Nama itu kini disebut di antara para tawanan.
Marwan bin al-Hakam.
Di sekelilingnya, perang meninggalkan dunia yang porak-poranda. Tanah terinjak oleh ribuan kaki. Debu melekat pada pakaian, pada wajah, pada besi yang kehilangan kilaunya.
Orang-orang berjalan mencari mereka yang belum kembali. Sesekali sebuah nama diteriakkan, lalu dijawab oleh keheningan yang lebih menyakitkan daripada kabar kematian.
Pasukan yang diikuti Marwan telah dikalahkan.
Kini ia berada dalam kekuasaan Ali bin Abi Thalib.
Lelaki yang telah diperanginya.
⸻
Basrah menyimpan sisa gemuruh Jamal.
Barisan yang sebelumnya bergerak dengan keyakinan akan kemenangan telah tercerai. Senjata yang beberapa waktu lalu memberi keberanian kini tergeletak bersama pemiliknya.
Di antara mereka yang masih hidup, ada yang terluka, ada yang mencari perlindungan, ada yang harus menerima kenyataan bahwa kebebasannya telah berakhir.
Marwan termasuk yang tertawan.
Pada saat seperti itu, dunia seorang manusia dapat menyempit menjadi penantian. Ia masih dapat bernapas, masih dapat mendengar orang berbicara, tetapi keputusan tentang langkahnya berikutnya berada di tangan pihak yang menang.
Dan nama pemenang itu adalah Ali.
Marwan mengenalnya.
Ia pernah berbaiat kepada Ali setelah terbunuhnya Utsman. Pernah memberikan janji kesetiaan kepada lelaki yang kemudian dihadapinya sebagai lawan.
Janji itu mempunyai saksi dalam perbuatannya sendiri.
Sekarang perang telah membawa dirinya kembali ke bawah kekuasaan orang yang dibaiatnya.
Di tengah keadaan itulah Marwan mencari sebuah jalan keluar.
Ia meminta Hasan dan Husain menjadi perantara.
⸻
Dua nama itu membawa seluruh berat sebuah keluarga.
Hasan dan Husain, putra Fathimah, cucu Rasulullah SAW, berdiri di pihak ayah mereka. Mereka mengetahui siapa orang yang memohon pertolongan. Mereka mengetahui di barisan mana ia berada ketika pertempuran berlangsung.
Namun, permohonan Marwan tetap mereka sampaikan.
Dari pihak yang kalah, harapan itu menyeberang melalui dua putra pemimpin yang menang.
Ada suatu ironi yang nyaris membuat medan perang itu terasa lebih sunyi: seseorang yang ikut memerangi Ali kini membutuhkan kemurahan keluarga Ali agar dapat keluar dari penawanannya.
Hasan dan Husain berbicara kepada ayah mereka.
Di sekitar keputusan itu masih ada bekas peperangan. Masih ada luka yang belum dirawat, kehilangan yang belum selesai dihitung, keluarga yang belum mengetahui siapa yang akan pulang.
Permohonan untuk Marwan disampaikan di tengah kenyataan tersebut.
Ali menerimanya.
Beliau membebaskan Marwan.
Jalan yang tertutup bagi tawanan itu dibuka kembali.
Ia memperoleh kebebasannya melalui dua putra lelaki yang diperanginya—dan melalui keputusan lelaki itu sendiri.
Namun, justru setelah pembebasan itulah perkataan Ali menyingkap sesuatu yang jauh lebih menggetarkan.
⸻
Hasan dan Husain membicarakan baiat Marwan.
Sebuah kemungkinan yang dapat dipahami: orang yang telah dibebaskan itu memperbarui janji kesetiaannya kepada Amirul Mukminin.
Baiat dapat mempertemukan kembali tangan yang sebelumnya terpisah oleh peperangan. Ia dapat dinyatakan di hadapan saksi, didengar oleh orang-orang, lalu dibawa sebagai kabar bahwa permusuhan telah berakhir.
Tetapi Ali mengembalikan pembicaraan kepada janji yang pernah diucapkan.
“Bukankah ia telah berbaiat kepadaku setelah terbunuhnya Utsman?”
Pertanyaan itu membuat masa lalu hadir kembali.
Marwan pernah memberikan baiat.
Kemudian ia mengambil tempat di pihak yang memerangi Ali.
Di antara janji dan perbuatannya terbentang sebuah medan perang.
Ali melanjutkan:
“Aku tidak membutuhkan baiatnya.”
Kalimat itu memutus kemungkinan menjadikan sebuah ikrar baru sebagai hiasan kemenangan.
Beliau telah membebaskan Marwan. Kebebasan itu sudah diberikan. Beliau tidak perlu mengikatnya dengan sebuah upacara kesetiaan yang tidak dipercayainya.
Ali mengenali watak orang tersebut.
Beliau memperingatkan bahwa sekalipun Marwan memberikan baiat dengan tangannya, ia akan kembali berkhianat.
Tangan dapat diulurkan. Janji dapat diucapkan. Orang-orang dapat menyaksikannya.
Namun, Ali tidak menyerahkan penilaiannya kepada penampilan sebuah peristiwa.
Beliau melihat jurang yang dapat terbuka di antara sumpah dan kesetiaan.
⸻
Lalu datang perkataan yang membawa pembicaraan melampaui Basrah.
“Sesungguhnya ia akan memperoleh kekuasaan yang berlangsung seperti anjing menjilat hidungnya.”
Begitu pendek.
Sebuah gerakan yang selesai hampir bersamaan dengan saat mata menangkapnya.
