.
Perempuan yang menggiling gandum hingga tangannya melepuh.
Perempuan yang memberikan makanannya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan—sementara dirinya menahan lapar.
Perempuan yang berdiri di sampingnya ketika dunia mulai berpaling.
Kini seluruh rumah itu akan sunyi.
Ali membuka ikatan keranda.
Hasan mendekati ibunya.
Husain menyusul.
Keduanya memeluk jasad yang telah tertutup kafan.
“Ibu…”
Tidak ada jawaban.
Tangan yang dahulu mengusap kepala mereka tidak lagi bergerak.
Dada yang dahulu menjadi tempat mereka menangis kini diam.
Imam Ali memalingkan wajahnya.
Lelaki yang tidak mundur ketika pasukan berkuda mengepungnya di Uhud itu kini hampir roboh mendengar tangisan dua anak kecil.
Tetapi malam terus berjalan.
Amanah harus ditunaikan.
Ali mengimami salat jenazah.
Takbir terdengar lirih di bawah langit Madinah.
Bumi seperti menahan napas.
Selesai salat, Imam Ali turun ke dalam liang lahat.
Beliau berdiri sendirian di dasar makam.
Orang-orang yang berada di atas kemudian mengangkat jasad suci Fathimah untuk diserahkan kepadanya.
Ali mengulurkan kedua tangannya.
Tangan yang pernah merobohkan para jagoan Arab kini gemetar menerima tubuh istrinya.
Perlahan jasad Fathimah diturunkan.
Namun sebelum Ali meletakkannya—
sesuatu terjadi.
Dari dalam makam yang gelap, muncul dua tangan.
Ali terpaku.
Ia mengenali tangan itu.
Tangan yang dahulu menggendong Fathimah ketika masih kecil.
Tangan yang mengusap rambutnya ketika Quraisy menyakiti ayahnya.
Tangan yang meletakkan tangan Fathimah ke dalam tangan Ali pada malam pernikahan mereka.
Tangan Rasulullah saw.
Menurut riwayat manaqib, dua tangan menyerupai tangan Nabi muncul dari dalam makam dan menerima jasad Fathimah.
Seakan Rasulullah tidak membiarkan putrinya memasuki alam itu sendirian.
Dahulu, ketika Fathimah masih kecil, ayahnya selalu menjadi orang pertama yang memeluknya.
Kini, ketika dunia telah menghancurkan hatinya—
ayahnya kembali menjadi orang pertama yang menyambutnya.
Ali menyerahkan jasad istrinya kepada kedua tangan itu.
Tidak ada lagi jarak antara ayah dan putrinya.
Fathimah kembali kepada Rasulullah.
Dua tangan itu kemudian menghilang ke dalam kegelapan.
Imam Ali tetap berdiri.
Matanya menatap tempat jasad Fathimah baru saja diterima.
Untuk sesaat, dunia menjadi kosong.
Rasulullah telah pergi.
Fathimah telah pergi.
Dan Ali masih harus hidup.
Masih harus menjaga Hasan.
Menjaga Husain.
Menjaga Zainab dan Ummu Kultsum.
Menanggung kesunyian rumah.
Menanggung rahasia makam.
Menanggung umat yang telah begitu cepat berubah setelah kepergian Nabinya.
Perlahan Imam Ali keluar dari liang lahat.
Tanah mulai ditimbunkan.
Setiap genggam tanah seperti jatuh ke dalam dadanya.
Setelah makam tertutup, Ali meratakannya hingga tidak meninggalkan tanda.
Tidak ada batu bertuliskan nama.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada sesuatu yang dapat menunjukkan bahwa di bawah tanah itu terbaring putri manusia paling mulia.
Madinah memiliki makam Rasulullah.
Namun Madinah tidak mengetahui makam putri Rasulullah.
Itulah pesan terakhir Fathimah.
Makamnya disembunyikan agar pertanyaannya tidak pernah terkubur:
Mengapa putri Nabi meminta dimakamkan pada malam hari?
Mengapa ia tidak menghendaki orang-orang tertentu menghadiri pemakamannya?
Mengapa Ali harus menghapus jejak makamnya?
Setelah semuanya selesai, Imam Ali berdiri sendirian menghadap makam Rasulullah.
Air matanya jatuh.
“Salam atasmu, wahai Rasulullah, dariku dan dari putrimu yang kini berada di dekatmu…”
Suara Ali terputus.
“Amanah telah dikembalikan. Titipan telah diambil kembali.”
“Kesabaranku atas kepergian putrimu telah habis. Kekuatanku telah melemah.”
Malam mendengarkan ratapan lelaki yang tidak pernah mengadu kepada manusia.
Ali melanjutkan,
“Kesedihanku akan abadi. Malam-malamku akan kulewati tanpa tidur—hingga Allah mempertemukanku kembali dengan kalian.”
Angin Madinah menghapus jejak langkah rombongan kecil itu.
Ketika fajar tiba, penduduk baru mengetahui bahwa Fathimah telah dimakamkan.
Mereka mencari makamnya.
Tetapi tidak menemukannya.
Mereka tidak mengetahui di mana putri Nabi beristirahat.
Namun Ali mengetahuinya.
Ali juga mengetahui siapa yang menyambutnya.
Madinah tidak hadir ketika Fathimah dimakamkan.
Para penguasa tidak mengetahui tempatnya.
Sejarah kehilangan jejak makamnya.
Tetapi pada malam paling sunyi itu—
Rasulullah datang menjemput putrinya.
Dunia menguburkan Fathimah dalam kesunyian.
Langit menerimanya dengan pelukan seorang ayah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan:
Adegan dua tangan yang menyerupai tangan Rasulullah saw. diriwayatkan oleh Ibn Syahr Asyub dalam al-Manaqib dan karya-karya yang menukilnya; ia termasuk riwayat manaqib, sedangkan pemakaman malam, wasiat merahasiakan makam, dan ratapan Imam Ali memiliki jalur riwayat yang lebih luas.
Riwayat dua tangan yang menyambut Fathimah, ratapan Imam Ali setelah pemakaman. Sampai hari ini maqam Sayyidah Fathimah tidak diketahui letaknya.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Gar6A8sLf/

