10 October 2026

Siapa yang Menzalimi Rasulullah SAW?

Setelah seluruh kisah panjang ini, satu pertanyaan tidak mungkin dihindari:

Siapa sebenarnya yang menzalimi Rasulullah SAW?

Jawabannya tidak boleh dibangun hanya dari emosi, apalagi dari kebencian mazhab.
Kita harus kembali kepada Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an memiliki keberanian yang sering kali tidak kita miliki: ia tidak menyembunyikan kelemahan manusia hanya karena mereka pernah hidup di sekitar Rasulullah.

Al-Qur’an memuji orang-orang yang tulus.

Tetapi Al-Qur’an juga menegur orang-orang beriman.

Ia memuji sebagian sahabat.

Tetapi ia tidak pernah mengajarkan bahwa setiap orang yang pernah melihat Nabi otomatis kebal dari kesalahan.

Ini penting.

Sebab salah satu kesalahan besar dalam membaca sejarah Islam adalah menjadikan kata “sahabat” seperti sebuah sertifikat kesucian kolektif.

Padahal Al-Qur’an sendiri tidak melakukannya.

Ada yang setia.

Ada yang lemah.

Ada yang takut.

Ada yang membangkang.

Ada yang munafik.

Ada yang meninggalkan Nabi.

Ada yang meninggikan suara di hadapannya.

Ada yang menyakitinya.

Bahkan ada yang hidup begitu dekat dengan Rasulullah sementara hatinya menyimpan sesuatu yang tidak diketahui umat.

Maka apabila kita bertanya:

“Siapa yang menzalimi Rasulullah?”

Jawaban pertama Al-Qur’an sangat jelas:

orang-orang kafir dan musyrik.

Mereka mengusir Nabi.

Mereka memeranginya.

Mereka mencacinya.

Mereka menuduhnya penyihir, pendusta, dan orang gila.

Tetapi persoalannya tidak berhenti di sana.

Mazlumiyah Rasulullah menjadi lebih dalam ketika Al-Qur’an memperlihatkan bahwa sebagian luka justru datang dari lingkungan umat sendiri.

Dan di sinilah pembicaraan menjadi jauh lebih berat.

Orang yang Menyakiti Rasulullah

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.”

Ini Surah At-Taubah ayat 61.

Perhatikan kerasnya redaksi.

Allah tidak mengatakan:

“Mereka kurang beradab.”

Tidak.

Allah mengatakan:

lahum ‘adzābun alīm.

Bagi mereka azab yang pedih.

Artinya, menyakiti Rasulullah bukan pelanggaran sosial biasa.

Ia adalah kejahatan spiritual.

Dan lebih tajam lagi, dalam Surah Al-Ahzab ayat 57 Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.”

Berhentilah pada kata:

لَعَنَهُمُ اللَّهُ

“Allah melaknat mereka.”

Ini bukan bahasa ringan.

Laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah.

Maka siapa pun orangnya—dari suku mana pun, generasi mana pun, status sosial apa pun—jika ia menyakiti Rasulullah dengan kesadaran dan pembangkangan, Al-Qur’an telah menetapkan ancamannya.

Yang menentukan bukan gelarnya.

Yang menentukan adalah perbuatannya.

Mereka yang Meninggikan Suara di Hadapan Nabi

Surah Al-Hujurat membuka salah satu tabir paling menggetarkan tentang perilaku sebagian orang beriman di hadapan Rasulullah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi dan jangan berbicara keras kepadanya sebagaimana kalian saling berbicara keras satu sama lain, agar amal-amal kalian tidak gugur tanpa kalian sadari.”

Perhatikan subjeknya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman.”

Ayat ini bukan berbicara kepada Abu Lahab.

Bukan kepada Abu Jahal.

Bukan kepada pasukan Quraisy di Makkah.

Ayat ini menegur orang-orang yang telah masuk ke dalam komunitas Islam.

Dan ancamannya luar biasa:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ

“Jangan sampai amal-amal kalian gugur.”

Ini berarti kedekatan kepada Nabi tidak menjamin keselamatan apabila adab kepada beliau dirusak.

