13 October 2026

Ketika Keadilan Ditinggalkan demi Keistimewaan

Fajar belum sepenuhnya tiba di Madinah.

Langit di sebelah timur mulai memucat, tetapi jalan-jalan di antara rumah-rumah tanah liat masih tenggelam dalam bayang-bayang. Pohon-pohon kurma berdiri diam. Angin gurun membawa dingin malam terakhir melewati kota yang pernah menyaksikan Rasulullah berjalan, berbicara, dan membangun persaudaraan.

Di salah satu pintu kota, beberapa ekor unta telah disiapkan.

Peti-peti perjalanan diikat pada pelana. Kantong-kantong air digantungkan. Sejumlah laki-laki berpakaian baik berbicara dengan suara rendah, seolah berharap keberangkatan mereka tidak terlalu cepat diketahui.

Mereka tidak diusir.

Tidak pula sedang melarikan diri dari serbuan musuh.

Mereka meninggalkan Madinah atas pilihan mereka sendiri.

Arah perjalanan mereka adalah Syam—wilayah yang berada di bawah kekuasaan Muawiyah.

Dari kejauhan, para penjaga memandangi rombongan itu bergerak menembus cahaya remang. Tidak ada pedang yang terhunus.
Tidak ada perintah untuk mengejar. Hanya debu yang perlahan naik di belakang kaki-kaki tunggangan, lalu menghapus jejak mereka dari jalan.

Namun kepergian manusia terkadang meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada langkah kaki.

—

Sahl bin Hunaif menerima kabar itu tidak lama kemudian.

Ia adalah seorang sahabat Rasulullah, seorang Anshar, dan kini memikul tanggung jawab atas Madinah di bawah pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib.

Nama-nama orang yang pergi disampaikan kepadanya.

Sebagian bukan orang yang tidak dikenal. Mereka mempunyai kedudukan, hubungan kabilah, dan kemampuan yang dapat memengaruhi orang lain.
Kepergian mereka bukan sekadar berkurangnya beberapa penghuni kota. Dalam pandangan seorang gubernur, itu dapat berarti berkurangnya dukungan, melemahnya barisan, atau munculnya tanda bahwa lawan sedang berhasil menarik orang-orang dari wilayahnya.

Sahl berdiri lama di dekat pintu rumah pemerintahan.

Di hadapannya, Madinah mulai terbangun. Para pedagang membuka tempat jualannya. Seorang ibu menggandeng anaknya. Beberapa lelaki miskin berjalan menuju masjid dengan pakaian sederhana.

Kota itu tampak tetap seperti biasa.

Namun bagi Sahl, ada sesuatu yang terasa retak.

Barangkali bukan hanya karena orang-orang itu telah pergi. Madinah adalah kota yang dibangun dengan pengorbanan. Kaum Anshar dahulu membuka rumah mereka bagi para Muhajirin. Di kota inilah manusia diajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari kekayaan, warna kulit, ataupun kebesaran kabilah.

Lalu mengapa ada orang-orang yang meninggalkan pemerintahan Ali—pemerintahan yang berusaha menghidupkan kembali persamaan itu?

Apakah ada kesalahan yang tidak ia lihat?

Apakah mereka merasa diperlakukan tidak adil?

Ataukah Muawiyah memang mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pemerintahan Ali?

Sahl mengirimkan laporan ke Kufah.

Ia tidak menyembunyikan kegelisahannya. Orang-orang dari wilayah yang dipercayakan kepadanya pergi menuju pihak yang sedang menjadi lawan politik khalifah. Seorang gubernur yang bertanggung jawab tentu harus menganggapnya serius.

Hari-hari berlalu.

Kemudian seorang utusan tiba dari Irak membawa sepucuk surat.

Surat itu berasal dari Amirul Mukminin.

—

Sahl membuka lembarannya.

Ia mungkin mengharapkan perintah untuk memperketat penjagaan. Mungkin pula perintah untuk mengawasi keluarga orang-orang yang pergi, menyita harta mereka, atau mengirim pasukan pengejar.

Namun kalimat yang ia temukan justru dimulai dengan ketenangan.

Ali telah menerima kabar bahwa beberapa orang dari Madinah pergi secara diam-diam menuju Muawiyah.

Lalu ia berkata kepada Sahl:

Janganlah engkau bersedih karena jumlah mereka yang meninggalkanmu dan karena bantuan mereka yang kini tidak lagi engkau miliki.

Sahl berhenti membaca.

Kalimat itu seolah menyentuh kegelisahan yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.

Seorang pemimpin terbiasa menghitung jumlah.

Berapa orang yang masih setia?

Berapa orang yang pergi?

Berapa pedang yang dapat diangkat ketika bahaya datang?

Berapa nama besar yang dapat meyakinkan masyarakat?

Dalam pertarungan politik, angka memang tampak menentukan. Barisan yang panjang terlihat kuat. Ruangan yang penuh dianggap tanda kemenangan. Sementara kursi yang ditinggalkan sering membuat seorang pemimpin meragukan dirinya sendiri.

