Hidup Di jaman Edan Jangan Sampai Terjerumus Dalam Jaman Edan
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pentingnya Keseimbangan Syariat dan Hakikat
Pembahasan dimulai dengan mengutip “Sukma Lelono” karya Ronggowarsito. Dalam ajaran ini, ditekankan bahwa syariat tidak boleh ditinggalkan, meskipun seseorang merasa sudah mencapai tingkat ilmu batin atau hakikat yang tinggi.
Syariat dan hakikat harus berjalan beriringan; syariat tanpa hakikat akan menjadi ibadah formalitas belakaโseperti orang berolahraga tanpa jiwaโsementara hakikat tanpa syariat diibaratkan seperti merasa jatuh cinta tetapi tidak melakukan tindakan nyata untuk membuktikannya.
Sebenarnya terdapat empat tahapan yang harus dipahami secara utuh:
- Syariat:
Dimensi fisik atau teori dasar. - Tarekat:
Metode atau jalan nyata dalam menjalankan teori tersebut. - Hakikat:
Penemuan atau pencerahan yang didapatkan dari perjalanan yang benar. - Makrifat:
Kesimpulan atau anugerah spiritual (ahwal) saat seseorang telah sampai pada tujuannya.
Analogi yang digunakan adalah: syariat sebagai laut, tarekat sebagai kapalnya, hakikat sebagai maksud perjalanannya, dan makrifat sebagai pelabuhan tempat kita sampai.
Memahami “Zaman Edan” (Serat Kalatidha)
Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha menggambarkan sebuah kondisi yang disebut “Kalatidha”, yaitu zaman keraguan di mana batas antara benar dan salah menjadi tidak jelas.
Berbeda dengan “Kala Bendu” yang ditandai dengan banyak bencana alam, Kalatidha lebih menyoroti kerusakan sistem sosial.
Pada zaman ini, meskipun pemimpin dan para pejabatnya adalah orang-orang yang sangat berkualitas, berpendidikan tinggi, dan pintar, keberadaan mereka terkadang tidak menjadi solusi.
Sebaliknya, kepintaran tersebut seringkali justru menjadi sumber masalah karena setiap lapisan masyarakatโmulai dari tingkat menteri hingga mahasiswaโmemiliki gaya masing-masing dalam meluapkan angkara murka atau kepentingan pribadinya,.
Sikap Menghadapi Zaman Edan
Bait paling terkenal dari Ronggowarsito menggambarkan dilema luar biasa:
- Jika ikut menjadi “edan” (gila/rusak), hati nurani tidak akan sanggup menahannya.
- Jika tidak ikut “edan”, seseorang akan terpinggirkan, tidak mendapat bagian, bahkan bisa menderita kelaparan.
Namun, kesimpulan utamanya adalah: seuntung-untungnya orang yang ikut dalam arus kegilaan tersebut, masih jauh lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada (eling lan waspada),.
Langkah Praktis: Ikhtiar di Tengah Kerusakan
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak boleh pasif, namun juga tidak perlu melawan secara frontal jika tidak memiliki kekuatan yang cukup. Nasihatnya adalah:
- Jalankan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dengan sebaik mungkin.
- Jangan melakukan tindakan aneh-aneh yang justru menambah kerumitan persoalan.
- Tetap berikhtiar mencari jalan yang baik dan halal, meskipun berada dalam sistem yang mungkin sedang rusak.
Kuncinya adalah tetap menjalankan peran kita (misalnya mahasiswa belajar dengan baik, dosen mengajar dengan benar) tanpa harus ikut tenggelam dalam arus kegilaan zaman, sehingga kita tetap bisa mendapatkan berkah dari Allah,.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







