“Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.”
Suara Ali memenuhi masjid. Di atas mimbar, ia duduk dengan jemari bertaut di depan tubuhnya. Serban Rasulullah melingkari kepalanya, burdah beliau membalut tubuhnya. Orang-orang mendengarkan ketika ia membuka kesempatan bagi mereka untuk bertanya.
Cahaya jatuh di antara bayangan tiang. Di lantai, lutut-lutut bergeser, kain berdesir, beberapa kepala terangkat untuk melihat lebih jelas.
Dari tempatnya, Ali berbicara tentang pengetahuan yang diterimanya dari Rasulullah, tentang ayat-ayat yang turun pada malam dan siang, tentang makna yang dapat diterangkannya kepada mereka.
Di antara orang-orang itu, seorang lelaki bangkit.
Dzi‘lib.
Ia mempunyai lidah yang tajam, fasih berbicara, dan keberanian untuk berhadapan dengan orang lain. Di hadapannya, Ali baru saja mempersilakan orang-orang mengajukan pertanyaan. Dzi‘lib melihat kesempatan. Ia mengatakan bahwa putra Abu Thalib telah mendaki tempat yang sulit; dengan pertanyaannya, ia hendak membuat Ali malu di hadapan mereka.
Tubuhnya tegak di antara jamaah yang duduk. Pandangan orang-orang beralih kepadanya, lalu kembali ke mimbar.
“Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?”
Pertanyaan itu terdengar jelas.
Dzi‘lib menunggu.
Mereka sedang berada di dalam masjid. Nama Allah disebut dalam ibadah mereka, ayat-ayat-Nya dibaca, wajah-wajah mereka direbahkan ke tanah untuk bersujud kepada-Nya. Kini seorang lelaki meminta orang di atas mimbar itu menjelaskan apakah ia telah melihat Tuhan yang disembahnya.
Sepintas, pertanyaan itu seperti hendak mendesak Ali ke dalam jawaban yang serba sulit. Jika mengaku melihat, bagaimana penglihatan itu terjadi? Jika tidak, bagaimana ia menjelaskan kepastian pengenalannya?
Ali menghadap penanyanya.
“Apakah aku menyembah yang tidak kulihat?”
Dzi‘lib masih berdiri.
Jawaban itu datang tanpa keraguan. Orang-orang yang menyimaknya kini menunggu kelanjutannya. Kata melihat, yang semula terasa begitu biasa, tiba-tiba membuka persoalan yang jauh lebih dalam.
“Bagaimana engkau melihat-Nya?”
Pertanyaan kedua menyusul. Dzi‘lib meminta penjelasan.
Ali menjawab:
“Mata tidak menjangkau-Nya. Hati mengenal-Nya melalui hakikat iman.”
Hening seperti merapat ke kaki mimbar.
Di hadapan mereka, Ali sedang mengajari manusia menggunakan kata melihat dengan lebih cermat. Mata menyaksikan benda: sesuatu yang mempunyai rupa, dapat ditunjuk, menempati arah tertentu di hadapan orang yang memandangnya. Mengenal Allah membawa manusia melampaui ukuran itu.
Dzi‘lib datang dengan pertanyaan tentang Tuhan, dan Ali mulai melepaskan ukuran-ukuran makhluk dari pertanyaannya.
Suara Imam terus terdengar. Tuhan tidak diterangkan dengan perpindahan, gerak, atau diam sebagaimana tubuh. Berdiri tegak, datang dari suatu arah, lalu pergi ke arah lainnya adalah keadaan yang dialami makhluk.
Di bawah mimbar, tubuh-tubuh itu berada dalam ruang. Ada yang duduk di depan, ada yang lebih jauh. Seseorang harus bergeser untuk memberi jalan kepada orang di sebelahnya. Mata mereka memerlukan arah untuk memandang; telinga mereka menerima suara yang sampai.
Sementara Ali menerangkan, keadaan mereka sendiri seakan menjadi pelajaran yang terbuka. Betapa banyak batas yang menyertai kehidupan manusia, lalu tanpa disadari dibawa masuk ketika manusia mencoba membayangkan Tuhannya.
Dzi‘lib mendengarkan.
Lelaki yang tadi bersiap dengan pertanyaan berikutnya kini berhadapan dengan jawaban yang membongkar dasar pertanyaannya. Kepastian Ali tetap teguh. Penjelasannya terus bergerak, sementara sosok Tuhan yang dapat diukur dengan penglihatan tidak memperoleh tempat dalam kata-katanya.
Allah mengetahui tanpa membutuhkan sentuhan. Dia berfirman tanpa bergantung pada perangkat pengucapan sebagaimana manusia. Keagungan-Nya tidak ditakar dengan besar tubuh, dan kasih-Nya tidak bergantung pada perubahan perasaan yang menguasai makhluk.
