Jangan Jadi Pengecut, Putus Asa Terhadap Situasi Saat Ini | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pandangan Albert Camus tentang Harapan, Absurditas, dan Pemberontakan
Kritik terhadap Harapan dan Jebakan Masa Depan
Menurut pandangan Albert Camus, kita sebenarnya tidak usah terlalu banyak berharap.
Mengapa? Karena penolakan terhadap harapan berarti penolakan untuk memercayai apa pun yang melebihi apa yang nyata-nyata ada di dalam kehidupan saat ini. Harapan bukanlah lawan dari keputusasaan.
Orang yang terus memelihara harapan cenderung hidup di masa depan dan mengabaikan masa kini. Mereka yang terlalu banyak berharap biasanya tidak melakukan apa-apa hari ini karena selalu menanti hari esok.
Sebagai contoh, kita bisa melihat fenomena gerakan mesianistik seperti gerakan Imam Mahdi milenarianisme atau kepercayaan akan datangnya Ratu Adil.
Ketika masyarakat sudah terpojok, tertindas, dan tidak memiliki solusi, mereka cenderung menyerah dan memunculkan ideologi harapan: “Tunggu saja esok hari, ketika Imam Mahdi atau Ratu Adil datang, semua konflik di Indonesia akan selesai.”
Pola pikir seperti ini sebenarnya adalah logika orang yang sudah menyerah dan terpojok.
Harapan sebagai Pelarian Pengecut
Camus menasihati kita agar tidak mudah ditipu oleh harapan-harapan kosong dan mulailah hidup untuk hari ini saja.
Nikmatilah hari ini. Bagi seorang yang berani menghadapi absurditas hidup, harapan merupakan metode pengecut untuk lari dari kenyataan karena tidak berani menghadapi situasi masa kini.
Hal ini mirip ketika seseorang kalah argumen atau tersudut oleh temannya, lalu menghibur diri dengan kepasrahan pasif seperti berkata, “Tunggu saja, Gusti Allah tidak tidur,” atau “Tenang saja, setiap tindakan pasti ada balasannya.”
Sikap pasif ini adalah tanda bahwa Anda sebenarnya tidak mampu melawan situasi sekarang.
Camus menantang kita untuk tidak bersikap pasif; lawan dan tandingi saja hari ini! Jika hari ini saja kita kalah, apa yang bisa kita harapkan dari hari esok?
Perjuangan harus dimulai hari ini, jangan menunggu besok. Tanpa adanya harapan yang semu, manusia justru akan termotivasi untuk hidup sepenuhnya di setiap momen unik yang dihadapi saat ini.
Menyesuaikan Harapan dengan Situasi Hidup
Filsafat itu unik karena melatih kita untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Argumen tentang “wajibnya” memiliki harapan maupun argumen tentang “haramnya” memiliki harapan sebenarnya sama-sama memiliki landasan yang kuat.
Oleh karena itu, kita harus mencocokkannya dengan situasi hidup masing-masing agar membawa dampak yang kondusif dan melahirkan banyak kebaikan.
Bagi orang yang hidupnya dipenuhi kegagalan hingga merasa sangat sumpek, harapan mungkin sangat dibutuhkan agar ia tidak mengambil pilihan ekstrem seperti bunuh diri.
Namun, bagi mereka yang sedang mengawali sebuah perjuangan, sebaiknya langsung bertanding hari ini tanpa perlu ditipu oleh harapan-harapan kosong.
Terlalu banyak berharap justru membuat seseorang enggan turun ke gelanggang.
Camus pernah menulis sebuah kutipan terkenal: “He who despairs of the human condition is a coward, but he who has hope for it is a fool.”
Artinya, orang yang putus asa menghadapi situasi manusia hari ini adalah pengecut, sedangkan orang yang hanya menggantungkan diri pada harapan adalah orang yang bodoh.
Absurditas Hidup dan Novel “The Stranger”
Untuk memahami konsep ini lebih jauh, kita bisa melihat novel karya Camus yang berjudul The Stranger (Orang Asing).
