Suatu hari di Madinah, sebuah iring-iringan jenazah melintas di hadapan Rasulullah. Melihat itu, beliau berdiri. Para sahabat yang berada di sekitar beliau kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, itu jenazah seorang Yahudi.”
Namun jawaban Rasulullah tidak lahir dari jarak, kebencian, atau penolakan. Beliau justru mengucapkan kalimat yang sangat singkat, tetapi memancarkan keluasan akhlak yang luar biasa:
Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un. Bukankah ia juga jiwa? Yang akan kembali kepada Pemiliknya?”
Peristiwa ini tercatat dalam banyak riwaya termasuk Shahih al-Bukhari dwngan berbagai redaksi. Sebuah kejadian sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang sangat besar.
Rasulullah sedang mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa hormat kepada sesama. Beliau tidak sedang menyamakan semua agama, tidak pula mencairkan prinsip akidah.
Beliau sedang menunjukkan bahwa sebelum seseorang dilihat dari identitas agamanya, ia tetaplah manusia, makhluk ciptaan Allah, pemilik jiwa, martabat, dan kehormatan.
Di sinilah tampak keindahan Islam yang sering kali luput dipahami. Toleransi dalam Islam bukan sekadar membiarkan orang lain berbeda.
Ia adalah kemampuan untuk tetap adil, tetap beradab, dan tetap menghormati martabat manusia, bahkan ketika keyakinannya tidak sama dengan kita.
Al-Qur’an meletakkan fondasi itu dengan sangat terang:
“Tidak ada paksaan dalam agama.”
Iman tidak lahir dari tekanan, ancaman, atau pemaksaan. Iman tumbuh dari kesadaran, kejernihan, dan pilihan batin yang merdeka.
Sebab keyakinan yang dipaksakan mungkin dapat menundukkan tubuh, tetapi tidak pernah benar-benar menaklukkan hati.
Lebih jauh, Al-Qur’an mengingatkan bahwa perbedaan manusia adalah bagian dari kehendak Allah dalam penciptaan. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling merendahkan.
Maka perbedaan bukan alasan untuk membangun tembok kebencian, melainkan jembatan untuk memahami keluasan ciptaan Allah.
Yang paling mulia di sisi-Nya bukanlah yang paling keras meneriakkan identitas, melainkan yang paling bertakwa, paling bersih akhlaknya, dan paling jujur dalam memuliakan sesama.
Bahkan terhadap mereka yang berbeda agama, Al-Qur’an memerintahkan sikap yang luhur. Allah tidak melarang kaum Muslim berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari negeri mereka.
Ayat ini menegaskan bahwa hubungan dengan pemeluk agama lain tidak boleh dibangun di atas prasangka, permusuhan, atau kebencian buta.
Selama tidak ada kezaliman dan permusuhan, kebaikan serta keadilan tetap menjadi kewajiban moral seorang Muslim.
Karena itu, toleransi dalam Islam bukan tanda lemahnya iman. Ia justru buah dari iman yang matang. Seorang Muslim yang kokoh akidahnya tidak perlu merasa terancam oleh keberadaan orang yang berbeda.
Ia dapat berdiri teguh di atas keyakinannya, sambil tetap lembut dalam perangainya. Ia dapat menjaga batas-batas agamanya, sambil tetap membuka ruang penghormatan kepada manusia lain.
Akhlak Rasulullah adalah pengejawantahan paling sempurna dari prinsip ini. Beliau berdakwah tanpa kehilangan kasih sayang. Beliau berbeda tanpa menghina.
Beliau tegas tanpa menjadi kasar. Beliau memegang kebenaran tanpa merendahkan martabat orang lain. Di tangan beliau, agama tidak tampil sebagai alat untuk mempermalukan manusia, melainkan sebagai cahaya yang membimbing manusia menuju keluhuran budi.
Maka ketika Imam Ali dinisbatkan dengan kalimat indah,
“Mereka yang tidak seiman denganmu adalah saudaramu dalam kemanusiaan,”
kalimat itu adalah napas besar ajaran Islam. Ia mengingatkan bahwa perbedaan iman tidak boleh menghapus persaudaraan kemanusiaan.
Sebab sebelum manusia berbeda dalam agama, bahasa, bangsa, dan kebudayaan, mereka lebih dahulu sama sebagai makhluk Allah yang memiliki jiwa, kehormatan, dan hak untuk diperlakukan dengan adil.
Di sinilah letak keluhuran Islam. Ia tidak meminta kita menghapus perbedaan, karena perbedaan adalah bagian dari kenyataan hidup. Islam juga tidak meminta kita mengorbankan akidah demi toleransi.
Yang diajarkan Islam adalah sesuatu yang jauh lebih tinggi: bagaimana tetap berprinsip tanpa membenci, bagaimana tetap beriman tanpa merendahkan, dan bagaimana tetap menjaga kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.
Toleransi dalam Islam bukan sekadar wacana sosial, melainkan akhlak yang hidup. Ia tampak ketika seorang Muslim menjaga lisannya dari penghinaan.
Ia tampak ketika seorang Muslim berlaku adil kepada tetangganya yang berbeda agama. Ia tampak ketika seorang Muslim menolak kezaliman, sekalipun korbannya bukan dari kelompoknya.
Dan ia tampak paling indah dalam teladan Rasulullah, ketika beliau berdiri untuk menghormati jenazah seorang Yahudi, lalu mengingatkan umatnya dengan satu pertanyaan yang mengguncang hati:
Bukankah ia juga jiwa?
Dan setiap jiwa akan kembali kepada Pemiliknya?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FLvGVRnYX/

