Ketika Ali Berdagang dengan Allah
Hari itu tubuh Sayyidah Fatimah az-Zahra tampak lemah.
Wajahnya pucat. Tubuh yang setiap hari menggiling gandum, mengangkat air, menjaga anak-anak, dan mengurus rumah kenabian itu sedang memerlukan istirahat.
Imam Ali duduk di sampingnya. Ia memandang perempuan yang paling dicintainya—putri Rasulullah, ibu Hasan dan Husain, cahaya yang menerangi rumah kecil mereka.
Dengan lembut Ali bertanya: “Wahai Fatimah, adakah sesuatu yang engkau inginkan?”
Fatimah tersenyum. Ia bukan perempuan yang terbiasa meminta.
Kemiskinan telah lama menjadi penghuni rumah mereka. Hari-hari tanpa makanan bukanlah sesuatu yang asing. Namun Ali terus mendesaknya agar mengatakan keinginannya.
Akhirnya Fatimah berkata lirih: “Jika ada… aku menginginkan sebuah delima.”
Hanya sebuah delima. Bukan pakaian. Bukan perhiasan. Bukan rumah yang lebih luas.
Hanya sebuah buah untuk seorang istri yang sedang lemah.
Ali berdiri. “Aku akan membawakannya untukmu.”
Ia keluar dari rumah. Namun di tangannya tidak ada uang.
Ali berjalan melewati lorong-lorong Madinah, mencari cara untuk memenuhi keinginan istrinya.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang pedagang kebingungan. Salah satu roda gerobaknya patah. Barang-barangnya hampir berjatuhan. Ia mencoba mengangkat gerobak itu seorang diri, tetapi tidak sanggup.
Orang-orang berjalan melewatinya.
Ali berhenti. Tanpa bertanya siapa pedagang itu, dari kabilah mana ia berasal, atau apakah ia mampu membayar, Ali segera membungkukkan tubuhnya.
Bahu yang dahulu menjadi benteng Rasulullah kini menyangga sebuah gerobak.
Tangan yang biasa menggenggam Dzulfiqar kini memperbaiki roda seorang pedagang.
Setelah beberapa saat, roda itu kembali terpasang. Gerobak dapat bergerak.
Pedagang tersebut mengucapkan terima kasih dan menawarkan upah.
Ali menolaknya. “Aku tidak menolongmu untuk memperoleh bayaran.”
Namun pedagang itu terus mendesak.
Akhirnya ia mengambil sebuah delima paling baik dari dagangannya.
“Kalau begitu, terimalah ini sebagai hadiah.”
Ali memandang delima itu.
Merah. Segar. Indah.
Ia teringat Fatimah yang sedang menunggu di rumah.
Ali menerimanya dengan bahagia. “Semoga Allah memberkatimu.”
Kemudian ia berjalan pulang. Delima itu berada di tangannya.
Setiap langkah membawanya semakin dekat kepada Fatimah.
Namun di tepi jalan, terdengar sebuah suara lemah:
“Wahai hamba Allah…”
Ali berhenti.
Di sudut jalan terbaring seorang lelaki tua. Tubuhnya kurus. Bibirnya kering. Wajahnya memperlihatkan rasa lapar yang telah ditahannya selama berhari-hari.
Ali menghampirinya. “Apa yang dapat kulakukan untukmu?”
Lelaki itu memandang buah di tangan Ali.
“Aku sangat lapar. Sudah lama aku menginginkan sebuah delima.”
Ali terdiam. Matanya turun menatap buah yang digenggamnya.
Hanya satu. Di rumah, Fatimah sedang menunggu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perempuan yang tidak pernah meminta apa pun itu menginginkan sesuatu darinya.
Dan di hadapannya, seorang lelaki kelaparan memohon buah yang sama.
Jika delima itu diberikan, Ali akan pulang dengan tangan kosong.
Jika disimpan, lelaki di hadapannya mungkin akan tetap terbaring dalam kelaparan.
Ali tidak memerlukan waktu lama untuk memilih.
Ia duduk di samping lelaki itu. Delima tersebut dibelahnya.
Butir-butir merah berkilau terkena cahaya matahari.
Ali menyuapkan delima itu kepada sang fakir.
Sedikit demi sedikit. Sampai tidak tersisa sebutir pun.
Lelaki itu mengangkat tangannya. Semoga Allah membalas kebaikanmu.
Ali tersenyum.
Kemudian berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Tangannya kini kosong. Tetapi langkahnya tetap tenang.
Ia tidak tahu dari mana akan mendapatkan delima lain.
Namun ia mengetahui satu hal:
apa yang telah diserahkan kepada Allah tidak pernah benar-benar hilang.
Pintu rumah terbuka.
Fatimah memandang suaminya datang tanpa membawa apa-apa.
“Wahai Ali…”
Ali mendekat. “Di manakah delimanya?”
Ali tidak berusaha menyembunyikan apa yang telah terjadi.
Ia menceritakan tentang lelaki lapar di tepi jalan. Tentang matanya yang memandang buah itu. Tentang tangannya yang gemetar ketika menerima suapan.
Fatimah tersenyum. Tidak ada kekecewaan pada wajahnya.
Sebab hati Fatimah dan hati Ali berasal dari cahaya yang sama.
Namun Ali berkata dengan sangat tenang:
“Tunggulah sebentar, kekasihku.”
