24 September 2026
Tak ada pasukan.
Tak ada denting pedang.
Tak ada mimbar, panji-panji, ataupun lautan manusia yang menunggu sebuah pidato.
Hanya sebuah dinding tua yang miring—dan seorang manusia yang memilih untuk tidak berdiri di bawahnya.
Riwayat tidak menyebutkan nama jalan itu. Tidak pula dikisahkan siapa saja yang berada di sana. Yang disisakannya bagi kita hanyalah sebuah pemandangan sederhana: Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berada di dekat sebuah dinding yang telah condong.
Boleh jadi retakan telah menjalar di tubuhnya.
Boleh jadi butiran tanah sesekali luruh dari sela-sela batunya.
Apa pun yang tampak oleh mata Ali, beliau mengetahui bahwa dinding itu tidak lagi aman.
Maka beliau beranjak.
Sebuah tindakan sederhana. Beliau berpindah dari sisi dinding yang miring itu menuju tempat lain.
Sebuah gerakan yang sangat biasa.
Namun seseorang yang menyaksikannya membawa pertanyaan yang telah berabad-abad membingungkan manusia.
“Wahai Amirul Mukminin,” tanyanya, “apakah engkau melarikan diri dari qadhā’ Allah?”
Pertanyaan itu seolah hendak mengatakan:
Bukankah segala sesuatu telah berada dalam ketetapan-Nya?
Jika dinding itu ditakdirkan runtuh menimpamu, dapatkah langkahmu menyelamatkanmu?
Dan jika engkau ditakdirkan selamat, mengapa harus berpindah?
Ali berhenti.
Di belakangnya berdiri dinding yang miring. Di hadapannya terbentang tempat yang lebih aman.
Kemudian beliau menjawab dengan kalimat yang ringkas, tetapi cukup untuk meruntuhkan seluruh bangunan fatalisme:
«“Aku menghindar dari qadhā’ Allah menuju qadar Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung.”»
أَفِرُّ مِنْ قَضَاءِ اللّٰهِ إِلَىٰ قَدَرِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dinding itu berada di bawah kekuasaan Allah.
Namun mata yang melihat kemiringannya juga berasal dari Allah.
Hukum yang membuat suatu bangunan dapat runtuh adalah ketetapan-Nya. Tetapi akal yang mampu membaca bahaya, kaki yang sanggup melangkah, dan tempat aman yang dapat dituju juga berada dalam ketetapan-Nya.
Mengapa manusia hanya menyebut bahaya sebagai takdir, tetapi melupakan bahwa jalan keluar pun merupakan bagian dari takdir?
Ali tidak melangkah keluar dari kekuasaan Allah. Tidak ada satu tempat pun di langit dan bumi yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Beliau berpindah dari satu keadaan yang ditetapkan Allah menuju keadaan lain yang juga berada dalam ukuran dan ketetapan Allah.
Itulah jawaban bagi mereka yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa.
Ketika sakit, mereka berkata, “Jika Allah menghendaki, aku akan sembuh,” tetapi enggan mencari pengobatan.
Ketika bahaya datang, mereka berkata, “Jika umurku masih panjang, aku pasti selamat,” tetapi tidak mau menyelamatkan diri.
Ketika kezaliman tumbuh, mereka berkata, “Semua telah ditentukan,” lalu membiarkan tangan mereka tetap terlipat.
Padahal obat, kewaspadaan, perjuangan, dan keputusan manusia tidak berdiri di luar kehendak Allah. Semua itu adalah sebab-sebab yang tersedia di dalam tatanan-Nya.
Takdir bukan alasan untuk mematikan akal.
Tawakal bukan nama lain bagi kelalaian.
Iman tidak memerintahkan manusia untuk duduk di bawah dinding yang nyaris runtuh, lalu menunggu mukjizat demi membuktikan keyakinannya.
Allah yang memerintahkan manusia bertawakal adalah Allah yang menganugerahkan penglihatan untuk mengenali retakan. Allah yang menentukan datangnya hujan adalah Allah yang mengajarkan manusia membangun atap. Allah yang menguasai hidup dan mati adalah Allah yang memerintahkan manusia menjaga kehidupan yang diamanahkan kepadanya.
Sebab itu, satu langkah Ali mengandung pelajaran yang amat luas:
Ikhtiar bukan pemberontakan terhadap takdir.
Ikhtiar adalah tanggung jawab manusia di dalam takdir.
