Utsman bin Affan tidak dibunuh oleh seorang pelaku tunggal yang namanya dapat ditunjuk, ditangkap, lalu dihukum pada keesokan harinya.
Rumahnya dikepung oleh massa pemberontak yang datang dari berbagai daerah dan terdiri atas beragam kelompok. Adapun siapa yang benar-benar masuk, mengayunkan senjata, dan memberikan pukulan terakhir, riwayat-riwayat sejarah menyebut nama yang berbeda-beda.
Perbedaan ini penting. Sebab tuntutan, “Tangkap pembunuh Utsman sekarang juga!” seolah-olah perkara tersebut hanyalah kasus kriminal biasa yang terjadi dalam keadaan negara aman. Padahal Madinah saat itu sedang berada dalam kekacauan politik. Pemerintahan lama telah runtuh, otoritas keamanan tercerai-berai, dan para pengepung telah bercampur dengan berbagai kelompok masyarakat.
Muawwiyah mengetahui kenyataan ini. Sayyidah Aisyah mengetahuinya. Talha dan Zubair mengetahuinya. Terlebih lagi Imam Ali.
Bahkan sejarah mencatat bahwa Imam Ali bukanlah orang yang membiarkan Utsman dibunuh. Beliau berulang kali menjadi penengah antara Utsman dan para penentangnya. Beliau mengusahakan agar air dan makanan tetap dapat masuk ke rumah Utsman. Sejumlah riwayat juga menyebut Imam Hasan dan Imam Husain ikut dikirim untuk menjaga rumah serta mencegah penyerangan.
Di sinilah tampak keluhuran akhlak Imam Ali.
Beliau dapat mengkritik kebijakan Utsman tanpa membenarkan pembunuhannya. Membela nyawa Utsman tidak berarti menyetujui seluruh pemerintahannya. Menolak kezaliman penguasa tidak berarti menghalalkan kekacauan dan pertumpahan darah.
Tetapi setelah Utsman terbunuh dan umat membaiat Imam Ali, darah Utsman tiba-tiba berubah menjadi komoditas politik.
Talha dan Zubair yang sebelumnya telah membaiat Imam Ali kemudian membatalkan baiatnya. Mereka bertemu dengan Sayyidah Aisyah dalam satu slogan: menuntut darah Utsman. Padahal sumber-sumber sejarah juga merekam bahwa sebelum pembunuhan itu terjadi, Sayyidah Aisyah termasuk pengkritik keras Utsman. Keaslian setiap kalimat ekstrem yang dinisbatkan kepadanya boleh diperdebatkan, tetapi sikap politiknya terhadap Utsman sebelum pembunuhan bukanlah rahasia.
Yang lebih ironis, pasukan mereka tidak bergerak menuju tempat para pembunuh Utsman berada. Mereka justru menuju Basrah, merebut kekuasaan di sana, kemudian berhadapan dengan khalifah sah yang telah dibaiat kaum Muslimin.
Maka pecahlah Perang Jamal.
Darah Utsman yang katanya hendak dibela justru dijadikan alasan untuk menumpahkan lebih banyak darah kaum Muslimin.
Muawwiyah melakukan hal yang lebih sistematis. Baju Utsman yang berlumuran darah dipertontonkan di Syam. Jari-jari Na’ilah, istri Utsman yang terluka ketika melindungi suaminya, ikut dijadikan simbol. Kesedihan diubah menjadi kemarahan. Kemarahan diolah menjadi propaganda. Propaganda kemudian digerakkan menjadi pasukan.
Muawwiyah menolak membaiat Imam Ali sebelum pembunuh Utsman dihukum. Padahal penegakan hukum membutuhkan pemerintahan yang diakui, keamanan yang dipulihkan, penyelidikan yang dilakukan, dan pengadilan yang berwenang. Bagaimana hukum dapat ditegakkan jika khalifah yang berwenang menegakkannya justru diperangi?
Karena itu, tuntutan tersebut sejak awal bukanlah jalan menuju keadilan. Ia adalah ultimatum politik yang mustahil dipenuhi—sebuah alasan yang dipersiapkan untuk menolak pemerintahan Imam Ali.
Maka pecahlah Perang Shiffin.
Dari Shiffin lahir tipu daya tahkim. Dari tahkim muncul kelompok Khawarij. Dari Khawarij pecahlah Perang Nahrawan. Sesudah itu Muawwiyah mengirim pasukan-pasukan penyerbu dalam rangkaian yang dikenal sebagai al-ghārāt: meneror wilayah kekuasaan Imam Ali, merusak keamanan, membunuh penduduk, serta membuat pemerintahan beliau terus-menerus berada dalam keadaan darurat.
Imam Ali akhirnya menghabiskan masa pemerintahannya menghadapi pemberontakan demi pemberontakan. Energi yang seharusnya dipergunakan untuk membangun keadilan, mengembalikan kekayaan umat, dan membersihkan negara dari nepotisme, dipaksa habis untuk memadamkan perang yang dibungkus dengan nama agama.
Semua rangkaian itu saling berhubungan.
Jika garis pergeseran politik tersebut ditarik ke belakang, saya melihat pintunya mulai terbuka di Saqifah: ketika otoritas keluarga Nabi disingkirkan dan kepemimpinan umat dipindahkan ke dalam perundingan kekuasaan. Darah Utsman memperlebar pintu itu. Shiffin mengubahnya menjadi kekuatan militer. Dan di Karbala, penyimpangan tersebut mencapai bentuknya yang paling mengerikan: cucu Rasulullah SAW dibunuh oleh sebuah kekuasaan yang tetap berbicara atas nama Islam.
Saqifah bukan Karbala. Namun tanpa perubahan paradigma yang dimulai sebelumnya, Karbala tidak akan memperoleh jalan sejarahnya.
Dan luka itu belum sepenuhnya berakhir sampai hari ini.
Kita membaca sejarah bukan untuk memelihara kebencian, melainkan agar kebohongan tidak terus diwariskan sebagai agama. Persatuan yang dibangun di atas penghapusan fakta bukanlah persatuan. Ia hanyalah amnesia yang dipaksakan. Persatuan sejati tidak lahir dengan menyembunyikan kezaliman, tetapi dengan keberanian mengakuinya.
Meski demikian, saya percaya Allah SWT memiliki cara-Nya sendiri.
Surah An-Nasr mengajarkan bahwa ketika jalan seolah-olah tertutup, pertolongan Allah dapat datang; kemenangan dapat dibukakan; dan manusia dapat berbondong-bondong menuju agama-Nya. Karena itu, saya percaya bahwa pada akhirnya kaum Muslimin akan dipertemukan kembali—bukan dalam kebohongan yang disepakati bersama, tetapi dalam kebenaran yang diterima bersama.
Apa pun kelak namanya, mereka akan bersatu di bawah cahaya Muhammad SAW dan Ahlul Baitnya.
Sebab Allah SWT tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Begitu.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan:
Landasan historisnya dapat ditelusuri dalam History of the Caliphs karya Rasul Jafarian, kajian tentang Perang Jamal, serta pembahasan akademis Harvard mengenai Shiffin dan proyek pemerintahan Imam Ali
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HEn8n26L2/

