Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Dirimu Akan Sumpek Terhadap Pikiranmu Sendiri | Ngaji Filsafat

Dirimu Akan Sumpek Terhadap Pikiranmu Sendiri | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Dirimu Akan Sumpek Terhadap Pikiranmu Sendiri | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Ajaran Tasawuf Imam Junayd al-Baghdadi: Tauhid, Perjanjian Ruh (Mitsaq), dan Tingkatan Tauhid

Ada beberapa ajaran tasawuf yang terkenal dari Imam Junayd al-Baghdadi, di antaranya yang pertama adalah Tauhid, dan yang kedua adalah Fana.
Kunci utama dari tauhid ini adalah memisahkan antara yang Baqoโ€™ (Maha Kekal) dan yang Fana (fana atau sementara).
Hal ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang fana dan segala sesuatunya ditentukan oleh Allah Yang Esa dan Maha Kekal.

1. Teologi Negatif dalam Mengenal Allah
Dalam menjelaskan tauhid, Imam Junayd lebih menyukai pendekatan definisi negatif (Laisa kamislihi).
Beliau mengutip perkataan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Maha Suci Allah, Zat yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk-Nya untuk mengenal-Nya melainkan melalui ketidakmampuan untuk mengenal-Nya.”.

Secara filosofis, hal ini berarti cara terbaik untuk mengenal Allah adalah dengan mengakui secara jujur bahwa kita tidak akan pernah mampu mengenal-Nya secara penuh dengan kapasitas kemampuan kita sendiri.
Mengapa demikian? Karena Allah itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun, termasuk konsep, gambaran, maupun imajinasi yang ada di dalam pikiran manusia.

Oleh sebab itu, kalimat tauhid sendiri diawali dengan penafian (peniadaan) total: “La ilaha” (tidak ada tuhan).
Segala gagasan, bayangan, atau pikiran kita tentang Allah harus dinafikan terlebih dahulu, hingga akhirnya hanya menyisakan Allah yang tidak terjangkau oleh akal kita.
Dalam studi agama, pendekatan ini disebut Teologi Negatifโ€”yaitu memahami atau mendefinisikan eksistensi sesuatu justru melalui negasinya (seperti menjelaskan ciri seseorang dengan menyebutkan apa saja yang “bukan” merupakan dirinya).
Melalui negasi total terhadap segala hal inilah, manusia baru bisa benar-benar mengenal Allah.

2. Perjanjian Ruh (Teori Mitsaq)

Dasar dari keharusan bertauhid ini kembali pada janji asal manusia yang tercantum dalam Surah Al-A’raf.
Sebagian pemikir neoplatonisme menafsirkan risalah Imam Junayd mengenai konsep Mitsaq (perjanjian asal) ini.
Sebelum terlahir ke dunia fisik, kita semua berada di alam ruh.
Di alam tersebut, terjadi pertemuan murni dan sejati antara Haqq yang besar (Allah) dengan haqq kecil (manusia) sebelum ruh dimasukkan ke dalam jasad.

Setelah manusia lahir ke dunia, keberadaan jasad, pikiran yang kacau, serta gaya hidup sering kali memunculkan banyak hijab (penghalang) yang membuat ingatan akan pertemuan sejati itu menjadi samar.
Namun, jika kita mau meneliti lebih serius dan masuk mendalam ke dalam diri kita sendiri, kita akan menemukan kebenaran sejati tersebut.
Dulu, saat ruh kita bertemu dengan Allah di alam perjanjian, Allah bertanya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, dan ruh kita menjawab: “Betul, kami bersaksi” (Bala syahidna).

Imam Junayd menyebut perjanjian purba ini sebagai Mitsaq.
Dengan demikian, seluruh perjalanan hidup manusia di dunia pada hakikatnya adalah sebuah proses untuk mewujudkan dan memenuhi perjanjian tersebut.
Ketika hidup manusia melenceng dari jalan Allah atau menjauh dari-Nya, manusia sebenarnya sedang mengkhianati janji yang ia buat sendiri.
Oleh karena itu, jalan hidup kita di dunia seharusnya menjadi sebuah pembuktian kesaksian janji tersebut, bukan sebuah kisah pengkhianatan.

3. Empat Tingkatan Tauhid

Menurut Imam Junaydโ€”yang pembagiannya nanti juga diikuti oleh Imam Ghazaliโ€”tauhid terbagi menjadi empat tingkatan:

  • Tauhid Orang Awam (Tauhiddul Awam):
    Ini adalah tingkatan tauhid masyarakat umum. Kita sekadar mengesakan Allah dan bersaksi bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah.
    Ciri utama dari level awam ini adalah seseorang masih memiliki rasa takut (khauf) dan harapan (rajaโ€™) terhadap hal-hal lain di luar dirinya selain Allah (seperti takut kepada orang lain, takut kepada atasan, takut kekuatan lain, atau menggantungkan harapan bantuan pada manusia).
  • Tauhid Orang Alim (Tauhiddul Alim):
    Ini adalah tingkatan orang-orang yang berilmu. Selain bersaksi, mereka juga bertakwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
    Mereka memahami bahwa tauhid, fiqih, dan tasawuf adalah satu kesatuan yang saling berhubungan.
    Pada tingkatan ini, mereka masih memiliki rasa takut dan harapan, tetapi objek ketakutan dan harapan itu sudah bergeser ke dalam diri mereka sendiri (seperti khawatir berbuat salah, khawatir keliru, atau cemas akan keinginan-keinginan pribadinya).
    Orang alim sering kali merasa sumpek karena sibuk dan terjebak oleh pikiran serta pertimbangannya sendiri (berbeda dengan orang awam yang hidupnya lebih spontan tanpa banyak pertimbangan pikiran).
  • Tauhid Orang Khawas (Tauhiddul Khawas):
    Pada tingkat ini, segala rasa takut dan harapan sepenuhnya disandarkan hanya kepada Allah.
  • Tauhid Orang Khawasul Khawas:
    Tingkatan tertinggi di mana rasa takut dan harapan pribadi sudah tidak ada lagi.
    Diri mereka sendiri telah ditepikan sehingga yang tersisa hanya Allah. Hasrat duniawi, ambisi, bahkan aspek kemanusiaan mereka ditaruh di pinggir (disisihkan, bukan dibuang) agar Allah menjadi pusat dari segalanya.
    Pada kondisi ini, posisi diri mereka seolah-olah digantikan oleh Allahโ€”ketika berjalan, berbicara, atau melihat, semuanya digerakkan oleh Allah.
    Urusan duniawi seperti makan, minum, pangkat, atau jabatan diletakkan di pinggir.
    Mereka mengambil dunia dan makan-minum secukupnya saja, sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani agar terus bisa menghidupkan kesadaran akan Allah di dalam dirinya.

Ajaran Tasawuf Imam Junayd al Baghdadi

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us