Di tengah masjid itu, orang dapat mendengar suara Ali dan melihat tubuhnya. Mereka dapat memperkirakan tinggi mimbar dan jarak tempat duduk masing-masing. Semua itu dapat dijangkau ukuran. Setiap kali ukuran semacam itu hendak diterapkan kepada Allah, penjelasan Imam menyingkap keterbatasannya.
Kemudian Ali menerangkan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Kehadiran-Nya tidak berarti bercampur dengan benda-benda. Kemahasucian-Nya dari makhluk juga tidak berarti bahwa Dia berada di suatu tempat yang terpisah jauh, seperti seseorang yang meninggalkan rumahnya.
Dzi‘lib tetap berada di hadapan mimbar.
Pertanyaan pertamanya begitu pendek. Kini jawabannya membawa seluruh majelis menyusuri batas bahasa, batas penglihatan, dan batas bayangan manusia.
Sesuatu dapat amat jelas bagi mata karena mempunyai bentuk. Namun bentuk itu sekaligus menetapkan tepi: di sinilah ia, sampai di sinilah ukurannya.
Bagaimana mungkin segala batas itu menampung Dia yang memberi keberadaan kepada segala sesuatu?
Jari-jari Dzi‘lib bergerak pada lipatan pakaiannya. Ketegangan yang semula dibawanya untuk menguji Ali kini terasa kembali kepada dirinya sendiri.
Ruang masjid masih sama, orang-orang masih duduk di sekitarnya, tetapi pertanyaan yang tadi membuatnya berdiri dengan penuh keyakinan telah kehilangan pijakan semula.
Hati mengenal melalui hakikat iman.
Kalimat itu tidak menawarkan suatu rupa lain untuk disimpan dalam kepala. Ia mengarahkan manusia kepada pengenalan yang menumbuhkan keyakinan, sambil menjaga Allah tetap Mahasuci dari bentuk yang diciptakan khayalan.
Ali terus menjelaskan. Dzi‘lib terus mendengar.
Lalu tubuh lelaki itu goyah.
Orang-orang terdekat bergerak ketika ia jatuh. Ruang kecil terbuka di antara jamaah. Perhatian yang sejak tadi tertuju kepada mimbar beralih sejenak kepada tubuh yang terkulai itu.
Dzi‘lib pingsan.
Lidah yang hendak mempermalukan Ali telah berhenti. Pertanyaan yang dibawanya masih tinggal dalam ingatan orang-orang, bersama jawaban yang mengguncangnya.
Beberapa saat berlalu dalam kegelisahan orang-orang di dekatnya. Ketika kesadarannya pulih, ia kembali mendapati dirinya berada di hadapan mimbar dan orang-orang yang tadi menyaksikannya berdiri.
Kemudian ia mengakui sesuatu.
“Demi Allah, belum pernah kudengar jawaban seperti ini.”
Ia menyatakan tidak akan mengulangi yang semacam itu.
Kata-kata tersebut keluar dari lelaki yang sebelumnya hendak membuat Ali malu. Kini ia sendiri mengakui betapa jauh jawaban yang diterimanya melampaui apa yang pernah didengarnya.
Di atas mimbar, Ali kembali mempersilakan orang-orang bertanya.
Kesempatan itu tetap terbuka.
Seseorang telah datang membawa keinginan untuk mempermalukannya, dan Ali memberinya penjelasan. Majelis menyaksikan keguncangan penanya itu, lalu mendengar undangan untuk bertanya kembali. Ilmu terus diberikan.
Cahaya masih jatuh di antara tiang-tiang. Orang-orang masih duduk di lantai yang sama. Namun sesudah percakapan itu, kata melihat tidak lagi sesederhana ketika Dzi‘lib pertama kali mengucapkannya.
Ada penglihatan yang mengenali rupa. Ada pengenalan yang membuat hati tunduk, justru ketika ia menyadari bahwa Allah tidak dapat dikurung dalam rupa.
Dzi‘lib telah berdiri untuk menguji Ali. Di hadapan mimbar itu, ia sampai pada pengakuan yang tidak dibawanya ketika bangkit dari tempat duduk.
Dan bagi orang-orang yang mendengarkan, tertinggal sebuah jalan untuk mendekat kepada Allah: menanggalkan kesombongan yang menuntut agar Tuhan tunduk pada ukuran manusia, lalu belajar mengenal-Nya dengan hati yang bersedia menerima kebenaran.
Di atas mimbar, Ali masih membuka kesempatan.
Masih ada yang hendak bertanya?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan pengisahan:
Alur mengikuti al-Tawhid karya al-Shaduq, bab 43, riwayat pertama; dialog pokok dibandingkan dengan Nahj al-Balaghah, Khutbah 179. Cahaya, gerak kecil, dan suasana majelis merupakan rekonstruksi sastra. Penjelasan makna di sela adegan merupakan narasi reflektif saya (penulis)
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FG7gm4Mn7/