Tetapi Ali memandang manusia dengan timbangan yang berbeda.

Baginya, tidak setiap orang yang bertahan adalah kekuatan. Tidak setiap orang yang pergi adalah kerugian.

Ada manusia yang berdiri dalam sebuah barisan karena keyakinan. Ada pula yang berdiri karena keuntungan. Selama kepentingannya terpenuhi, ia akan berbicara tentang kesetiaan.
Namun ketika keadilan menyentuh keistimewaannya, kesetiaan itu mulai mencari pintu keluar.

Mereka yang meninggalkan Madinah, kata Ali, sedang berlari dari petunjuk menuju kebutaan.

Dan kepergian mereka merupakan kelegaan.

Kelegaan.

Kata itu pasti menghantam kegelisahan Sahl dengan keras.

Ia melihat berkurangnya jumlah. Ali melihat tersingkapnya niat.

Ia merasa kehilangan pendukung. Ali melihat barisan dibersihkan dari orang-orang yang hatinya telah lebih dahulu pergi sebelum tubuh mereka menaiki tunggangan.

—

Ali tidak berhenti pada penghiburan.

Ia membongkar alasan di balik kepergian mereka.

Mereka adalah para pencinta dunia, tulisnya. Mereka bergegas menuju dunia ketika melihatnya terbuka di hadapan mereka.

Orang-orang itu bukan tidak mengenal keadilan.

Mereka telah melihatnya.

Mereka telah mendengarnya.

Mereka bahkan telah memahaminya.

Mereka mengetahui bahwa di bawah pemerintahan Ali, manusia diperlakukan sama dalam hak. Orang terpandang tidak memperoleh bagian lebih besar hanya karena nama keluarganya.
Orang yang lebih dahulu memeluk Islam tidak dapat menjadikan jasa masa lalu sebagai alat untuk mengambil milik masyarakat.
Kedekatan dengan khalifah bukanlah jalan menuju kekayaan.

Baitulmal bukan hadiah pribadi seorang penguasa.

Harta umat bukan alat untuk membeli kesetiaan.

Di hadapan hukum, bangsawan dan rakyat biasa berdiri di atas tanah yang sama.

Justru itulah yang tidak dapat diterima oleh sebagian orang.

Mereka menyukai keadilan selama keadilan menghukum musuh mereka. Mereka memujinya selama keadilan mengangkat harga diri mereka.
Namun ketika keadilan menolak memberikan kursi khusus kepada mereka, keadilan tiba-tiba tampak terlalu keras.

Di Syam, mereka berharap menemukan sesuatu yang tidak akan diberikan Ali: keistimewaan.

Bukan kebenaran yang mereka kejar, melainkan perlakuan khusus.

Bukan keamanan dari kezaliman, melainkan peluang untuk berada lebih tinggi daripada manusia lain.

Ali menulis sebuah kalimat yang meruntuhkan seluruh alasan palsu mereka:

“Demi Allah, mereka tidak lari dari kezaliman dan tidak pula bergabung dengan keadilan.”

Tidak ada pembelaan yang tersisa setelah kalimat itu.

Mereka tidak dapat mengatakan bahwa Ali merampas hak mereka.

Hak mereka justru dijaga—tetapi hanya sebesar hak orang lain.

Mereka tidak dapat berkata bahwa pemerintahan Ali merendahkan mereka.

Yang direndahkan adalah kesombongan mereka.

Mereka juga tidak sedang menuju pemerintahan yang lebih adil. Mereka menuju tempat yang menjanjikan kedekatan dengan kekuasaan, pemberian, dan peluang untuk memperoleh bagian yang lebih besar daripada masyarakat kebanyakan.

Mereka tidak kehilangan hak.

Mereka kehilangan hak istimewa.

Dan bagi orang yang terlalu lama hidup dengan keistimewaan, persamaan sering terasa seperti penghinaan.

—

Sahl kembali memandang jalan yang mengarah keluar dari Madinah.

Barangkali baru sekarang ia memahami mengapa Ali tidak memerintahkannya mengejar mereka.

Tubuh seseorang dapat ditahan di dalam kota. Namun hati yang telah diperbudak kepentingan akan selalu mencari jalan menuju tuannya.

Ali pun tidak menyuruh Sahl membeli mereka kembali.

Betapa mudahnya seorang penguasa melakukan itu.

Berikan kedudukan kepada beberapa orang.

Tambahkan bagian mereka dari baitulmal.

Biarkan mereka merasa lebih penting daripada rakyat biasa.

Sesudah itu, mereka mungkin akan kembali berdiri di belakang pemerintah sambil meneriakkan kesetiaan.

Tetapi Ali tidak menginginkan barisan yang dibangun dari jual beli hati.

Sebab penguasa yang membeli kesetiaan hari ini harus membayarnya kembali esok hari.
Harga itu akan terus meningkat, sampai negara tidak lagi berjalan berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan tuntutan orang-orang yang paling rakus.