Seseorang dapat mempunyai amal.

Dapat berjihad.

Dapat berhijrah.

Dapat shalat.

Tetapi Al-Qur’an mengatakan: cara memperlakukan Rasulullah dapat menghancurkan semuanya.

Mengapa?

Karena iman bukan hanya pengakuan terhadap Allah.

Iman juga menuntut pengakuan terhadap otoritas Rasul.

Jangan Mendahului Allah dan Rasul

Ayat sebelumnya bahkan lebih tajam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.”

Apa arti mendahului Rasul?

Secara prinsip, ia berarti meletakkan pendapat, kepentingan, keputusan, atau kehendak pribadi di depan keputusan Allah dan Rasul.

Ini adalah masalah yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Bukan karena manusia tidak mengenal kebenaran.

Tetapi karena kadang-kadang manusia merasa pendapatnya lebih baik daripada perintah yang telah datang.

Dan ketika hal itu terjadi terhadap Rasulullah, persoalannya tidak lagi sekadar perbedaan pendapat.

Ia menjadi persoalan ketaatan.

Orang-Orang yang Meninggalkan Nabi Demi Perdagangan

Al-Qur’an juga mengabadikan kejadian yang sangat menyakitkan dalam Surah Al-Jumu‘ah ayat 11:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

“Apabila mereka melihat perdagangan atau hiburan, mereka berhamburan menuju kepadanya dan meninggalkan engkau sedang berdiri.”

Sekali lagi, yang meninggalkan Nabi bukan kaum musyrik.

Mereka berada di masjid.

Mereka hadir dalam khutbah Rasulullah.

Mereka bagian dari komunitas Muslim.

Tetapi perdagangan datang, lalu mereka meninggalkan beliau berdiri.

Ayat ini menyingkap sesuatu yang sangat manusiawi sekaligus menyakitkan:

orang dapat berada sangat dekat dengan Nabi, tetapi dunia tetap lebih dekat kepada hatinya.

Jarak fisik dengan Rasulullah ternyata tidak sama dengan jarak spiritual.

Seseorang dapat duduk beberapa meter dari Nabi namun hatinya jauh.

Sebaliknya, seseorang dapat hidup berabad-abad setelah beliau tetapi mencintai beliau begitu dalam.

Mereka yang Meninggalkan Posisi dalam Perang

Perang Uhud adalah bukti lain.

Rasulullah memberi instruksi yang jelas kepada pasukan pemanah agar tidak meninggalkan posisi mereka.

Tetapi ketika mereka melihat kemungkinan mendapatkan harta rampasan, sebagian meninggalkan tempatnya.

Al-Qur’an mengabadikannya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 152:

حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ

“Hingga ketika kalian menjadi lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah setelah Dia memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai…”

Kata yang digunakan adalah:

وَعَصَيْتُمْ

“Dan kalian mendurhakai.”

Bukan sekadar:

“Kalian keliru.”

Al-Qur’an menyebutnya maksiat terhadap perintah.

Kemudian Allah menjelaskan:

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”

Ini sangat jujur.

Dalam pasukan Rasulullah sendiri ada orang-orang yang motivasinya berbeda.

Sebagian menghendaki akhirat.

Sebagian tergoda dunia.

Al-Qur’an tidak menutupinya.

Maka mengapa kita harus menutupinya?

Kejujuran kepada sejarah bukan penghinaan terhadap Islam.

Justru Al-Qur’an sendiri mengajari kita bahwa iman menjadi besar karena ia berani mengakui kegagalan manusia.

Ketika Kabar Nabi Gugur Menyebabkan Sebagian Berbalik

Masih dalam konteks Uhud, Allah berfirman:

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Apakah jika ia wafat atau dibunuh kalian akan berbalik ke belakang?”

Ayat ini tidak turun tanpa sebab.

Ketika muncul kabar bahwa Rasulullah telah gugur, sebagian kehilangan orientasi.

Apa maknanya?

Keterikatan mereka kepada Islam belum sepenuhnya berubah menjadi keterikatan kepada risalah.

