13 October 2026

Sepasang suami istri muda asal Amerika merasa ada ruang kosong di dalam dada mereka. Keduanya Nasrani, terpelajar, dan hidup berkecukupan. Namun agama yang mereka kenal belum menjawab kegelisahan yang terus tumbuh.

Mereka semakin rajin mendatangi gereja. Membaca buku-buku kerohanian. Berdoa lebih panjang. Tetapi kehampaan itu tidak juga pergi.

Mereka kemudian meninggalkan Amerika dan mulai mencari. Dari Tiongkok mereka menuju Tibet, lalu India. Mereka menemui para pemuka agama, tinggal di kuil-kuil, dan menjalani berbagai latihan rohani.
Bahkan mereka pernah tidur di atas ranjang berpaku selama bermalam-malam. Tubuh mereka terluka, tetapi jiwa mereka tetap dahaga.

Akhirnya mereka menyerah. Barangkali, pikir mereka, kebenaran yang selama ini dicari memang tidak ada.

Dalam perjalanan pulang menuju Eropa, mereka melewati Afghanistan lalu memasuki Iran. Sampailah mereka di sebuah kota bernama Masyhad.

Di tengah kota itu berdiri bangunan berkubah emas. Ribuan manusia datang dengan wajah yang berbeda-beda, tetapi membawa kerinduan yang sama.
Ada yang menangis, berdoa, mencium pintu, dan berdiri dengan penuh penghormatan.

“Tempat apa ini?” tanya mereka.

“Inilah makam Imam Ali bin Musa al-Ridha,” jawab seseorang. “Beliau adalah Imam, manusia pilihan Allah. Kami percaya, meskipun jasadnya telah dimakamkan, ruhnya tetap hidup dan mengetahui para peziarahnya.”

Mereka tertegun.

Kepada mereka juga diterangkan bahwa Al-Qur’an mengajarkan seluruh makhluk bertasbih kepada Allah—langit, bumi, gunung, pepohonan, bahkan benda-benda yang dianggap tidak bernyawa.

Mereka belum percaya. Namun rasa ingin tahu membuat mereka mendekati kompleks suci itu.

Sayangnya, seorang petugas menghentikan mereka di pintu.

“Orang asing tidak boleh masuk.”

Mereka mencoba menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud buruk. Mereka hanya ingin melihat dan memahami. Tetapi pintu tetap tertutup.

Keduanya menjauh dengan kecewa. Mereka duduk di tepi jalan, tidak jauh dari haram. Sang lelaki menundukkan kepala, lalu menangis.

“Jika orang yang dimakamkan di sana benar-benar seorang Imam,” katanya dalam hati, “jika ia memang hidup dan mengetahui keadaan manusia, seharusnya ia mengetahui bahwa kami telah menempuh ribuan kilometer untuk mencari kebenaran. Tetapi jika semua itu tidak benar, tidak ada gunanya kami masuk.”

Ketika itulah seorang pedagang keliling mendekat. Di tangannya terdapat beberapa cermin kecil, tasbih, dan benda-benda sederhana yang biasa dijual kepada peziarah.

Anehnya, pedagang itu berbicara dalam bahasa Inggris—bukan sekadar bahasa Inggris, melainkan dengan logat daerah asal mereka di Amerika.

“Mengapa engkau menangis?” tanyanya.

Lelaki Nasrani itu menceritakan semuanya: perjalanan panjang mereka, kegelisahan mereka, dan pintu yang baru saja ditutup bagi mereka.

“Jangan bersedih,” kata pedagang itu lembut. “Pergilah kembali. Sekarang kalian akan diizinkan masuk.”

“Baru saja kami dilarang.”

“Ketika itu mereka belum memperoleh izin.”

Kalimat itu aneh. Dari siapa izin itu datang?

Namun entah mengapa, keduanya bangkit dan kembali ke pintu. Petugas yang sebelumnya melarang kini membiarkan mereka lewat—seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Di dalam haram, sang lelaki mengalami sesuatu yang tidak mampu diterangkan sepenuhnya dengan kata-kata. Kerumunan yang begitu padat tiba-tiba terasa membuka jalan baginya. Ia sampai di dekat makam Imam Ridha as dan merasakan kehadiran yang hidup.

Satu-satunya pertanyaan yang mampu keluar dari bibirnya ialah:

“Benarkah seluruh makhluk bertasbih kepada Allah?”

Jawaban datang kepadanya:

“Akan Aku perlihatkan kepadamu.”

Ketika keluar dari haram, tiba-tiba ia mendengar segala sesuatu bertasbih. Dinding, pintu, pepohonan, tanah dan langit—semuanya memuji Allah dalam bahasa yang selama ini tidak dapat ditangkap telinganya.

Ia jatuh tak sadarkan diri.

Setelah siuman, ia mencari pedagang tadi. Namun orang itu telah menghilang. Tidak seorang pun mengetahui siapa dia dan dari mana datangnya. Pedagang yang mengetahui tangis tersembunyi di dalam hatinya, berbicara dengan logat tanah kelahirannya, mengetahui bahwa izin akan diberikan, lalu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Dalam kisah yang kemudian dituturkan, sosok misterius itu diyakini sebagai Imam Mahdi afs.

Kisah ini memang bukan hadis yang dapat dijadikan dasar akidah. Ia merupakan kesaksian spiritual yang dinukil dari seseorang yang dipercaya. Namun ada pesan indah yang tidak boleh luput:

Orang Nasrani itu belum mengenal nama Imam Mahdi. Ia belum pernah membaca Doa Nudbah. Ia tidak mengetahui Ziarah Ali Yasin. Ia bahkan tidak tahu bagaimana memanggil Sang Imam.

Tetapi Imam mengetahui kegelisahannya.

Ternyata untuk mendapatkan perhatian Hujjah Allah, seseorang tidak selalu harus lebih dahulu mengetahui bagaimana menyebut namanya. Kadang-kadang cukup dengan membawa hati yang jujur—hati yang telah lelah mengetuk banyak pintu, tetapi belum berhenti mencari Tuhan.

Ia datang sebagai orang asing dan bahkan sempat ditolak di pintu. Namun seorang Imam yang tidak terlihat justru membukakan jalan baginya.

Sebab mungkin kita tidak mengenali Imam ketika berpapasan dengannya. Namun Imam tidak pernah keliru mengenali hati yang sedang mencari kebenaran.

Salam atasmu, wahai Hujjah Allah. Engkau tersembunyi dari pandangan, tetapi tidak pernah jauh dari rintihan manusia.

Ia tidak

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan:

Kisah ini dinukil dalam Āftāb-e Wilāyat, hlm. 137, dari ceramah Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, lalu dimuat kembali dalam Shahīfah-ye Razawiyyah, hlm. 132.
Identitas pedagang sebagai Imam Mahdi afs merupakan kesimpulan spiritual dari rangkaian peristiwa, bukan pernyataan eksplisit dalam riwayatnya.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1deJQLEmwG/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us