Hentikan tuduhan bodoh yang menyakiti Rasulullah!
Ada orang yang begitu ringan berbicara tentang neraka untuk Abu Thalib. Seolah-olah kehidupan lelaki itu dapat dihapus dengan satu tuduhan.
Seolah-olah keberaniannya melindungi Rasulullah, pengakuannya terhadap kenabian Muhammad, dan kesaksian Ahlul Bait tentang imannya tidak perlu didengarkan.
Padahal, sebelum banyak orang mengenal kemuliaan Muhammad, Abu Thalib telah merawatnya. Ketika dakwah menghadapi ancaman, ia mempertaruhkan kedudukan dan keselamatan untuk melindunginya.
Lalu berabad-abad kemudian, lidah yang mengaku mencintai Rasulullah begitu mudah merendahkan orang yang dahulu menjadi tempat beliau berlindung.
Ada yang harus diluruskan dalam cara kita membaca sejarah. Ada pula adab yang harus dikembalikan ketika kita menyebut keluarga Nabi.
Dalam tuntunan Ahlul Bait, Abu Thalib adalah mukmin sejati. Tuduhan bahwa ia meninggal dalam kekafiran kami tolak dengan tegas.
Kita mulai dengan memperjelas namanya. Abu Thalib adalah kunyah yang masyhur. Nama ‘Imrān kita gunakan mengikuti salah satu pendapat dalam khazanah Ahlul Bait yang juga dibahas Sayyid Muhammad al-Shadr.
Ayahnya bernama Syaibah, dikenal pula sebagai Syaibatul Hamd, dan masyhur dengan sebutan Abdul Muthalib. Dengan penamaan yang kita ikuti tersebut, ia adalah ‘Imrān bin Syaibah bin Hasyim.
Penyebutan Syaibah menampilkan nama diri ayahnya; Abdul Muthalib adalah sebutan historis yang telah melekat kepadanya.
Namun, keimanan Abu Thalib mempunyai landasan tersendiri yang jauh lebih mendasar daripada pembahasan nama.
Syekh al-Mufid dalam Awā’il al-Maqālāt mencatat kesepakatan Imamiyah bahwa Abu Thalib wafat sebagai seorang mukmin. Sikap itu mempunyai akar dalam riwayat para Imam Ahlul Bait.
Salah satunya tersimpan dalam Al-Kāfī.
Ketika Imam Ja’far ash-Shadiq as diberi tahu bahwa ada orang-orang yang menganggap Abu Thalib kafir, beliau menjawab:
> كَذَبُوا
“Mereka berdusta.”
Imam kemudian mengingatkan perkataan Abu Thalib:
> أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّا وَجَدْنَا مُحَمَّدًا
نَبِيًّا كَمُوسَى خُطَّ فِي أَوَّلِ الْكُتُبِ
“Tidakkah kalian mengetahui bahwa kami mendapati Muhammad sebagai nabi seperti Musa, yang disebut dalam kitab-kitab terdahulu?”
Riwayat pokok yang memuat jawaban dan bait ini dinilai sahih oleh al-Majlisi dalam Mir’āt al-‘Uqūl.
Perhatikan apa yang diakui Abu Thalib: Muhammad adalah nabi.
Ia berbicara tentang kenabian, menghubungkannya dengan Musa, dan menyebut kesaksiannya dalam kitab-kitab terdahulu. Pengakuan itu memiliki kandungan keagamaan yang jelas.
Hubungan darah dapat menjelaskan mengapa seseorang merasa dekat dengan kerabatnya. Pengakuan terhadap kenabian memberikan kesaksian lain: ia membenarkan kedudukan Muhammad sebagai utusan Allah. Menyusutkan seluruh pengakuan itu menjadi fanatisme keluarga berarti mengabaikan isi perkataannya.
Siapa pun yang ingin membantahnya harus menjawab pengakuan tersebut dengan argumentasi. Mengulang tuduhan tidak sama dengan menjawab bukti.
Lebih jauh, Imam ash-Shadiq as memberikan penjelasan tentang cara Abu Thalib menjaga imannya. Dalam riwayat lain di Al-Kāfī, beliau menyerupakan Abu Thalib dengan Ashabul Kahfi: mereka menyembunyikan iman, menampakkan syirik, dan Allah memberikan pahala dua kali kepada mereka. Al-Majlisi menilai riwayat ini hasan.
Penjelasan tersebut mengajak kita memahami kehidupan seorang mukmin di tengah lingkungan yang memusuhi kebenaran. Sikap lahiriah dapat menjadi bagian dari perlindungan terhadap keyakinan dan amanah yang dijaganya. Dalam riwayat itu, inti batin Abu Thalib diterangkan sebagai iman.
Al-Qur’an sendiri memberi kita dasar untuk memahami keadaan demikian:
> وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ
“Dan seorang laki-laki beriman dari keluarga Fir‘aun, yang menyembunyikan imannya, berkata…” — QS Ghafir: 28.
Perhatikan ketelitian bahasa wahyu. Orang itu disebut mukmin, sementara pada kalimat yang sama Allah menyebutnya menyembunyikan iman. Ia kemudian membela Musa dari ancaman pembunuhan.