Mereka masih sangat bergantung kepada kehadiran fisik Nabi.

Al-Qur’an kemudian mengajarkan:

Muhammad adalah Rasul.

Risalah tidak boleh mati ketika tubuh Rasul wafat.

Tetapi pertanyaan ini tetap menggantung:

siapa yang akan bertahan setelah Nabi benar-benar wafat?

Itulah ujian terbesar.

Mereka yang Membuat Nabi Bersedih

Dalam Surah At-Tahrim, kita menemukan peristiwa yang bahkan memasuki lingkungan rumah Rasulullah.

Allah berfirman:

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا

“Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kalian berdua telah condong.”

Ayat ini ditujukan kepada dua istri Nabi.

Al-Qur’an bahkan kemudian memperingatkan:

وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

“Jika kalian berdua saling membantu untuk menyusahkannya, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, Jibril, orang-orang mukmin yang saleh, dan sesudah itu para malaikat adalah penolongnya.”

Betapa dahsyat redaksinya.

Rasulullah sampai dibela oleh:

Allah.

Jibril.

Orang-orang mukmin yang saleh.

Dan para malaikat.

Terhadap apa?

Terhadap suatu situasi di dalam rumah beliau sendiri.

Ini menunjukkan bahwa kedekatan keluarga pun tidak menjadi kekebalan moral.

Bahkan istri Nabi dapat ditegur Al-Qur’an apabila melakukan sesuatu yang menyakiti beliau.

Dan inilah pelajaran besar:

tidak ada manusia yang menjadi benar hanya karena dekat secara fisik dengan Nabi.

Kebenaran tetap diukur oleh ketaatan.

Mereka yang Menuduh dan Mengganggu Nabi

Surah At-Taubah juga mengisahkan orang-orang yang menyakiti Nabi dengan ucapan:

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ

“Dan di antara mereka ada orang-orang yang menyakiti Nabi dan berkata: ‘Dia itu telinga.’”

Maksudnya, mereka mengejek Rasulullah sebagai orang yang mudah percaya kepada semua yang dikatakan.

Allah membela beliau.

Sekali lagi, Al-Qur’an tidak menyembunyikan kenyataan bahwa orang yang hidup di Madinah, mengaku berada dalam masyarakat Islam, dapat menyakiti Rasulullah.

Munafik di Sekitar Rasulullah

Lebih menggetarkan lagi adalah Surah At-Taubah ayat 101:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ

“Di antara orang-orang Arab Badui di sekitar kalian ada orang-orang munafik, dan di antara penduduk Madinah ada yang keterlaluan dalam kemunafikan. Engkau tidak mengetahui mereka; Kami mengetahui mereka.”

Ayat ini menghancurkan satu asumsi yang sering dibangun kemudian:

bahwa semua orang yang berada di sekitar Nabi dapat kita anggap otomatis saleh.

Al-Qur’an mengatakan sebaliknya.

Ada munafik.

Bahkan Rasulullah tidak diperintahkan untuk mengumumkan seluruh identitas mereka.

Allah yang mengetahui mereka.

Maka secara metodologis, kita juga harus berhati-hati.

Kita tidak boleh sembarangan menunjuk nama hanya berdasarkan prasangka.

Tetapi kita juga tidak boleh menciptakan doktrin bahwa seluruh komunitas generasi awal pasti benar.

Al-Qur’an menolak kedua ekstrem itu.

Jangan menuduh tanpa bukti.

Tetapi jangan menyucikan secara kolektif tanpa dasar.

Mereka yang Duduk Bersama Nabi tetapi Tidak Taat

Surah An-Nur ayat 62 menyatakan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersama Rasul dalam suatu urusan bersama, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya.”

Ayat ini sangat menarik.

Mengapa Al-Qur’an harus mengatur soal meninggalkan majelis Nabi?

Karena rupanya ada yang melakukannya.

Bahkan pada ayat berikutnya Allah memperingatkan:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kalian menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.”

Lalu:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.”

Ini Surah An-Nur ayat 63.

Tidak ada redaksi yang lebih jelas.