Ia menatap pintu.
“Sebentar lagi delimamu akan datang.”
Tidak ada buah di tangannya. Tidak ada uang di sakunya.
Tidak ada pedagang yang dijanjikan akan datang.
Namun suara Ali penuh keyakinan.
Ia tidak mengetahui bagaimana Allah akan mengirimkannya.
Ia hanya mengetahui bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Beberapa saat kemudian— terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Assalamu‘alaikum, wahai Ahlul Bait Rasulullah.”
Ali berdiri. Suara itu dikenalinya.
“Siapa?”
“Aku, Salman al-Farisi.”
Pintu dibuka.
Salman berdiri di sana sambil membawa sebuah nampan besar yang ditutupi kain.
Aroma delima memenuhi udara.
Salman masuk dan meletakkan nampan itu di hadapan Ali.
Ali bertanya:
“Dari manakah ini, wahai Salman?”
Salman menjawab:
“Dari Allah kepada Rasul-Nya. Dan dari Rasulullah untuk keluarganya.”
Ali membuka kain yang menutupi nampan.
Di dalamnya terdapat buah-buah delima yang merah dan segar.
Fatimah tersenyum. Ali mulai menghitungnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Ali berhenti.
Ia menghitungnya sekali lagi.
Tetap sembilan. Ali menatap Salman.
Kemudian sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
“Wahai Salman…”
“Ya, wahai Ali?”
“Jika delima ini benar-benar balasan dari Allah, jumlahnya tidak mungkin sembilan.”
Salman menahan senyumnya.
Ali melanjutkan, “Allah telah berfirman:
‘Barang siapa membawa satu kebaikan, baginya sepuluh kali lipat kebaikan itu.’”
Ali memandang kembali nampan tersebut.
“Aku memberikan satu delima. Jika ini balasan dari Allah, seharusnya ada sepuluh.”
Salman tidak dapat lagi menahan tawanya.
Tangannya masuk ke balik jubahnya.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah delima.
Delima kesepuluh.
Ia meletakkannya di atas nampan.
Kini jumlahnya sempurna.
Sepuluh.
Salman berkata:
“Benar, wahai Amirul Mukminin. Sejak awal jumlahnya memang sepuluh.”
“Lalu mengapa satu buah engkau sembunyikan?”
Salman tersenyum bahagia.
“Bukan karena aku meragukanmu.”
“Aku hanya ingin menyaksikan sendiri betapa teguh keyakinanmu kepada janji Allah. Dan kini imanku kepadamu semakin bertambah.”
Fatimah memandang Ali. Ali memandang Fatimah.
Di antara mereka terdapat sepuluh buah delima.
Namun yang memenuhi rumah itu bukan sekadar aroma buah.
Yang memenuhi rumah itu adalah keyakinan.
Ali telah meninggalkan rumah untuk mencari satu delima.
Ia mendapatkannya setelah membantu seseorang.
Kemudian menyerahkannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Ia pulang dengan tangan kosong.
Namun hatinya tidak pernah kosong dari Allah.
Orang-orang mungkin akan menyebutnya tindakan nekat.
Bagaimana mungkin seseorang berjanji membawa pulang sesuatu yang tidak dimilikinya?
Tetapi Ali tidak sedang bergantung kepada apa yang ada di tangannya.
Ali bergantung kepada Allah.
Ia tidak berkata: “Mungkin delima itu akan datang.”
Ia berkata: “Sebentar lagi delimamu datang.”
Sebab bagi Ali, firman Allah bukanlah kalimat penghibur.
Firman Allah adalah kepastian.
Allah berjanji bahwa satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat.
Maka ketika Salman datang membawa sembilan, Ali tidak meragukan janji Allah.
Ia justru mengetahui bahwa ada satu delima yang belum diperlihatkan.
Hari itu, Salman mencoba menyembunyikan sebuah delima dari pandangan Ali.
Namun tidak seorang pun dapat menyembunyikan janji Allah dari hati Ali.
Satu delima meninggalkan tangan Ali di tepi jalan.
Sepuluh delima mengetuk pintu rumahnya.
Demikianlah perdagangan dengan Allah.
Tidak selalu keuntungannya datang melalui jalan yang dapat dihitung manusia.
Terkadang kita harus melepaskan sesuatu lebih dahulu.
Berjalan pulang dengan tangan kosong.
Mengetuk pintu dengan rasa bersalah.
Lalu tetap berkata kepada orang yang kita cintai:
“Tunggulah sebentar. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.”
Karena orang biasa baru merasa yakin setelah pertolongan datang.
Sedangkan Ali— telah tersenyum sebelum pintu diketuk.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan:
Kisah ini pertama kali saya dengar dari Sayyid Syarief Basri. Dan Versi Salman membawa sepuluh delima dinisbatkan kepada Ka‘b al-Ahbar dalam Durrat an-Nāshihīn, kitab yang sangat belakangan dan bukan sumber sejarah primer.
Meski dikisahkan dengan berbagai versi, tentu kisah ini sulit ditelusuri keasliannya. Namun diyakini bagi para pencinta Ahlul Bait. Karena Janji satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sendiri memiliki dasar yang tegas dalam Al-Qur’an, Surah al-An‘am ayat 160.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19qLXMamQC/

