Perlakukan Hari Ini Layaknya Hidupmu Telah Habis | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pentingnya Mengenal Dunia untuk Kebahagiaan Akhirat
Kita harus mengenal dunia karena kita hidup di dunia. Jika kita tidak memahami ilmu dunia, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan baik dan tidak akan bisa bahagia.
Kebahagiaan di dunia memiliki dampak langsung terhadap kebahagiaan di akhirat. Jika jasad dan jiwa kita tidak bahagia selama di dunia, maka di akhirat pun kita tidak akan bahagia.
Oleh karena itu, kunci kebahagiaanโselain mengenal diri sendiri dan mengenal Allahโadalah mengenal dunia.
Target utama dari mengenal dunia ada dua, yaitu memelihara jiwa dan merawat jasad.
Dunia harus dijadikan jalan bagi kita untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, sehingga kondisi jiwa dan jasad kita harus benar-benar beres.
Merawat Jasad Sebagai Amanah dari Allah
Jasad kita tidak boleh disiksa. Ketika tiba waktunya makan, kita harus makan; begitu pula dengan minum.
Bahkan jika tidak memiliki uang, lebih baik meminjam daripada membiarkan diri kelaparan, karena menjaga kesehatan jasad adalah amanah dari Allah.
Jasad yang sehat akan membuat ibadah dan proses menuntut ilmu menjadi terasa enak dan mudah dipahami.
Sebaliknya, jika kita tidak memelihara jasadโseperti jarang tidur, jarang makan, dan jarang berolahragaโmaka pembelajaran dan aktivitas lainnya tidak akan berjalan maksimal.
Jika memiliki kelonggaran dana, tidak ada salahnya sesekali memanjakan diri seperti pergi pijat atau spa.
Ketika kita mampu menguasai dunia dengan baik, maka urusan akhirat pun akan beres, karena pada hakikatnya urusan akhirat itu lebih mudah.
Allah sendiri sebenarnya telah membekali manusia dengan insting otomatis untuk mengenal dunia.
Kita tidak perlu berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan jasad; saat lapar kita otomatis mencari makanan, dan saat haus kita otomatis mencari air.
Begitu pula dengan hasrat biologis yang secara otomatis akan muncul, meskipun dalam agama hal tersebut diatur seperti anjuran untuk menikah terlebih dahulu, atau berpuasa bagi yang belum mampu.
Pandangan Imam Al-Ghazali tentang Musik: Halal vs Haram
Imam Al-Ghazali membahas secara khusus mengenai kenikmatan duniawi, terutama terkait musik.
Pembahasan ini muncul karena pada masa itu terdapat kritik terhadap kaum Sufi yang kerap menggunakan musik, puisi, dan nyanyian dalam praktik spiritual mereka.
Menurut Al-Ghazali, status hukum musikโapakah halal atau haramโsangat tergantung pada apa yang dibangkitkan oleh musik tersebut di dalam jiwa pendengarnya.
Jiwa manusia memiliki berbagai unsur, seperti unsur setan, malaikat, hingga hasrat kebinatangan.
Jika sebuah musik membangkitkan hasrat kebinatangan atau hal-hal negatif lainnya, maka musik tersebut menjadi haram.
Namun, jika musik tersebut membangkitkan sesuatu yang membuat pendengarnya merasa lebih dekat kepada Allah, maka hukumnya adalah halal.
Dalam hal ini, kegiatan seperti selawatan yang diiringi musik atau berdoa yang diiringi puisi diperbolehkan selama bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sebaliknya, musik yang membangkitkan hasrat kebinatangan atau kesetanan harus dihindari.
Musik Sebagai Hiburan dan Pembelaan Terhadap Kaum Sufi
Bagaimana dengan musik yang bersifat netral atau biasa saja, yang tidak membangkitkan hasrat apa pun melainkan hanya sebagai sarana hiburan (seperti musik klasik yang terkadang justru membuat mengantuk)?
Al-Ghazali menyatakan bahwa musik yang murni digunakan untuk hiburan hukumnya diperbolehkan agar kita bisa merasa bahagia.
Al-Ghazali juga membela kaum Sufi yang menggunakan tarian, musik, dan lagu dalam aktivitas mereka.
Menurutnya, hal tersebut adalah sesuatu yang alami. Bahkan hewan seperti unta pun dapat dipengaruhi oleh musik, dan dalam peperangan pun genderang perang sering digunakan untuk membakar semangat pasukan.
Hal ini membuktikan bahwa jiwa manusia memang sangat bisa dipengaruhi oleh musik dan tarian.
Kuncinya sekali lagi bukan terletak pada musik itu sendiri, melainkan pada apa yang bangkit di dalam jiwa setelah mendengarkannya.
Batasan dalam Syair dan Pengalaman Ekstasi (Sath)
Meskipun musik diperbolehkan, Al-Ghazali memberikan peringatan keras terkait penggunaan syair.
Jangan sampai syair lagu mengandung kalimat-kalimat yang menyesatkan.
Contohnya adalah kalimat puitis dalam tradisi Sufi yang menyebutkan tentang “berubah dari kecenderungan asal”.
Kalimat seperti ini tidak boleh ditujukan kepada Allah karena Allah bersifat mutlak dan tidak berubah.
Selain itu, kaum Sufi sering kali mengalami kondisi ekstasi atau pengalaman puncak kenikmatan spiritual yang disebut Sath (Satho).
Pengalaman spiritual yang luar biasa ini sebaiknya dinikmati secara pribadi oleh sang Sufi saja dan jangan dipertunjukkan sebagai tontonan untuk masyarakat umum.
Jika pengalaman puncak ini dipertunjukkan kepada publik, hal tersebut dikhawatirkan dapat disalahpahami oleh orang awam sehingga berpotensi menyesatkan mereka.
Kesimpulannya, mendengarkan musik, selawatan, tari-tarian, lagu dangdut, hingga musik rock diperbolehkan, baik untuk diambil unsur hiburannya saja maupun sebagai sarana spiritual.
Hal yang tidak diperbolehkan adalah lagu-lagu yang melanggar batasan kesopanan (diilustrasikan dengan candaan lagu yang “tidak memakai rok” atau tidak sopan) karena hal tersebut dapat membangkitkan hasrat-hasrat negatif yang berbahaya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