Menyelisihi perintah Rasul memiliki ancaman fitnah dan azab.

Maka ukuran ketaatan kepada Nabi bukan seberapa sering seseorang duduk bersama beliau.

Tetapi apakah ia menaati beliau.

Tidak Boleh Memilih Setelah Rasul Menetapkan

Al-Qur’an bahkan menutup ruang bagi orang beriman untuk meletakkan pilihannya berhadapan dengan keputusan Rasul.

Surah Al-Ahzab ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, kemudian masih ada pilihan bagi mereka dalam urusan tersebut.”

Lalu Allah melanjutkan:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

Kata-katanya tegas:

ḍalālan mubīnā.

Kesesatan yang nyata.

Artinya, setelah Rasul menetapkan sesuatu, ketaatan bukan pilihan sekunder.

Ia bagian dari iman.

Bahkan Amal Bisa Hilang Karena Sikap terhadap Rasul

Kita harus kembali sekali lagi kepada Surah Al-Hujurat.

Sebab ayat ini memberi ukuran yang sangat mengerikan:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Jangan sampai gugur amal kalian sementara kalian tidak menyadarinya.”

Manusia mungkin merasa dirinya dekat kepada Allah.

Merasa berjasa terhadap Islam.

Merasa memiliki sejarah panjang bersama Rasul.

Namun sikap terhadap Nabi dapat membuat semua itu gugur.

Dan yang paling menakutkan:

وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Sedangkan kalian tidak menyadarinya.”

Seseorang dapat merasa benar sambil amalnya runtuh.

Itulah bahaya ego religius.

Lalu Siapa yang Menzalimi Rasulullah?

Setelah membaca seluruh ayat ini, jawabannya menjadi lebih jernih.

Yang menzalimi Rasulullah bukan hanya orang yang melempar batu kepada beliau.

Bukan hanya mereka yang mengangkat pedang.

Bukan hanya kaum musyrik yang mengepung rumahnya di Makkah.

Siapa pun yang menyakiti beliau, menentang perintah beliau, meninggalkan beliau demi dunia, mengangkat suara di atas suara beliau, menaruh kepentingan sendiri di atas keputusan beliau, atau merendahkan kehormatan orang-orang yang beliau sucikan—ia telah mengambil bagian dalam mazlumiyah Rasulullah sesuai kadar perbuatannya.

Di sini kita harus sangat disiplin.

Al-Qur’an sering menggambarkan perilakunya, bukan selalu memberi kita nama pelakunya.

Karena itu jangan melampaui Al-Qur’an dengan menjatuhkan tuduhan kepada orang tertentu tanpa hujjah sejarah yang memadai.

Tetapi jangan pula melumpuhkan Al-Qur’an dengan mengatakan bahwa semua generasi yang hidup bersama Nabi otomatis berada di atas kritik.

Al-Qur’an tidak pernah berkata demikian.

Yang ada adalah ukuran:

iman.

ketaatan.

adab.

kesetiaan.

Ujian Terbesar Datang Setelah Rasulullah

Di sinilah ayat yang telah menemani seluruh tulisan ini kembali berdiri di hadapan kita:

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang?”

Pertanyaan itu tidak berhenti di Uhud.

Ia seperti menunggu jawaban pada hari Rasulullah benar-benar wafat.

Ketika Nabi berada di tengah-tengah mereka, ketaatan dapat diuji secara langsung.

Tetapi setelah beliau wafat, ujian menjadi lebih berat.

Siapa yang setia kepada pesan beliau?

Siapa yang memegang amanah beliau?

Siapa yang menjaga Ahlul Bait beliau?

Siapa yang mendahulukan wasiat beliau daripada kepentingan politik?

Siapa yang mengingat bahwa Nabi bukan hanya meninggalkan umat, tetapi juga meninggalkan keluarga?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan slogan.

Ia harus dijawab dengan sejarah.

Dan sejarah harus dibaca dengan Al-Qur’an sebagai neraca.

Fatimah sebagai Ukuran Luka Nabi

Di sinilah hadis Rasulullah tentang Fatimah menjadi sangat menentukan:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي

“Fatimah adalah bagian dariku.”

