17 October 2026

Pagi itu, padang Badar tampak seperti pintu kematian yang terbuka.

Di satu sisi berdiri sekitar seribu pasukan Quraisy. Kuda-kuda perang meringkik. Pedang-pedang berkilat diterpa matahari. Baju zirah menutupi tubuh para pendekar yang telah terbiasa membunuh.

Mereka datang dengan kesombongan Makkah.

Mereka yakin akan pulang membawa kepala Muhammad.

Di sisi lain berdiri pasukan kecil kaum Muslimin. Jumlah mereka hanya sekitar tiga ratus orang. Senjata terbatas. Kuda hanya beberapa. Sebagian bergantian menaiki unta. Banyak di antara mereka bahkan tidak memiliki perlengkapan perang yang sempurna.

Mereka tidak berangkat untuk menghadapi pasukan sebesar itu.

Namun takdir telah membawa mereka ke Badar.

Di hadapan mereka berdiri kekuatan Quraisy.

Di belakang mereka hanya ada gurun.

Dan di atas mereka—ada Allah.

Sebelum perang besar dimulai, tiga sosok berjalan keluar dari barisan Quraisy.

Utbah bin Rabi‘ah.

Saudaranya, Syaibah bin Rabi‘ah.

Dan putranya, al-Walid bin Utbah.

Mereka bukan prajurit biasa.

Mereka adalah bangsawan sekaligus pendekar Quraisy. Tubuh mereka terbungkus besi. Pedang terhunus di tangan. Langkah mereka berat menghantam pasir.

Utbah berhenti di tengah medan.

Lalu suaranya menggelegar:

“Siapa yang berani bertarung melawan kami?”

Beberapa pemuda Anshar segera maju.

Mereka tidak gentar.

Namun Utbah memandang mereka dengan penghinaan.

“Siapa kalian?”

Mereka menyebutkan nama dan kabilahnya.

Utbah menggeleng.

“Kami tidak membutuhkan kalian. Kami menginginkan saudara-saudara kami sendiri dari Quraisy!”

Medan kembali sunyi.

Ribuan mata menoleh kepada Muhammad SAW.

Ini bukan lagi sekadar perang tanding.

Quraisy sedang menantang keluarga Rasulullah sendiri.

Mereka ingin darah dibalas dengan darah.

Mereka ingin Muhammad mengirim keluarganya menuju kematian.

Rasulullah SAW berdiri memandang medan.

Di hadapan beliau ada tiga pendekar terbaik Quraisy. Di belakang beliau ada ratusan sahabat. Ada para Muhajirin. Ada para pembesar kaum. Ada orang-orang yang kelak namanya disebut di mimbar-mimbar sejarah.

Tetapi Rasulullah tidak memanggil sembarang orang.

Beliau memanggil darahnya sendiri.

“Bangkitlah, wahai Hamzah!”

Hamzah bin Abdul Muthalib berdiri.

Singa Quraisy.

Kemudian Rasulullah bersabda:

“Bangkitlah, wahai Ubaidah bin al-Harits!”

Ubaidah berdiri. Usianya tidak lagi muda, tetapi langkahnya tegak.

Lalu suara Rasulullah terdengar untuk ketiga kalinya:

“Bangkitlah, wahai Ali!”

Seorang pemuda bangkit.

Usianya belum genap seperempat abad.

Tidak ada pasukan besar di belakang namanya. Tidak ada pengalaman hidup sepanjang lawan-lawannya. Tetapi pemuda itu telah dibesarkan langsung oleh Muhammad.

Ia mengenal wahyu sebelum mengenal kemewahan.

Ia mengenal sujud sebelum mengenal ketakutan.

Ia tidur di ranjang Rasulullah ketika puluhan pedang mengepung rumah.

Dan pagi itu, di Badar, ia kembali berjalan menuju tempat yang oleh manusia lain disebut kematian.

Namanya Ali bin Abi Thalib.

Tiga orang berjalan keluar dari barisan kaum Muslimin.

Hamzah.

Ubaidah.

Ali.

Perhatikanlah baik-baik:

Ketika Islam baru berdiri dan musuh meminta perang tanding, Rasulullah tidak menyuruh keluarga orang lain mempertaruhkan nyawa.

Beliau mengirim keluarganya sendiri.

Darah Abdul Muthalib maju menghadapi pedang Quraisy.

Hamzah berhadapan dengan Utbah.

Ali bergerak menuju Syaibah.

Ubaidah menghadapi al-Walid.

Sesaat mereka saling memandang.

Angin gurun menerbangkan debu di antara enam manusia yang sebentar lagi akan menentukan keberanian dua pasukan.

Kemudian pedang-pedang terangkat.

Benturan pertama terdengar seperti petir.

Hamzah menyerang.

Ali menerjang.