Menyembunyikan iman tidak menghapus iman.
Ayat itu mengajarkan prinsipnya. Riwayat Imam ash-Shadiq menerangkan penerapannya pada Abu Thalib.
Keduanya memberi kita alasan untuk membaca lebih dalam daripada sekadar penampilan seseorang di hadapan lingkungan yang mengancamnya.
Ada keberanian dalam menyatakan keyakinan secara terbuka. Ada pula keberanian dalam mempertahankan kedudukan yang memungkinkan seseorang melindungi pembawa kebenaran.
Nilainya harus dibaca bersama niat, pengakuan, dan tindakan yang menyertainya.
Pada Abu Thalib, tindakan itu mempunyai harga yang nyata.
Riwayat sejarah yang dihimpun dalam khazanah Ahlul Bait menggambarkan bagaimana ia mengatur keselamatan Rasulullah hingga pada tempat tidur beliau. Ia memindahkan Nabi dari tempat yang telah diketahui orang dan menempatkan Ali di sana untuk melindungi beliau dari ancaman.
Renungkan keputusan seorang ayah dalam peristiwa itu. Ia mengetahui kemungkinan bahaya, dan putranya ikut menanggungnya. Perlindungan terhadap Nabi telah memasuki wilayah yang paling mahal dalam kehidupan manusia: keselamatan anak sendiri.
Di hadapan pengorbanan demikian, kita seharusnya membaca dengan kesungguhan. Pengakuan Abu Thalib terhadap kenabian Muhammad memperoleh bentuk dalam kesetiaan yang menanggung risiko.
Dalam riwayat lain di Al-Kāfī, Rasulullah mengalami penghinaan di Masjidil Haram: orang-orang musyrik melemparkan selaput janin unta hingga mengotori pakaian beliau. Nabi kemudian mendatangi Abu Thalib.
Setelah mendengar kejadian itu, Abu Thalib mengajak Hamzah dan menghadapi para pelakunya. Riwayat tersebut memperlihatkan ketegasannya membela kehormatan Rasulullah. Al-Majlisi menilainya hasan kaṣ-ṣaḥīḥ.
Ada hal yang menyentuh dalam peristiwa tersebut: ketika kehormatannya dilukai, Rasulullah mendatangi Abu Thalib. Beliau menemukan seorang pelindung yang menanggapi penderitaannya dengan tindakan.
Karena itu, membaca Abu Thalib memerlukan kemampuan melihat manusia secara utuh: perkataannya, kesetiaannya, tanggung jawabnya, serta kesaksian Ahlul Bait tentang dirinya. Seluruhnya harus memperoleh tempat dalam penilaian.
Kejujuran menuntut kita mendengarkan bukti, termasuk ketika bukti itu mengganggu cerita yang sudah lama kita dengar. Kebiasaan mengulang suatu tuduhan tidak memberinya kekebalan dari pemeriksaan.
Lalu, bagaimana dengan adab kepada Rasulullah?
Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap perbuatan menyakiti Allah dan Rasul-Nya dalam QS al-Ahzab: 57. Peringatan itu menuntut kesungguhan kita menjaga kehormatan beliau.
Bagi kita yang menerima kesaksian Ahlul Bait tentang iman Abu Thalib, menodai kehormatannya dengan tuduhan kekafiran juga melukai penghormatan kepada rumah yang mengasuh dan melindungi Rasulullah. Nama lelaki itu menyimpan bagian penting dari masa kecil, perjuangan, dan kehidupan Nabi.
Maka pertanyaan yang patut diajukan kepada diri sendiri ialah: bagaimana kecintaan kepada Rasulullah membentuk cara kita berbicara tentang orang yang begitu setia menjaganya?
Cinta seharusnya menumbuhkan kehati-hatian dalam menuduh. Ilmu seharusnya membuat kita sanggup mengoreksi sesuatu yang diwariskan tanpa diperiksa. Adab seharusnya mencegah kita menikmati kisah yang merendahkan orang-orang mulia.
Yang bodoh adalah cara membaca yang mengabaikan kesaksian, menutup pemeriksaan, lalu menganggap pengulangan tuduhan sebagai kebenaran.
Karena itu, hentikan tuduhan tersebut. Bacalah pengakuan Abu Thalib tentang kenabian Muhammad. Dengarkan kesaksian Imam ash-Shadiq. Pelajari bagaimana hidupnya dipertaruhkan untuk melindungi Rasulullah.
Kita mempunyai alasan yang jelas untuk bersikap tegas.
Abu Thalib adalah mukmin sejati. Dalam pengajaran Ahlul Bait, ia menjaga iman dan mempersembahkan keberanian untuk melindungi utusan Allah. Namanya layak disebut dengan penghormatan.
Ia telah memberikan perlindungan kepada Rasulullah ketika perlindungan itu menuntut pengorbanan. Sudah sepatutnya kita menjaga kehormatannya dengan ilmu, kejujuran, dan kesetiaan kepada kesaksian keluarga Nabi.
Hentikan tuduhan bodoh yang menyakiti Rasulullah itu.
Salam atas Abu Thalib, penjaga Rasulullah dan ayah Amirul Mukminin.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1bdqP5XDEE/