Tokoh utama dalam karya-karya Camus sering kali digambarkan sebagai sosok asing (stranger atau outsider).
Novel ini menggambarkan absurditas hidup secara luar biasa. Bagi kita yang terbiasa hidup tertib dengan aturan moral dan kepedulian sosial, isi novel ini mungkin akan terasa tidak karuan.
Misalnya, di bagian awal novel diceritakan bahwa ibu si tokoh utama meninggal dunia, namun respons tokoh tersebut sangat dingin: “Ibuku meninggal, tapi aku tidak tahu pasti meninggalnya jam berapa, aku juga lupa.”
Ia digambarkan sangat cuek, bahkan ketika ia membunuh orang, ia melakukannya tanpa ekspresi, dan saat dijebloskan ke dalam penjara pun ia tetap menikmati penjaranya begitu saja.
Absurditas di Dunia Nyata
Dalam kehidupan nyata saat ini, kita pun sering melihat absurditas yang serupa.
Penjara yang seharusnya berfungsi sebagai hukuman untuk membuat orang jera, justru terasa berbeda bagi kelompok yang berbeda.
Bagi orang yang sangat miskin, penjara bisa jadi terasa lumayan karena mereka bisa mendapatkan makan gratis.
Sebaliknya, bagi koruptor tertentu, penjaranya bisa sangat mewah lengkap dengan fasilitas kulkas dan televisi. Ini tentu sangat absurd; bagaimana mungkin hukuman bisa terasa menyenangkan dan membuat jera?
Di sisi lain, banyak dari kita yang mungkin hidup di kamar kos yang kondisinya sangat terbatas dibanding penjara mewah tersebut, namun kita tidak merasa terpenjara.
Meskipun situasinya absurd, Camus mengingatkan agar kita jangan pernah berputus asa.
Orang yang putus asa menghadapi situasi adalah pengecut, sedangkan orang yang hanya berharap esok hari akan lebih baik tanpa bertindak adalah orang bodoh.
Kita harus menakitkan dan membereskan situasi tersebut sekarang juga.
Jika hari ini ada hal yang tidak beres, ayo bereskan sekarang, jangan menunggu hari esok.
Jika kita hanya berharap esok hari akan lebih baik, rentang waktu esok itu sangat panjang dan tidak pasti.
Misalnya, kita berharap Indonesia kelak menjadi negara yang adil dan makmur, maka jangan hanya menunggu keajaiban esok hari; mari berjuang sejak sekarang untuk mewujudkannya.
Pemberontakan Eksistensial: “Aku Memberontak, Maka Aku Ada”
Teori dan konsep ini harus digunakan pada ruang dan waktu yang tepat agar tidak keliru. Dalam konteks ini, Camus mengajukan konsep pemberontakan yang menarik untuk menyindir diktum terkenal Renรฉ Descartes (“Aku berpikir, maka aku ada”). Camus mencetuskan: “I rebel, therefore I exist” (Aku memberontak, maka aku ada).
Jika Anda hanya menurut saja pada keadaan tanpa melakukan apa-apa, sebenarnya Anda tidak benar-benar eksis.
Ada atau sekadar hidup itu berbeda dengan benar-benar eksis sebagai diri sendiri.
Untuk bisa eksis sebagai diri sendiri, Anda harus berani memberontak terhadap situasi absurd dalam hidup Anda dan memberi makna atas hidup tersebut berdasarkan versi Anda sendiri.
Berontaklah terhadap belenggu-belenggu yang membuat Anda hidup secara tidak sadarโbaik itu kungkungan kelompok, aliran, ideologi, maupun cengkraman dogma kebenaran yang tidak relevan dengan hidup Anda.
Setelah memberontak, pilihlah apa yang benar-benar relevan dan berikan makna positif bagi hidup Anda.
Sebab, jika Anda hanya berpikir dengan mengikuti pemikiran orang banyak (kerumunan), Anda sebenarnya belum benar-benar ada.
Dirimu baru akan benar-benar muncul dan eksis ketika Anda berdiri tegak sebagai diri Anda sendiri yang autentik. Itulah inti pemikiran dari Albert Camus.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