Tidak ada keraguan dalam langkahnya. Tidak ada gerakan mundur. Pedangnya menyambar di tengah kepulan debu.

Di belakangnya, kaum Muslimin menahan napas.

Di hadapannya, pasukan Quraisy mulai menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka bayangkan:

Pemuda yang dahulu mereka lihat tumbuh di rumah Muhammad, kini berdiri sebagai pedang paling mengerikan di tangannya.

Pertarungan berlangsung cepat dan dahsyat.

Hamzah menumbangkan lawannya.

Ali menjatuhkan lawannya.

Namun di sisi lain, Ubaidah dan al-Walid saling menghantam. Dua pedang beradu dan keduanya terluka parah. Darah mengalir di atas pasir Badar.

Ubaidah terhuyung.

Al-Walid masih berusaha berdiri untuk menghabisinya.

Ali melihatnya.

Dalam sekejap, Ali dan Hamzah berbalik.

Keduanya menerjang al-Walid dan menamatkan perlawanannya.

Lalu Ali mengangkat tubuh Ubaidah yang terluka dan membawanya kembali menuju Rasulullah SAW.

Bayangkan pemandangan itu.

Di satu tangan Ali masih ada pedang yang baru saja menghancurkan kesombongan Quraisy.

Di pundaknya ada tubuh seorang anggota keluarganya yang berlumuran luka.

Di belakangnya tergeletak para pendekar yang beberapa saat sebelumnya datang dengan dada membusung, yakin tidak seorang pun mampu menghadapi mereka.

Ali kembali ke barisan.

Tetapi sesuatu telah berubah.

Pasukan Muslimin yang semula memandang ribuan tentara Quraisy dengan kegelisahan, kini melihat bahwa raksasa-raksasa itu dapat ditumbangkan.

Sedangkan pasukan Quraisy mulai menyadari sesuatu yang mengerikan:

Jika pemuda bernama Ali itu telah berada di garis depan, maka mereka bukan hanya sedang menghadapi tiga ratus manusia.

Mereka sedang menghadapi keyakinan yang tidak mengenal takut.

Kemudian perang besar meledak.

Anak panah memenuhi udara.

Kuda-kuda menerjang.

Pedang beradu.

Debu menutupi langit Badar.

Namun di tengah kekacauan itu, Ali terus bergerak.

Dari satu barisan ke barisan lainnya.

Dari satu ancaman menuju ancaman berikutnya.

Ia tidak bertempur untuk mencari nama. Ia bertempur agar nama Muhammad tidak dihapuskan dari muka bumi.

Hari itu Quraisy datang untuk mengakhiri Islam.

Tetapi justru di Badar, Ali membantu mengakhiri kesombongan para pemimpin mereka.

Al-Qur’an kemudian mengabadikan duel pembuka itu:

“Inilah dua golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka.”

(QS al-Hajj: 19)

Riwayat dalam Shahih al-Bukhari menyebutkan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan enam orang yang maju berduel di Badar: Hamzah, Ali, dan Ubaidah melawan Utbah, Syaibah, dan al-Walid.

Imam Ali bahkan berkata bahwa kelak dialah orang pertama yang berlutut di hadapan Allah untuk penyelesaian perselisihan itu pada Hari Kiamat.

Betapa dahsyatnya.

Pertarungan di Badar ternyata tidak selesai di Badar.

Debu telah lama menghilang.

Pedang-pedang telah lama berkarat.

Tubuh para pendekar telah lama menyatu dengan tanah.

Namun perkara antara kebenaran dan kebatilan itu akan dibawa hingga ke hadapan Allah.

Dan Ali akan kembali berdiri sebagai saksi pertamanya.

Sebab sejak pagi Badar, sejarah telah memperlihatkan satu kenyataan:

Ketika kesombongan Quraisy maju dengan tiga pendekarnya, Muhammad menjawabnya dengan tiga orang dari keluarganya sendiri.

Ketika pedang meminta pedang, Rasulullah memanggil Ali.

Ketika kematian membuka pintunya, Ali tidak bertanya siapa yang akan menemaninya.

Ia hanya bangkit ketika namanya dipanggil.

Karena bagi sebagian orang, keberanian adalah kemampuan menghadapi kematian.

Tetapi bagi Ali, keberanian adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana:

Mendengar suara Rasulullah—lalu melangkah, tanpa pernah menoleh ke belakang.

Badar ketika

Catatan sumber:

Riwayat perang tanding dan seruan Rasulullah kepada Hamzah, Ali, serta Ubaidah tercatat dalam “Sunan Abi Dawud 2665”.
Ternyata dalam kitab Ibnu Hisyam. Sedang kisah revisi yang ini memakai Ibnu Hisyam.
Kaitan keenam petarung Badar dengan QS al-Hajj ayat 19 serta pernyataan Imam Ali dicatat dalam Sahih Bukhari.

—

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HknJJPebG/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us