Manusia memang tidak menguasai seluruh hasil. Ia dapat berhati-hati, tetapi musibah mungkin tetap datang dari arah lain. Ia dapat berobat, tetapi kesembuhan tetap bukan miliknya untuk dipastikan. Ia dapat menyusun rencana sebaik-baiknya, tetapi hari esok tetap berada dalam genggaman Allah.
Namun ketidakmampuan memastikan hasil tidak membebaskannya dari kewajiban memilih dengan benar.
Di situlah kehambaan menemukan keseimbangannya.
Akal bekerja.
Tubuh berusaha.
Hati berserah.
Tangan manusia mengetuk pintu-pintu sebab, tetapi ia mengetahui bahwa hanya Allah yang membukakan hasilnya.
Maka tawakal bukanlah sikap sebelum usaha yang berkata, “Aku tidak perlu berbuat apa-apa.”
Tawakal adalah ketenangan setelah usaha yang berkata, “Aku telah melakukan yang mampu kulakukan; selebihnya kuserahkan kepada Allah.”
Barangkali orang yang bertanya itu sebelumnya membayangkan takdir sebagai lorong sempit yang memenjarakan manusia: apa pun yang dilakukan tidak akan berarti.
Tetapi dengan satu langkah, Ali memperlihatkan bahwa tanggung jawab manusia tidak lenyap di hadapan ketetapan Tuhan. Justru di dalam ruang yang telah dianugerahkan Tuhan itulah pilihan manusia memperoleh nilai.
Jika manusia benar-benar dipaksa tanpa memiliki pilihan, untuk apa ada perintah dan larangan?
Untuk apa kejujuran dipuji dan pengkhianatan dicela?
Untuk apa keberanian diberi pahala dan kezaliman dimintai pertanggungjawaban?
Allah mengetahui pilihan manusia, tetapi pengetahuan-Nya tidak mengubah manusia menjadi batu. Allah berkuasa atas seluruh kejadian, tetapi kekuasaan-Nya tidak menjadikan nasihat, kehati-hatian, dan usaha kehilangan makna.
Ali tidak memerlukan uraian yang panjang untuk mengajarkannya.
Beliau hanya perlu berpindah.
Satu langkah menjauhi dinding.
Satu kalimat untuk membebaskan manusia dari kepasrahan yang keliru.
Riwayat tidak menceritakan apakah dinding itu akhirnya runtuh. Barangkali ia tetap berdiri sampai bertahun-tahun kemudian. Barangkali tidak lama setelah itu tubuhnya roboh menjadi puing-puing.
Namun pelajaran kisah ini tidak memerlukan suara runtuhan.
Sebab yang hendak diselamatkan Ali bukan hanya tubuh seseorang dari sebuah dinding yang miring.
Beliau sedang menyelamatkan akal manusia dari pemahaman yang miring tentang Tuhan.
Iman bukanlah berdiri diam menanti dinding runtuh.
Iman adalah melihat bahaya, menggunakan akal, mengambil langkah yang benar—lalu menyerahkan segala hasil kepada Allah.
Dan terkadang, jarak antara kelalaian dan tawakal hanyalah satu langkah.
Dinding yang
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber:
Inti riwayat ini menyebutkan bahwa Imam Ali berpindah dari sisi sebuah dinding yang miring. Ketika ditanya, “Apakah engkau melarikan diri dari qadhā’ Allah?”, beliau menjawab, “Aku menghindar dari qadhā’ Allah menuju qadar Allah.”
Riwayat tersebut dicantumkan dengan rangkaian periwayatan dalam Al-Tawḥīd karya Syekh ash-Shaduq, bab mengenai qadar dan qadhā’, hadis kedelapan, serta dikutip dalam Al-I‘tiqādāt fī Dīn al-Imāmiyyah.
Allamah al-Majlisi menjelaskan jawaban itu sebagai petunjuk bahwa menghindari bahaya melalui sebab-sebab yang tersedia tidak bertentangan dengan keimanan kepada ketetapan Allah; tindakan menghindar itu sendiri berlangsung di dalam ketetapan-Nya. “Biḥār al-Anwār, jilid 41”.
Riwayat ini tidak saya labeli sebagai hadis sahih tanpa kualifikasi karena penilaian terhadap sejumlah perawinya diperselisihkan. Detail suasana, retakan dinding, dan perenungan di sekeliling peristiwa merupakan rekonstruksi sastra. Bagian yang dipertahankan sebagai inti riwayat ialah dinding yang miring, perpindahan Imam Ali, pertanyaan seseorang, dan jawaban beliau.

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us