Bayangkan peristiwa Khandaq itu sebagai sebuah film.
Debu beterbangan. Ringkikan kuda bersahutan. Ribuan pasukan musyrikin mengepung Madinah. Di balik parit, Rasulullah SAW berdiri bersama para sahabatnya.
Abu Bakar ada.
Umar ada.
Utsman ada.
Para pembesar Muhajirin dan Anshar pun ada.
Lalu beberapa penunggang kuda Quraisy menemukan bagian parit yang menyempit. Mereka memacu tunggangannya dan berhasil melompat ke sisi kaum Muslimin.
Di antara mereka ada seorang lelaki yang namanya membuat para petarung Arab menelan ludah: ‘Amr bin ‘Abd Wudd.
Ia bukan prajurit kemarin sore. Ia adalah jagoan perang yang namanya telah menjadi teror di Jazirah Arab. Tubuhnya dibungkus baju besi. Pedangnya terhunus. Kudanya meringkik di hadapan barisan kaum Muslimin.
‘Amr memandang mereka satu per satu.
Lalu berteriak: هَلْ مِنْ مُبَارِزٍ؟
“Adakah yang berani menghadapiku?”
Tidak ada yang bergerak.
Rasulullah SAW lalu menawarkan tantangan itu kepada para sahabatnya. Siapa yang akan menghadapi ‘Amr?
Ali maju. “Aku, wahai Rasulullah.”
Tetapi Nabi SAW menahannya: إِنَّهُ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ وُدٍّ، اجْلِسْ
“Dia ‘Amr bin ‘Abd Wudd. Duduklah.”
Perhatikan baik-baik. Nabi tidak sedang memberi tahu Ali siapa ‘Amr. Ali mengenalnya. Ali mengetahui kekuatan, reputasi, dan kebuasan lelaki itu.
Kalimat Nabi itu justru sedang diperdengarkan kepada semua orang: Itu ‘Amr!
Seakan-akan Rasulullah berkata: “Sekarang kalian sudah tahu siapa yang berdiri di hadapan kalian. Siapa yang akan menyambutnya?”
Ali disuruh mundur agar yang lain mendapatkan kesempatan maju. Tetapi tidak seorang pun bangkit dan maju.
‘Amr kembali memacu kudanya. Ia berteriak untuk kedua kalinya: “Adakah seorang lelaki yang berani melawanku?”
Tetap sunyi.
Pedang-pedang ada di pinggang mereka. Baju perang melekat di tubuh mereka. Gelar-gelar keberanian kelak akan memenuhi kitab-kitab tentang mereka.
Tetapi hari itu, ketika ‘Amr masih hidup dan pedangnya masih terhunus, semuanya diam. ‘Amr mulai mengejek:
“Bukankah kalian mengatakan bahwa orang yang terbunuh di antara kalian akan masuk surga? Di manakah surga kalian itu? Mengapa tidak seorang pun maju agar aku mengantarkannya ke sana?”
Rasulullah SAW kembali memandang para sahabatnya. Siapa yang akan menghadapinya?
Sekali lagi Ali maju. “Aku, wahai Rasulullah.”
Dan sekali lagi Nabi menahannya. “Mundurlah. Itu ‘Amr.”
Nama itu disebut lagi. ‘Amr.
Bukan untuk menakut-nakuti Ali. Ali tidak berubah sedikit pun. Nama itu disebut agar ketakutan yang bersembunyi di dada orang-orang lain semakin terlihat.
Jika mereka berani, berdirilah.
Jika mereka percaya kepada Rasulullah, sambutlah panggilannya.
Jika mereka yakin kepada surga, inilah pintunya.
Tetapi tidak ada.
‘Amr berteriak untuk ketiga kalinya. Suaranya sampai serak. Ia bahkan bersyair:
“Sungguh suaraku telah serak memanggil kalian: adakah seorang penantang?”
Nabi SAW kembali menawarkan kepada para sahabatnya. Dalam riwayat tradisi Ahlul Bait, beliau bahkan memberikan jaminan:
“Siapa yang menghadapi ‘Amr, aku menjamin surga baginya.”
Bayangkan!
