25 September 2026

Dua lelaki berdiri di hadapan Ali.

Yang pertama menunjuk orang di sebelahnya.
“Dia budakku.”
Yang ditunjuk segera membalas.
“Demi Allah, justru dia budakku!”
Dua pengakuan saling berhadapan. Keduanya bersumpah. Keduanya menuduh. Dan di antara suara yang saling meninggi itu, sebuah persoalan menunggu diselesaikan:
Siapakah yang sedang mempertahankan identitasnya, dan siapakah yang sedang mencurinya?
Ali mendengarkan.
—
Perselisihan itu bermula dalam perjalanan menuju ibadah haji.
Seorang lelaki berangkat dari wilayah pegunungan bersama seorang budaknya. Di perjalanan, terjadi kesalahan yang membuat sang tuan memukulnya. Orang yang dipukul melawan dengan sebuah pengakuan yang membalikkan kedudukan mereka.
“Engkau bukan tuanku. Akulah tuanmu!”
Sejak itu, perjalanan mereka dipenuhi pertengkaran.
Bayangkan dua orang menempuh jalan yang sama, membawa kemarahan yang semakin berat. Setiap tuduhan dibalas tuduhan. Setiap ancaman mendapatkan ancaman tandingan. Sampai nama Kufah disebut: di sanalah mereka akan membawa perkara ini kepada Amirul Mukminin.
Kini keduanya telah sampai.
Lelaki pertama menjelaskan bahwa orang yang dibawanya telah melakukan kesalahan. Ia memukulnya, lalu orang itu melawan.
Lelaki kedua mengajukan cerita yang berbeda. Menurut pengakuannya, ayahnya mengirim orang tersebut untuk mendampinginya. Namun, di perjalanan, pendamping itu berbalik mengaku sebagai tuannya agar dapat menguasai hartanya.
Tuduhannya menjadi semakin berat.
Siapa yang berbohong sedang berusaha menempatkan seorang manusia merdeka dalam kedudukan budak.
Ali memberi kesempatan kepada keduanya untuk berbicara. Akan tetapi, yang muncul tetap dua cerita yang saling meniadakan.
Akhirnya, beliau menyuruh mereka pergi dan kembali keesokan hari dengan membawa kebenaran.
Malam diberikan kepada keduanya.
Kesempatan untuk mengakhiri dusta masih terbuka.
—
Pagi tiba.
Ali memerintahkan Qanbar membuat dua lubang pada sebuah dinding.
Dua lubang.
Orang yang melihatnya belum tentu dapat menghubungkan pekerjaan sederhana itu dengan perkara yang sedang menunggu keputusan.
Dalam penggambaran kita, serpihan dinding jatuh ke tanah. Cahaya pagi menyentuh permukaannya yang kasar. Di sekitarnya, orang-orang mulai berkumpul. Kabar perselisihan dua lelaki itu mengundang rasa ingin tahu.
Ada yang meragukan bahwa perkara semacam ini dapat diselesaikan.
Keduanya sama-sama mengaku. Sama-sama bersumpah.
Bagaimana Ali akan membedakannya?
Dua lelaki itu datang kembali.
Ali bertanya tentang pendirian mereka.
Jawabannya tetap sama.
Masing-masing bersumpah bahwa orang di sebelahnya adalah budaknya.
Satu malam telah berlalu. Kebohongan masih dipertahankan.
—
Ali menyuruh keduanya berdiri.
Lalu beliau mengarahkan salah seorang ke sebuah lubang dan memintanya memasukkan kepala ke sana. Orang yang lain diperintahkan melakukan hal yang sama pada lubang kedua.
Bayangkan kegaduhan perlahan surut.
Kini dua kepala berada pada dua lubang dinding. Tubuh mereka tertahan pada posisinya. Mereka menunggu, sementara orang-orang di sekitar berusaha memahami arah tindakan Ali.
Mengapa harus demikian?
Apa hubungan dinding itu dengan pengakuan mereka?
Kemudian suara Ali terdengar memanggil Qanbar.