Dan:

يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا

“Apa yang menyakitinya, menyakitiku.”

Maka apabila kita ingin mengetahui apakah penderitaan Rasulullah berhenti ketika beliau wafat, tanyakanlah:

Apa yang terjadi kepada Fatimah setelah Nabi wafat?

Apakah beliau hidup tenang?

Apakah haknya dihormati?

Apakah hatinya terjaga?

Apakah ia wafat dalam keadaan ridha kepada semua perkembangan setelah ayahnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan provokasi.

Ini adalah pertanyaan historis.

Dan apabila Fatimah benar-benar biḍ‘atun minnī, bagian dari Rasulullah, maka luka terhadap Fatimah tidak bisa dipisahkan dari luka Rasulullah.

Demikian pula terhadap Ali.

Hasan.

Husain.

Karena merekalah rumah yang berkali-kali Nabi letakkan di pusat kasih sayangnya.

Karbala: Mazlumiyah Nabi yang Berlanjut

Enam puluh satu tahun Hijriah, Husain bin Ali berdiri di Karbala.

Cucu Rasulullah.

Anak Fatimah.

Anak Ali.

Darahnya ditumpahkan.

Kepalanya dipisahkan dari tubuh.

Keluarganya ditawan.

Apakah ini tidak menyentuh Rasulullah?

Sulit membayangkan seseorang mencintai Nabi tetapi menganggap Karbala sekadar konflik politik.

Sebab tubuh Husain pernah dipeluk Nabi.

Leher yang ditebas itu pernah diciumi Rasulullah.

Dada yang diinjak itu pernah bersandar kepada dada Rasulullah.

Maka Karbala bukan hanya pembunuhan Husain.

Secara spiritual, ia adalah salah satu puncak mazlumiyah keluarga Muhammad.

Dan karena Nabi berkata:

“Husain dariku dan aku dari Husain,”

maka darah Husain mengembalikan kita kepada Muhammad.

Tetapi Jangan Berhenti Menuduh Masa Lalu

Ada jebakan lain.

Kita membaca semua ayat ini lalu menunjuk ke belakang:

“Mereka yang zalim.”

“Mereka yang meninggalkan Nabi.”

“Mereka yang meninggikan suara.”

“Mereka yang berpaling.”

Tetapi Al-Qur’an tidak turun hanya untuk menjadi kamera sejarah.

Ia adalah cermin.

Maka pertanyaan yang lebih menakutkan adalah:

Apakah kita hari ini juga menzalimi Rasulullah?

Ketika kita bershalawat kepadanya tetapi tidak peduli kepada akhlaknya.

Ketika kita membela namanya tetapi menghina manusia.

Ketika kita mengaku mencintai beliau tetapi menolak keluarganya.

Ketika kita menyebut Sunnah tetapi memilih Sunnah yang sesuai kepentingan.

Ketika kita membaca:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

tetapi sesungguhnya hanya taat apabila perintah Rasul selaras dengan selera kita.

Bukankah itu juga bentuk inqilāb?

Mungkin bukan berbalik secara fisik.

Tetapi berbalik secara makna.

Cinta yang Jujur Harus Berani Membaca Sejarah

Cinta kepada Rasulullah tidak membutuhkan manipulasi sejarah.

Jika ada sahabat yang dipuji Al-Qur’an, kita puji.

Jika ada yang ditegur, kita akui tegurannya.

Jika ada yang berbuat salah, kita tidak harus mengubah kesalahan menjadi keutamaan hanya demi menjaga sebuah konstruksi teologis.

Rasulullah jauh lebih besar daripada semua tokoh di sekelilingnya.

Islam tidak akan runtuh hanya karena kita mengakui ada manusia di generasi awal yang keliru.

Justru Islam menjadi semakin besar karena Al-Qur’an sendiri berani mengoreksi mereka.

Al-Qur’an bukan kitab kultus individu.

Ia kitab kebenaran.

Kebenaran tidak mengenal nepotisme sejarah.

Nabi yang Mazlum

Dan kini kita memahami makna judul tulisan ini.