Bukan komandan biasa yang menjanjikan penghargaan. Bukan manusia yang berbicara berdasarkan dugaan.
Yang memberikan jaminan adalah Muhammad Rasulullah SAW—manusia yang tidak berbicara mengikuti hawa nafsunya.
Tetapi tetap tidak ada yang maju. Masak mereka tidak percaya kepada Nabi?
Mereka mungkin mengaku percaya. Tetapi pada hari itu, keyakinan harus turun dari mulut menuju kaki. Dan kaki-kaki itu tidak bergerak.
Untuk ketiga kalinya Ali maju.
“Aku, wahai Rasulullah.”
Nabi kembali berkata: “Itu ‘Amr.”
Ali menjawab: وَإِنْ كَانَ عَمْرًا
“Sekalipun dia ‘Amr!”
Selesai.
Hujah telah sempurna. Rasulullah SAW akhirnya mengizinkan Ali maju.
Mengapa Nabi menahannya sampai tiga kali? Karena Rasulullah mengetahui hanya Ali yang mampu menghadapi ‘Amr.
Tetapi beliau tidak ingin sejarah kelak berkata:
“Seandainya kami diberi kesempatan, kami juga akan maju.”
Kesempatan itu diberikan.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Tetapi tiga kali.
Sesungguhnya yang diminta dari mereka pada tahap itu belumlah memenangkan pertarungan. Mereka baru diminta maju. Jika ada yang bangkit tetapi tidak sanggup, Rasulullah dapat menahannya sebagaimana beliau menahan Ali.
Namun mereka bahkan tidak berani mendongkakkan kepala. Ali kemudian turun ke gelanggang.
Seorang pemuda menghadapi pendekar paling menakutkan di tanah Arab. ‘Amr bahkan menyuruhnya kembali karena mengenal Abu Thalib dan tidak ingin menumpahkan darah anaknya.
Tetapi Ali menjawab: “Aku tidak keberatan menumpahkan darahmu.”
Pedang ‘Amr menghantam perisai Ali, membelahnya. Debu menutup pandangan. Suara benturan besi terdengar dari balik kepulan pasir.
Dan hanya hitungan detik. Kemudian terdengar suara takbir: Allahu Akbar!
Rasulullah SAW mengetahui bahwa ‘Amr telah roboh. Terbelah!
Anehnya, setelah ‘Amr menjadi mayat, barulah Umar berbicara. Ia bertanya mengapa Ali tidak mengambil baju zirah ‘Amr yang sangat mahal.
Ali menjawab bahwa ketika ‘Amr tersungkur, auratnya tersingkap. Ali merasa tidak pantas mengambilnya.
Lihatlah perbedaannya.
Ketika ‘Amr masih hidup, Ali menghadapi pedangnya.
Ketika ‘Amr telah mati, orang lain membicarakan baju zirahnya.
Al-Qur’an telah menggambarkan suasana Khandaq:
“Ketika pandangan matamu terpana dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.” QS al-Ahzab: 10–11
Khandaq memang bukan sekadar peperangan. Ia adalah ruang ujian yang membongkar isi manusia.
Semua orang dapat disebut pemberani ketika musuh telah mati.
Semua orang dapat diberi gelar singa ketika tidak ada lagi pedang yang mengancam lehernya.
Tetapi singa yang sebenarnya terlihat ketika ‘Amr masih berada di atas kudanya.
Hari itu Abu Bakar ada.
Umar ada.
Utsman ada.
Para sahabat utama ada. Rasulullah menawarkan tantangan. Surga dijanjikan.
‘Amr berteriak tiga kali. Namun hanya satu orang yang berdiri tiga kali.
Namanya: Ali bin Abi Thalib.
Maka sebelum membagi-bagikan gelar singa kepada siapa saja, putarlah kembali adegan Khandaq itu.
Lihatlah siapa yang maju. Lihatlah siapa yang gentar gemetar.
Lalu bertanyalah:
Asidah…
Asidah manaaaaa?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institue
—
Catatan:
Sumber pokok: al-Bayhaqi, Dalā’il al-Nubuwwah; Ibn Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah; al-Hakim, al-Mustadrak; dan al-Karajuki, Kanz al-Fawā’id.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HpD1uHmkU/

