Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Dimensi Sosial Puasa Ramadhan dari Untaian Doa Imam Zainul Abidin
Puasa sebagai Madrasah Sosial
Puasa tidak hanya sekadar ibadah vertikal antara seorang hamba dengan Allah SWT, melainkan juga sebuah “madrasah” yang memuat agenda-agenda sosial penting.
Agar puasa dapat menghasilkan ketakwaan dan mengubah kepribadian seseorang menjadi lebih baik, ibadah ini harus diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Salah satu panduan terbaik untuk mengisi Ramadhan adalah doa ke-44 dari Imam Zainul Abidin dalam menyambut bulan suci ini.
Dalam bait doa tersebut, terdapat delapan poin agenda sosial dan spiritual yang ditekankan untuk menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat:
- Menyambung Silaturahmi (Kekerabatan)
Hubungan kekeluargaan yang dekat secara nasab (seperti saudara, paman, bibi, dan anak-anak mereka) sangat rentan terhadap gesekan karena adanya berbagai kepentingan.
Islam sangat menekankan silaturahmi untuk meredam keretakan tersebut.
Caranya adalah dengan tidak mengganggu/menyakiti mereka, memaafkan kesalahan mereka, serta memberikan bantuan finansial jika mereka membutuhkan.
Membantu keluarga dekat yang membutuhkan akan mendatangkan dua pahala sekaligus, yaitu pahala bersedekah/hadiah dan pahala silaturahmi. - Berbuat Baik kepada Tetangga
Tetangga adalah orang-orang yang hidup di sekitar kita. Hubungan ketetanggaan juga dapat memicu konflik jika kepentingan individu lebih mendominasi dibanding kepentingan bersama.
Seorang mukmin harus memberikan perhatian serius kepada tetangganya dengan tidak mengganggu mereka, memaafkan kekurangan mereka, serta bersedekah atau memberi santunan bagi yang membutuhkan.
Keberadaan seorang mukmin sejati harus membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya (al-mukmin barokatun lima jawar). - Menyucikan Harta dengan Zakat
Kita dituntut untuk membersihkan harta dari hak orang lain dan membebaskannya dari segala bentuk tuntutan serta tanggung jawab di akhirat dengan menunaikan zakat. - Menyambung Kembali Hubungan yang Terputus
Islam sangat memuji tindakan menghubungi kembali kerabat atau teman yang telah memutuskan hubungan dengan kita (an tasi la man qoto’aka).
Di era modern saat ini, jarak bukan lagi penghalang karena kita bisa dengan mudah menyambung hubungan baik melalui telepon, pesan, surat, maupun kunjungan langsung. - Berlaku Adil kepada Orang yang Mendzalimi Kita
Jika hak kita dirampas dan kita ingin mengambilnya kembali, kita harus mengambilnya dengan cara yang baik dan tidak melampaui batas.
Kita dilarang keras membalas kezaliman dengan kezaliman yang sama. - Berdamai dengan Orang yang Memusuhi Kita
Kita diajarkan untuk menjadi pihak pertama yang mengulurkan tangan demi perdamaian guna menghentikan permusuhan pribadi.
Namun, hal ini dikecualikan bagi musuh yang dimusuhi demi Allah dan agama-Nya (orang-orang yang merusak agama dan menyesatkan umat manusia).
Kita baru bisa berdamai dengan mereka jika mereka menghentikan aktivitas permusuhannya terhadap Allah dan agama-Nya. - Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Amal Suci
Memohon taufik kepada Allah agar kita dibimbing untuk melakukan amal-amal suci yang mampu membersihkan diri kita dari dosa-dosa masa lalu. - Menjaga Diri dari Mengulangi Dosa
Memohon penjagaan agar tidak kembali mengulangi kesalahan dan perbuatan dosa.
Dengan demikian, laporan pertanggungjawaban yang dibawa oleh para malaikat akan dipenuhi oleh nilai-nilai ibadah serta ketaatan, dan bersih dari kemaksiatan.
Kesimpulan
Doa-doa yang diajarkan oleh para imam suci Ahlulbait tidak hanya berisi permohonan yang sifatnya pribadi atau demi kepentingan individu semata.
Lebih dari itu, doa-doa tersebut merupakan sarana edukasi yang mengajarkan nilai-nilai sosial positif dan mengarahkan kita untuk menghias diri dengan akhlak yang mulia selama bulan puasa.

Judul video: Dimensi Sosial Puasa Ramadhan Dalam Uraian Doa Cucu Nabi Saw – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


