15 October 2026

Makkah terlelap dalam kegelapan.

Jalan-jalannya sunyi. Rumah-rumah batu tertutup rapat. Dari kejauhan, Ka‘bah berdiri di tengah-tengah wilayah yang kelak dikenal sebagai Masjidil Haram, dikelilingi berhala-berhala yang selama bertahun-tahun disembah Quraisy.

Ada berhala yang diletakkan di tanah.

Ada yang berdiri mengelilingi Ka‘bah.

Dan ada sebuah patung besar dari tembaga atau kuningan yang ditempatkan tinggi di atasnya.

Quraisy sengaja meletakkannya di sana.

Tinggi.

Kokoh.

Sulit dijangkau.

Seakan-akan tuhan buatan mereka harus berada di atas kepala manusia agar tampak memiliki kekuasaan.

Malam itu, dua sosok berjalan mendekati Ka‘bah.

Tidak ada pasukan di belakang mereka.

Tidak ada genderang perang.

Tidak ada suara takbir yang mengguncangkan Makkah.

Hanya Muhammad dan Ali.

Rasulullah SAW berjalan di depan.

Ali bin Abi Thalib AS mengikutinya.

Mereka bergerak perlahan, memperhatikan setiap jalan dan bayangan. Makkah masih berada di bawah kekuasaan Quraisy. Jika keduanya ditemukan sedang merobohkan berhala, seluruh kota dapat bangun dan mengepung mereka.

Namun Rasulullah tidak datang malam itu untuk berunding dengan berhala.

Beliau datang untuk menjatuhkannya.

Keduanya tiba di sisi Ka‘bah.

Rasulullah mendongakkan wajah.

Berhala itu berdiri di atas sana, memandang Makkah dari tempat yang tinggi. Puluhan tahun manusia bersujud kepadanya. Kurban dipersembahkan. Sumpah diucapkan atas namanya.

Padahal ia hanyalah benda mati.

Tidak dapat mendengar.

Tidak mampu melihat.

Bahkan untuk berdiri pun ia membutuhkan tangan manusia yang memasangnya.

Rasulullah SAW memandang Ali.

“Duduklah.”

Ali merendahkan tubuhnya.

Rasulullah naik ke atas pundaknya.

Ali mencoba berdiri.

Kedua kakinya menekan tanah. Tubuhnya mengerahkan tenaga. Namun ia merasakan beban yang tidak mampu dipikulnya. Ia tidak berhasil mengangkat Rasulullah menuju atap Ka‘bah.

Rasulullah memahami keadaan itu.

Beliau turun.

Kemudian sesuatu yang tidak pernah dibayangkan manusia terjadi.

Rasulullah SAW merendahkan tubuhnya di hadapan Ali.

Nabi terakhir.

Pemimpin seluruh rasul.

Manusia yang menerima wahyu dari langit.

Kekasih Allah yang pada malam Mi‘raj menembus batas-batas yang tidak dapat dicapai makhluk lain.

Beliau membungkukkan tubuhnya dan berkata:

“Naiklah ke atas pundakku.”

Ali terdiam.

Di hadapannya bukan pundak manusia biasa.

Di atas pundak itulah beban risalah diletakkan.

Pundak itu memikul hinaan penduduk Thaif.

Memikul lapar selama pemboikotan di Shi‘b Abi Thalib.

Memikul tanggung jawab untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Sekarang pundak itu direndahkan agar kaki Ali dapat berpijak di atasnya.

Bukan untuk meninggikan Ali demi kebanggaan dunia.

Melainkan agar tangan Ali dapat mencapai berhala dan menjatuhkannya.

Ali menaiki pundak Rasulullah.

Kedua kakinya berada di atas bahu Nabi.

Rasulullah kemudian berdiri.

Tubuh Ali terangkat semakin tinggi.

Ka‘bah berada di hadapannya.

Langit Makkah terbentang di atas kepalanya.

Ali kemudian menceritakan apa yang dirasakannya pada saat itu:

“Aku merasa, seandainya aku menghendaki, aku dapat mencapai tepi langit.”

Bukan karena Ka‘bah menjadi lebih rendah.

Bukan karena tubuh Ali tiba-tiba menjadi lebih tinggi.

Tetapi karena ia berdiri di atas pundak Muhammad.

Siapa pun yang diangkat oleh Muhammad akan melihat dunia dari tempat yang tidak dapat dicapai manusia lain.

Ali meraih tepian Ka‘bah.

Ia naik ke atasnya.

Kini berhala itu berdiri tepat di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, tuhan palsu Quraisy berhadapan dengan tangan seorang muwahid yang tidak pernah bersujud kepada berhala sepanjang hidupnya.

Ali memegangnya.

Ia menggoyangkannya ke kanan.

Berhala itu bertahan.

Ia menggoyangkannya ke kiri.

Perekatnya mulai retak.

Ali menariknya dari depan.

Kemudian mendorongnya dari belakang.

Logam berderak.

Bagian yang menahannya mulai terlepas.

Di bawah, Rasulullah SAW menunggu.

Ali terus mengguncangnya.

Berhala itu mulai miring.

Tuhan palsu yang selama ini dianggap tinggi kini bergoyang di tangan seorang pemuda.

Rasulullah berseru:

“Lemparkan!”

Ali mengerahkan seluruh kekuatannya.

Berhala itu terlepas.

Sesaat patung tersebut melayang di antara atap Ka‘bah dan tanah.

Kemudian jatuh.

Braaaak!

Suara pecahannya membelah kesunyian Makkah.

Berhala tembaga itu hancur seperti botol kaca.

Tidak ada petir yang menyambar dari langit.

Tidak ada bumi yang terbelah untuk membela tuhan Quraisy.

