Kajian ini membahas tentang Al-Ihsan, yang secara etimologis berasal dari kata Hasan, yang berarti kebaikan.
Dalam bahasa Arab, terdapat berbagai istilah untuk “baik”, namun masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda:
- Khairun:
Kebaikan yang memberikan nilai nikmat yang kita harapkan. - Birrun:
Kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus sebagai sebuah kewajiban, seperti birrul walidaini (berbakti kepada orang tua). - Husnun/Ihsan:
Menggambarkan sebuah kesempurnaan dan keindahan.
Sesuatu disebut husun jika ia menampilkan nilai kesempurnaan, baik itu wajah yang indah dipandang maupun akhlak yang mulia (akhlakul hasanah).
Hakikat Al-Ihsan dalam Tasawuf
Dalam dunia tasawuf, Ihsan adalah sebuah manzilah atau tingkatan penyaksian (syahadah) terhadap hakikat ilahiah.
Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa
Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau menyaksikan-Nya, dan jika engkau tidak menyaksikan-Nya, maka sesungguhnya Dia menyaksikanmu,
Tiga Tingkatan (Manzilah) Al-Ihsan
Dr. Kholid Al Walid menjelaskan tiga level spiritual dalam Ihsan:
- Ihsanul Qashd (Kebaikan dalam Tujuan):
Memperbaiki niat dan tujuan hidup hanya kepada Allah SWT,. Proses ini melibatkan pembersihan batin dari sifat riya’ (ingin dipuji) dan nifaq (kemunafikan), serta menyadari bahwa seluruh perjalanan ruhani kita adalah upaya menuju kesempurnaan mutlak (Allah). - Ihsanul Hal (Kebaikan dalam Keadaan Batin):
Mengindahkan keadaan batin dengan melepaskan keterikatan pada apa pun selain Allah.
Pada tahap ini, seorang Muksin (orang yang berbuat Ihsan) berusaha menyembunyikan rahasia batinnya dan pemberian-pemberian ruhani dari pandangan manusia agar tidak terjatuh pada kesombongan atau mencari kedudukan (tholabul jah). - Ihsanul Waqt (Kebaikan dalam Waktu):
Ini adalah tingkatan tertinggi, di mana seseorang selalu berada dalam kebersamaan dengan Allah di setiap waktu.
Hatinya tenggelam dalam penyaksian (mushahadah) terhadap cahaya Allah sehingga segala sesuatu selain Dia tidak lagi memiliki nilai di matanya.
Perjalanan Kembali ke Masyarakat
Seorang yang telah mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil) tidak menetap dalam “penyendirian” dengan Tuhan, melainkan kembali ke alam dunia untuk menebarkan cahaya Ilahi kepada manusia lainnya.
Kehadiran mereka bagaikan air yang membersihkan kotoran di alam semesta ini.
Menghilangkan Hijab (Penghalang)
Untuk mencapai tingkatan ini, manusia perlu menghilangkan hijab-hijab diri, baik hijab material (duniawi) maupun hijab cahaya (seperti ilmu atau ibadah yang justru membuat orang merasa bangga diri).
Hal ini dilakukan melalui proses musyarathah (menetapkan syarat diri), muraqabah (pengawasan diri), serta melalui tahap takhalli (membersihkan diri dari maksiat), tahalli (menghiasi diri dengan zikir), dan akhirnya tajalli (penampakan cahaya Tuhan dalam batin).

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #35: AL-IHSAN Kebaikan
LIVE STREAMING Senin 22 Agustus 2022 Jam 20.00 WIB sampai selesai
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
#MisykatTV #DiskusiDigital