Ali menggunakan perumpamaan itu untuk menggambarkan masa kekuasaan Marwan.
Pada hari tersebut, Marwan adalah orang yang baru dibebaskan dari penawanan. Tetapi dalam perkataan Ali, telah terbentang masa ketika orang itu akan memerintah.
Kedudukan mereka seakan dilintasi oleh dua zaman sekaligus.
Yang satu sedang berlangsung: kekalahan, penawanan, permohonan, pembebasan.
Yang lain belum tiba: kekuasaan, keturunan yang memegang pemerintahan, dan penderitaan yang akan menyentuh umat.
Ali juga menyebut empat tokoh kekuasaan dari keturunan Marwan.
Kemudian beliau mengucapkan peringatan yang meninggalkan warna paling kelam dalam kisah itu:
“Umat akan mengalami hari yang merah karena dia dan keturunannya.”
Hari yang merah.
Di tanah bekas pertempuran, warna itu tidak terasa jauh.
Orang-orang telah melihat bagaimana darah mengubah warna pakaian. Bagaimana sebuah tubuh yang beberapa saat sebelumnya bergerak dapat mendadak diam.
Bagaimana kemenangan bagi satu barisan berarti pintu rumah yang tak akan pernah diketuk lagi bagi keluarga di barisan lain.
Dan Ali sedang memperingatkan tentang hari-hari berdarah yang akan datang.
Ucapan beliau menyingkap bahaya yang tidak berakhir bersama kekalahan Marwan di Jamal.
Orang itu masih akan memperoleh kekuasaan.
Pengaruhnya masih akan menjangkau umat.
Keturunannya masih akan mengambil tempat dalam pemerintahan.
Namun, keputusan pembebasannya tetap berlaku.
⸻
Di sinilah kita perlu tinggal sejenak di dalam adegan itu.
Ali telah mengalahkan pihak yang memeranginya. Marwan tertawan. Hasan dan Husain memohonkan kebebasan untuknya.
Beliau mengabulkan permohonan tersebut.
Sesudahnya, beliau menolak baiat yang tidak dipercayainya dan menyampaikan peringatan tentang masa depan orang itu.
Kemurahan hati Ali berjalan bersama pengetahuan yang tajam tentang siapa yang sedang dihadapinya.
Beliau tidak perlu menganggap Marwan telah menjadi baik agar dapat membebaskannya. Beliau tidak mengubah pengkhianatan menjadi kesetiaan hanya karena peperangan telah dimenangkan.
Apa yang buruk tetap disebut buruk.
Apa yang berbahaya tetap diperingatkan.
Dan kebebasan yang telah diberikan tidak ditarik kembali untuk memuaskan kebencian pribadi.
Di tangan Ali, kemenangan tetap berada dalam kendali prinsip.
Seluruh kekuatan yang mampu meruntuhkan barisan lawan itu tunduk ketika sebuah keputusan telah diambil.
⸻
Tahun-tahun kemudian, nama Marwan kembali muncul dalam kedudukan yang berbeda.
Ia memperoleh kekuasaan.
Syam dan Mesir berada dalam genggamannya. Orang yang pernah memohon perantaraan Hasan dan Husain itu akhirnya tampil sebagai penguasa.
Namun, kekuasaannya berlangsung singkat. Al-Dzahabi mencatat masa penguasaannya atas Syam dan Mesir sekitar sembilan bulan.
Kemudian kematian menutupnya.
Ketika membaca bagian sejarah tersebut, perkataan Ali di Basrah terdengar kembali: kekuasaan yang berlangsung seperti sekejap jilatan.
Waktu yang panjang membawa Marwan menuju pemerintahan.
Waktu yang pendek mengeluarkannya dari sana.
Nama keluarganya terus hidup dalam sejarah kekuasaan, sementara peringatan Ali tentang hari yang merah terus mengikuti pembacaan atas riwayat mereka.
⸻
Tetapi sebelum semua itu, ada suatu hari di Basrah.
Sebelum orang-orang datang kepada Marwan untuk meminta keputusan, dirinya pernah menunggu keputusan orang lain.
Sebelum kekuasaan membuka pintu-pintu baginya, kebebasannya pernah bergantung pada sebuah permohonan.
Dan ketika mencari jalan keluar dari penawanan, ia menyebut dua nama:
Hasan.
Husain.
Keduanya menyampaikan permohonannya kepada ayah mereka.
Ali membebaskannya.
Itulah adegan yang tidak dapat dihapus oleh jabatan apa pun yang kemudian dimiliki Marwan.
Ia boleh mencapai kekuasaan. Namanya boleh disebut di hadapan para pejabat dan pasukan. Orang-orang boleh berdiri menunggu perintahnya.
Namun, sejarah tetap menyimpan dirinya sebagai seorang tawanan yang memperoleh kebebasan melalui keluarga yang diperanginya.
Di medan Jamal, Ali telah memperlihatkan betapa dahsyat kekuatan tangannya.
Sesudah Jamal, beliau memperlihatkan betapa tinggi jiwa yang mengendalikan tangan itu.
Dan Marwan keluar hidup-hidup dari kekuasaannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sumber:
Alur penawanan, perantaraan Hasan–Husain, pembebasan, penolakan baiat, dan peringatan Ali mengikuti Nahj al-Balaghah, Khutbah 73. Keterangan masa kekuasaan Marwan merujuk al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, biografi Marwan bin al-Hakam. Penggambaran suasana merupakan pengolahan sastra; kutipan dipilih dan diterjemahkan secara makna. Identitas “empat tokoh” ditafsirkan berbeda oleh para pensyarah.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CYrm88K6h/