Tidak ada kekuatan gaib yang menyelamatkannya.

Ia jatuh.

Pecah.

Terdiam.

Tuhan yang dibuat manusia akhirnya dihancurkan oleh tangan manusia.

Ali memandang pecahan itu dari atas Ka‘bah.

Barangkali untuk sesaat Makkah terasa berbeda.

Berhala-berhala lain masih berdiri.

Para pemimpin Quraisy masih tidur di rumah mereka.

Kaum Muslimin masih tertindas.

Namun malam itu satu pesan telah ditulis di atas tanah:

Kebatilan dapat ditempatkan setinggi apa pun, tetapi apabila kebenaran telah datang, ia tetap akan jatuh.

Ali segera turun.

Rasulullah dan Ali meninggalkan Ka‘bah dengan cepat. Keduanya berlari memasuki lorong-lorong Makkah dan menghilang di antara rumah-rumah sebelum penduduk menyadari apa yang baru saja terjadi.

Tidak ada orang yang menyambut mereka.

Tidak ada pasukan yang merayakan keberhasilan itu.

Hanya suara langkah Muhammad dan Ali menjauh dalam gelap.

Ketika pagi datang, Quraisy menemukan berhala mereka telah hancur.

Patung yang mereka anggap suci tergeletak menjadi pecahan.

Mereka dapat menggantinya.

Mereka dapat membuat berhala baru.

Mereka dapat meletakkannya lebih tinggi.

Namun mereka tidak akan pernah dapat menghapus kenyataan bahwa pada malam itu Muhammad telah merendahkan pundaknya dan Ali telah mengangkat tangannya.

Bertahun-tahun kemudian, Rasulullah SAW kembali memasuki Makkah.

Kali ini beliau tidak datang diam-diam.

Sepuluh ribu pasukan menyertai beliau.

Makkah yang dahulu mengusirnya kini menundukkan kepala.

Di sekeliling Ka‘bah masih berdiri tiga ratus enam puluh berhala. Rasulullah menyentuh dan menjatuhkan berhala-berhala itu satu demi satu sambil membaca:

“Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”

Berhala-berhala roboh.

Hubal jatuh.

Tuhan-tuhan palsu Quraisy tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Namun jauh sebelum hari kemenangan itu, ketika kaum Muslimin belum memiliki pasukan dan Makkah masih dikuasai para penyembah berhala, Muhammad dan Ali telah memulai penghancurannya dalam kesunyian malam.

Yang seorang menjadi landasan.

Yang seorang menjadi tangan.

Rasulullah dapat saja meminta orang lain.

Namun beliau memilih Ali.

Ali dapat saja memukul berhala dari bawah.

Namun Rasulullah mengangkatnya ke tempat yang tidak dapat dicapai orang lain.

Pemandangan itu menyimpan rahasia yang sangat dalam.

Muhammad adalah pembawa kebenaran.

Ali adalah tangan yang digunakan untuk merobohkan kebatilan.

Muhammad menerima wahyu dari langit.

Ali berdiri di atas pundaknya untuk menjatuhkan tuhan-tuhan palsu ke bumi.

Pundak kenabian tidak merendahkan Ali.

Pundak kenabian meninggikannya.

Dan kaki Ali tidak mengurangi kemuliaan Rasulullah.

Justru Rasulullah sendiri yang memilih pundaknya menjadi tangga.

Tidak seorang pun dapat mengatakan Ali meninggikan dirinya.

Muhammadlah yang mengangkatnya.

Tidak seorang pun dapat mengatakan Ali merebut tempat itu.

Muhammadlah yang memerintahkannya naik.

Ali hanya taat.

Rasulullah hanya memilih.

Berhala itu hanya jatuh.

Karena itu, malam tersebut bukan sekadar kisah penghancuran sebuah patung.

Ia adalah gambaran tentang hubungan Muhammad dan Ali.

Di Shi‘b Abi Thalib, Ali membawa air untuk menjaga kehidupan Rasulullah.

Pada malam hijrah, Ali tidur di ranjangnya untuk menyelamatkan Rasulullah.

Di Uhud, Ali berdiri di hadapannya untuk menahan pedang-pedang Quraisy.

Di Khaibar, Ali membawa panjinya dan membuka benteng.

Namun di depan Ka‘bah, perannya dibalik.

Bukan Ali yang mengangkat Muhammad.

Muhammadlah yang mengangkat Ali.

Rasulullah merendahkan tubuhnya agar Ali mencapai tempat tertinggi.

Kemudian dari atas pundak kenabian, Ali merobohkan kesombongan jahiliah.

Ada manusia yang menjadi tinggi karena berdiri di atas kekuasaan.

Ada yang menjadi tinggi karena berdiri di atas kekayaan.

Ada pula yang menjadi tinggi karena berdiri di atas penderitaan manusia lain.

Tetapi Ali mencapai tempat tertinggi karena berdiri di atas pundak Muhammad.

Itulah sebabnya ia merasa dapat menyentuh tepi langit.

Sebab siapa yang diangkat oleh Rasulullah tidak lagi diukur dari jaraknya dengan tanah.

Ia diukur dari kedekatannya dengan langit.

Malam itu, Makkah masih gelap.

Quraisy masih berkuasa.

Kaum Muslimin masih lemah.

Namun sebuah berhala telah jatuh.

Dan di antara suara pecahannya, sejarah seakan berbisik:

Akan datang suatu hari ketika seluruh kebatilan mengalami nasib yang sama.

Muhammad akan membawa kebenaran.

Dan Ali akan menjadi tangan yang menjatuhkan berhala.

Ketika ali meraih

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1bAoKQCZD5/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us