Jika Ali memberikan keistimewaan kepada mereka agar tidak pergi, mungkin jumlah pengikutnya akan bertambah.

Namun keadilan akan berkurang.

Dan bagi Ali, kemenangan yang dibayar dengan kematian keadilan hanyalah kekalahan yang memakai pakaian kemenangan.

—

Surat itu tidak menjanjikan bahwa semua persoalan akan segera selesai.

Ali hanya memohon agar Allah memudahkan kesulitan yang sedang dihadapi dan memperbaiki keadaan.

Di situlah terlihat perbedaan antara keteguhan dan kesombongan.

Ali tegas, tetapi tidak merasa mampu menguasai hati manusia. Ia menjalankan kewajibannya, menjaga keadilan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Ia tidak berkata bahwa kepergian mereka sama sekali tidak menyakitkan.

Ia mengajarkan bahwa rasa sakit tidak boleh mengubah arah kebenaran.

Seorang pemimpin boleh bersedih ketika manusia meninggalkannya. Namun ia tidak boleh, karena ketakutan ditinggalkan, memberikan apa yang bukan hak mereka.

Sebab pada saat itulah pemimpin tidak lagi memimpin manusia menuju kebenaran. Ia justru ditarik oleh manusia menuju hawa nafsu mereka.

—

Malam berikutnya, Madinah kembali sunyi.

Di pintu kota yang sama, tidak ada lagi rombongan. Hanya beberapa penjaga dan nyala lampu minyak yang bergoyang ditiup angin.

Sahl berdiri memandang jalan panjang menuju utara.

Rombongan yang pergi itu mungkin telah berada jauh. Mereka membawa harta, keluarga, dan harapan akan kehidupan yang lebih menguntungkan.

Namun kini Sahl tidak lagi memandang jalan kosong itu dengan perasaan yang sama.

Mereka memang telah membawa jumlah mereka.

Mereka mungkin membawa nama besar dan hubungan kabilah mereka.

Tetapi mereka tidak membawa kebenaran bersama mereka.

Kebenaran tidak menjadi lebih kecil karena ditinggalkan banyak orang. Sebagaimana kebatilan tidak berubah menjadi benar hanya karena dikerumuni manusia.

Barisan Ali mungkin menjadi lebih sedikit.

Namun garis yang memisahkan ketulusan dari kepentingan menjadi semakin terang.

Sahl melipat surat itu perlahan.

Di sekelilingnya berdiri orang-orang sederhana yang tetap tinggal—mereka yang tidak dijanjikan istana, tidak diberikan bagian istimewa, dan tidak dikenal oleh para penulis sejarah.
Mereka tetap menjalankan tugas karena percaya bahwa hak seorang miskin tidak boleh dikurangi demi memuaskan seorang bangsawan.

Barangkali kekuatan pemerintahan Ali memang bukan terletak pada banyaknya orang yang berkumpul di sekelilingnya.

Kekuatannya terletak pada satu keputusan yang tidak berubah meskipun manusia datang dan pergi:

Tidak seorang pun akan dibeli dengan hak orang lain.

—

Kisah ini mengajukan pertanyaan yang masih hidup sampai hari ini:

Mengapa orang-orang meninggalkan pemimpin yang adil?

Tidak selalu karena mereka menjadi korban kezaliman.

Kadang-kadang mereka pergi justru karena kezaliman tidak lagi diizinkan menguntungkan mereka.

Manusia sering mengaku menginginkan keadilan. Namun yang sebenarnya mereka inginkan adalah keadilan yang berlaku bagi orang lain—sementara bagi diri mereka sendiri tetap disediakan pintu khusus, tempat duduk khusus, dan bagian yang lebih besar.

Ali menutup pintu itu.

Karena itulah sebagian orang pergi.

Ia dapat mempertahankan mereka dengan harta. Ia dapat mengikat mereka dengan jabatan. Ia dapat mengorbankan hak rakyat kecil untuk membeli dukungan para tokoh.

Tetapi jika semua itu dilakukan, pemerintahan mungkin akan bertahan lebih lama—sementara ajaran Rasulullah mati di dalamnya.

Ali memilih kehilangan manusia daripada kehilangan prinsip.

Dan kepada Sahl, serta kepada setiap orang yang berusaha menegakkan kebenaran tetapi merasa sendirian, surat itu seakan terus berkata melintasi zaman:

Jangan bersedih atas mereka yang pergi.

Tidak semua kepergian adalah kehilangan.

Ada kepergian yang membuat barisan terlihat lebih kecil, tetapi menjadikan kebenaran jauh lebih jernih.

Jangan bersedih

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Pijakan sejarah:

“Nahjul Balaghah, Surat 70”, surat Imam Ali kepada Sahl bin Hunaif mengenai sejumlah orang Madinah yang pergi menuju Muawiyah.
Penggambaran suasana, percakapan batin, dan adegan penerimaan surat merupakan rekonstruksi sastra untuk menghidupkan pesan surat; bukan rincian peristiwa yang disebutkan secara terpisah dalam teks sumber.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1Fx1EZkzbX/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us