NABI YANG MAZLUM.

Beliau mazlum ketika dilempari batu di Tha’if.

Beliau mazlum ketika dihina di Makkah.

Beliau mazlum ketika umat meninggalkannya berdiri di mimbar.

Beliau mazlum ketika suara meninggi di hadapannya.

Beliau mazlum ketika perintahnya diperdebatkan.

Beliau mazlum ketika di hari-hari terakhir hidupnya kegaduhan masuk ke kamar sakitnya.

Beliau mazlum ketika keluarga yang dicintainya kelak harus menanggung luka.

Beliau mazlum ketika sejarah tentang dirinya dipotong-potong agar tidak mengganggu kenyamanan kita.

Dan mungkin bentuk mazlumiyah paling sunyi adalah ini:

nama beliau dicintai, tetapi kehendaknya tidak selalu ditaati.

Nama beliau dipuji.

Tetapi pesan terakhirnya diperdebatkan.

Maulidnya dirayakan.

Tetapi wafatnya nyaris tidak dikenang.

Shalawat kepadanya menggema.

Tetapi luka keluarganya dianggap tidak penting.

Lalu kita masih berkata:

“Kami mencintai Rasulullah.”

Mungkin memang.

Tetapi cinta perlu dibuktikan.

Penutup

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang Rasulullah, ia tidak hanya mengajarkan kita untuk bershalawat.

Ia mengajarkan adab.

Jangan meninggikan suara.

Jangan mendahului.

Jangan menyelisihi.

Jangan menyakiti.

Jangan meninggalkan.

Jangan mengutamakan dunia.

Jangan menjadikan keputusan manusia mengalahkan keputusan Rasul.

Dan Allah memberi ancaman yang tidak ringan:

amal bisa gugur.

fitnah dapat menimpa.

azab dapat datang.

laknat Allah dapat turun.

Semua itu menunjukkan betapa agung kedudukan Rasulullah SAW.

Maka cinta kepada Nabi bukan sekadar air mata ketika namanya disebut.

Cinta adalah kesediaan menurunkan ego ketika kehendaknya telah jelas.

Cinta adalah keberanian memilih Rasul ketika kepentingan dunia menawarkan arah lain.

Cinta adalah menjaga orang-orang yang ia cintai.

Cinta adalah tidak membiarkan Ahlul Baitnya menjadi catatan kaki dalam sejarah umat yang mengaku sebagai umat Muhammad.

Dan mungkin setelah semua ini, kita tidak perlu terlalu cepat bertanya:

“Siapa dahulu yang menzalimi Rasulullah?”

Sebelum itu, mari kita bertanya dengan lebih takut:

“Apakah aku, hari ini, masih menjadi bagian dari luka Rasulullah?”

Sebab mungkin kita tidak pernah berada di Tha’if.

Kita tidak ikut Perang Uhud.

Kita tidak hadir di kamar Nabi pada hari Kamis.

Kita tidak berada di Saqifah.

Kita tidak berdiri di Karbala.

Tetapi setiap hari kita tetap berada di hadapan pilihan yang sama:

mendahulukan Rasulullah, atau mendahulukan diri sendiri.

Dan di situlah sesungguhnya kesetiaan diuji.

Semoga ketika kelak kita berdiri di hadapan beliau, kita tidak datang hanya membawa ucapan:

“Yā Rasūlallāh, kami mencintaimu.”

Tetapi juga sebuah kehidupan yang mampu menjadi bukti bahwa kita tidak ikut menambah mazlumiyahnya.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa Āli Muḥammad.

Dan semoga Allah menjadikan kita di antara mereka yang ketika mendengar Rasulullah, tidak berpaling.

Ketika mengetahui perintahnya, tidak mendahului.

Ketika mengenal keluarganya, tidak menyakiti.

Dan ketika kebenaran menuntut keberanian, tidak memilih kenyamanan dengan mengorbankan kebenaran.

Sebab mungkin itulah bentuk cinta yang paling jujur kepada Nabi yang Mazlum.

Nabi yg epilog

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HGqtwGfyk/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us