17 October 2026

Jalan membentang menuju Kufah.

Bayangkan dua musafir menempuhnya bersama. Angin menyapu tanah. Debu melekat pada pakaian. Di sepanjang perjalanan, kehadiran seorang teman membuat jarak terasa lebih ringan.

Salah seorang dari mereka bukan Muslim.

Ia belum mengetahui siapa lelaki yang menemaninya.

Tidak ada gelar yang mendahului percakapan mereka. Baginya, orang di sisinya hanyalah seorang musafir yang kebetulan mengambil jalan yang sama.

Ia bertanya tentang tujuan perjalanan.

Kufah, jawab lelaki itu.

Mereka meneruskan perjalanan.

Kemudian tibalah persimpangan.

Di tempat seperti itu, kebersamaan biasanya selesai dengan beberapa patah kata. Orang saling mengucapkan selamat jalan, lalu berangkat menuju urusannya masing-masing.

Musafir tersebut mengambil jalannya.

Tetapi ada sesuatu yang ganjil.

Temannya ikut berbelok.

Jalan menuju Kufah tertinggal di belakang mereka.

Musafir itu mengingatkan: bukankah tadi ia mengatakan hendak ke Kufah?

Benar.

Lalu mengapa ia meninggalkan jalannya?

Lelaki itu menjelaskan bahwa ia mengetahui arah tersebut. Ia sengaja menyertai temannya sebentar sebagai penyempurna kebaikan dalam persahabatan. Begitulah Nabi mereka mengajarkan cara melepas teman seperjalanan.

Bayangkan hening yang mengikuti jawaban itu.

Seseorang telah memperpanjang perjalanannya untuk mengantarmu.

Ia tahu arah pulangnya. Ia mempunyai tujuan sendiri. Namun untuk beberapa langkah, ia memberikan waktunya kepadamu.

Dan ia melakukannya ketika keyakinan kalian berbeda.

Musafir itu ingin memastikan: benarkah demikian ajaran Nabi mereka?

Temannya membenarkan.

Di persimpangan itu, sebuah ajaran mendapat tubuh.

Ia hadir dalam kaki yang tetap melangkah di samping seorang asing. Dalam waktu yang diberikan tanpa diminta. Dalam kesediaan menempuh jarak yang sebenarnya tidak perlu ditempuh.

Musafir tersebut menyatakan bahwa keluhuran perbuatan seperti itulah yang membuat orang mengikuti Nabi itu. Ia pun menyatakan keinginannya mengikuti agama temannya.

Riwayat kemudian menuturkan bahwa ia kembali bersama lelaki tersebut. Setelah mengenal siapa dirinya, ia memeluk Islam.

Teman seperjalanannya adalah Ali bin Abi Thalib.

Amirul Mukminin.

Bayangkan saat nama itu akhirnya diketahui.

Orang yang bersedia mengantarnya ternyata seorang pemimpin. Orang yang memperhatikan hak pertemanan singkat itu mempunyai tanggung jawab jauh lebih besar daripada urusan seorang musafir.

Namun selama perjalanan, ia tidak dibuat merasa menjadi manusia yang lebih rendah.

Ali telah memperlakukannya dengan baik sebelum ia mengenal kedudukan Ali.

Ali telah menghormatinya sebelum ia menerima agama Ali.

Itulah bagian yang begitu menyentuh dari kisah ini.

Kebaikan itu sudah diberikan ketika mereka masih berbeda.

Tidak ditahan sambil menunggu persetujuan. Tidak disyaratkan dengan perubahan keyakinan. Teman seperjalanan mempunyai hak untuk diperlakukan dengan baik, dan Ali menunaikannya.

Kita tidak mengetahui berapa jauh beliau mengantarnya.

Riwayat tidak memberikan hitungan langkah.

Tetapi terkadang yang mengubah hidup seseorang memang sulit diukur dengan jarak.

Sebuah tangan yang menolong pada saat tepat.

Seseorang yang masih mendengarkan ketika orang lain sudah berpaling.

Seorang teman yang belum meninggalkanmu meskipun jalan pulangnya telah terbuka.

Perbuatan-perbuatan itu dapat tinggal dalam ingatan lebih lama daripada percakapan panjang.

Di dalamnya manusia merasakan sesuatu yang sangat sederhana: kehadiranku dianggap berharga.

Begitulah kita dapat membaca langkah Ali di persimpangan itu.

Beliau tidak sedang berdiri di mimbar. Tidak sedang memutuskan perkara. Tidak pula berhadapan dengan pasukan.

Hanya ada seorang teman yang hendak berpisah.

Dan bahkan perpisahan singkat itu beliau jaga adabnya.

Bayangkan kembali jalan tersebut.

Dua arah terbentang. Debu bergerak perlahan. Seorang musafir semula mengira bahwa di sanalah kebersamaan mereka akan berakhir.

Namun beberapa langkah tambahan membuatnya menemukan sesuatu yang tidak dibawanya ketika berangkat.

Ia menemukan wajah sebuah ajaran melalui perbuatan orang yang menjalankannya.

Ali mengetahui jalan menuju Kufah.

Tetapi sebelum melanjutkan perjalanan, beliau memastikan bahwa seorang teman tidak dilepas tanpa kebaikan.

Beberapa langkah saja.

Cukup untuk membuat sebuah persimpangan menjadi awal kehidupan yang lain.

Bbrp langkah

Catatan sumber:

riwayat dari Imam ash-Shadiq melalui para pendahulunya ini dinukil dalam Tafsīr Nūr ats-Tsaqalayn, jilid 1, halaman 480, riwayat 246. Teks menyebut teman tersebut seorang non-Muslim tanpa menentukan agamanya. Percakapan di atas diparafrasakan; penggambaran suasana merupakan pengembangan yang saya lakukan berdasarkan riwayat.

—

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DfjtRYbKf/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us