Beliau meminta pedang Rasulullah.
Lalu datang perintah yang mengubah seluruh ketegangan menjadi satu detik yang menentukan:
“Segera! Penggal leher yang menjadi budak di antara keduanya!”
Salah seorang langsung menarik kepalanya keluar.
Gerakannya mendahului penjelasan.
Orang yang lain tetap berada pada tempatnya.
Tidak ada leher yang dipenggal.
Tetapi siasat Ali telah membuka jalan menuju pertanyaan yang tidak lagi mudah dihindari.
—
Ali menghadap lelaki yang menarik kepalanya.
“Bukankah engkau mengaku bahwa engkau bukan budak?”
Pertanyaan itu tepat mengenai pertentangan antara ucapannya dan tindakannya.
Sejak kemarin ia mempertahankan sebuah identitas. Ia menyusunnya menjadi cerita, menguatkannya dengan sumpah, lalu mengulanginya di hadapan orang banyak.
Namun, ketika perintah menyebut kedudukan yang sebenarnya ia miliki, ia bereaksi.
Di dalam alur kisah ini, Ali menangkap reaksi tersebut dan segera menghadapkannya kepada pengakuan semula.
Kini orang itu menjawab dengan cerita yang berbeda.
Ia mengakui kedudukannya, lalu mengungkapkan alasan perlawanannya: tuannya telah memukul dan bertindak melampaui batas terhadap dirinya.
Di situlah persoalan yang tersembunyi di balik pengakuan palsu muncul ke permukaan.
Ada kemarahan. Ada pengaduan tentang perlakuan yang diterimanya. Dan ada kebohongan yang dipakai untuk membalasnya.
Ali telah membongkar pengakuan palsu itu.
Riwayat kemudian menutup perkara dengan peneguhan hubungan kepemilikan tersebut dan penyerahan orang itu kepada tuannya.
—
Orang-orang yang datang untuk menyaksikan perkara mustahil kini mempunyai sesuatu untuk dibawa pulang.
Mereka telah melihat dua cerita yang tampaknya sama kuat.
Mereka telah mendengar sumpah yang beradu dengan sumpah.
Kemudian, di hadapan Ali, seluruh perkara berbelok melalui sebuah siasat singkat, sebuah gerakan spontan, dan pertanyaan yang membawa pelakunya kepada pengakuan.
Kedahsyatan adegan itu terletak pada ketepatan Ali membaca saat.
Beliau memberikan waktu untuk berkata jujur. Ketika kedua pihak kembali dengan pengakuan yang sama, beliau menciptakan keadaan yang mengguncang cerita palsu itu dari dalam.
Sesudahnya, beliau tetap bertanya.
Dan jawaban orang itulah yang membuka apa yang sebenarnya terjadi.
Bayangkan kembali dinding tersebut setelah orang-orang beranjak pergi.
Dua lubang masih ada di sana.
Serpihan tanah tergeletak di bawahnya.
Tempat yang tadi menahan dua kepala kini kosong. Namun, di dalam ingatan mereka yang menyaksikan, satu adegan akan terus tinggal:
Seorang lelaki menarik kepalanya untuk menyelamatkan diri—dan meninggalkan kebohongannya di hadapan Ali.
2 pengakuan
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Kisah ini terdapat dalam Al-Kafi, jilid 7, hlm. 425, hadis 8, melalui penuturan Imam Ja‘far ash-Shadiq.
Al-Majlisi menilai sanadnya lemah; karena itu, kita menyajikannya sebagai kisah yang diriwayatkan, bukan kejadian yang dipastikan sahih.
Suasana dan penggambaran gerak merupakan dramatisasi, sedangkan dialog disampaikan dalam terjemahan makna. Reaksi ketakutan dalam kisah ini diikuti pengakuan; ketakutan sendiri bukan ukuran universal untuk membuktikan seseorang berdusta
—

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us