Cahaya Itu di Rumah Fatimah dan Ali as. (2)
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Asal-Usul Nama Surah An-Nur dan Hakikat Cahaya Allah
Surah An-Nur dinamakan berdasarkan kata “Nur” yang terdapat di dalam ayat utama yang sedang dikaji.
Ayat tersebut berbunyi, “Allahu nurus samawati wal ardh” (Allah adalah cahaya langit dan bumi).
Frasa “langit dan bumi” di sini merupakan simbol yang menggambarkan seluruh jagat raya secara totalitas, serupa dengan ungkapan “pagi dan petang” yang mewakili keseluruhan hari.
Kata “Nur” di dalam ayat ini tidak boleh diartikan sebagai cahaya fisik atau materi seperti listrik, lampu, atau obor.
Secara hakiki, Nur didefinisikan sebagai sesuatu yang jelas (nyata) pada dirinya sendiri sekaligus membuat hal lain di sekitarnya menjadi jelas.
Ketika Allah disebut sebagai Nur, artinya Dia adalah Dzat Yang Maha Jelas (Maha Nyata) yang mengeluarkan seluruh jagat raya dari ketiadaan menjadi ada, sehingga segala sesuatu menjadi tampak nyata dan jelas bagi kita.
Perumpamaan Cahaya Allah (Masyalul Nur)
Melalui percontohan (tamsil), Allah menggambarkan cahaya-Nya bagaikan sarana penerangan zaman dahulu.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa perumpamaan ini menggambarkan ma’rifat (pengenalan mendalam terhadap Allah dan kebenaran) yang bersemayam di dalam hati seorang mukmin.
Komponen perumpamaan tersebut meliputi:
- Miskat:
Lubang transparan pada tembok tempat meletakkan lampu. - Misbah:
Lampu minyak bersumbu yang diletakkan di dalam miskat. - Zujajah:
Kaca pelindung lampu yang sangat bening bagaikan bintang bercahaya sangat kuat (kaukabun durriyyun). - Minyak Zaitun:
Bahan bakar lampu yang berasal dari pohon zaitun penuh berkah.
Pohon ini tumbuh di posisi tengah (tidak di barat maupun di timur), sehingga menerima sinar matahari secara utuh dan menghasilkan buah serta minyak yang sangat berkualitas.
Minyak ini begitu murni hingga hampir-hampir memancarkan cahaya dengan sendirinya meskipun belum tersentuh api. - Nurun ‘ala Nur (Cahaya di atas Cahaya):
Gambaran limpahan cahaya yang berlipat ganda karena pantulan sempurna dari api, kemurnian minyak, dan kebeningan kaca. Melalui cahaya inilah Allah membimbing siapa saja yang Dia kehendaki.
Rumah dan Jiwa Tempat Cahaya Allah Bersemayam
Cahaya makrifat Allah tersebut berada di dalam rumah-rumah (buyut) yang diizinkan Allah untuk ditinggikan, diagungkan, dan dimuliakan.
Kata “buyut” di sini dapat dimaknai sebagai bangunan fisik (tempat ibadah), penghuni di dalamnya, ataupun jiwa manusia yang menyimpan makrifat sempurna.
Rumah-rumah atau jiwa-jiwa ini memiliki tiga sifat utama:
- Pengagungan Nama Allah:
Tempat di mana nama Allah selalu diingat dan disebut dalam hati serta pikiran. - Senantiasa Bertasbih:
Tempat di mana orang-orang menyucikan Allah dari sifat kurang dan menetapkan sifat terpuji bagi-Nya di waktu pagi dan petang (sepanjang hari). - Tidak Dilalaikan oleh Dunia:
Penghuninya adalah orang-orang (rizal, mencakup laki-laki dan perempuan) yang profesi dagangnya (tijarah) maupun transaksi jual-belinya (bai’) tidak pernah melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.
Shalat disimbolkan sebagai dasar hubungan langsung hamba dengan Tuhan, sedangkan zakat melambangkan hubungan hamba dengan sesama manusia.
Rasa Takut akan Hari Kiamat dan Pentingnya Kesucian Doa
Para penghuni rumah cahaya ini senantiasa takut terhadap hari kiamat, yaitu hari yang sangat dahsyat di mana hati dan penglihatan manusia akan berbolak-balik karena menyaksikan kedahsyatan hari itu.
Mereka mengkhawatirkan nasib akhir mereka di hadapan Allah.
Terkait kondisi ini, terdapat doa populer “Ya Muqallibal qulub wal abshar”.
Diuraikan riwayat penting di mana Imam Ja’far ash-Shadiq mengajarkan doa khusus kepada muridnya dengan redaksi “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik”.
Saat murid tersebut mencoba menambahkan kata “al-abshar” (penglihatan) ke dalamnya, Imam menegurnya untuk membaca doa sesuai teks asli yang diajarkan tanpa menambah atau menguranginya.
Hal ini menunjukkan bahwa redaksi doa yang diajarkan para Imam bersifat suci, memiliki rahasia tersendiri, dan tidak boleh direvisi secara sembarangan.
Balasan dan Karunia Sempurna dari Allah
Allah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi mereka yang menjaga cahaya ini di dalam jiwa mereka:
- Penyempurnaan Pahala:
Allah akan membalas mereka dengan balasan amal terbaik.
Jika terdapat kekurangan dalam amal ibadah mereka di dunia, Allah akan menutup kekurangan tersebut dan menyempurnakannya sehingga mereka menerima pahala yang paling sempurna. - Anugerah Berlimpah:
Allah tidak hanya membalas sesuai amal, tetapi juga menambahkan karunia-Nya yang berlimpah semata-mata karena kemurahan-Nya yang tanpa batas (bighairi hisab). - Kontras dengan Orang Kafir:
Sebaliknya, amal perbuatan orang-orang kafir digambarkan bagaikan fatamorgana yang akan disia-siakan dan berakhir tanpa nilai.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Cahaya Itu di Rumah Fatimah dan Ali as. (2) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:

Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






