Hidup Itu Paradoks, Penuh Dengan Kelucuan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Klasifikasi Gagasan: Serius vs. Humor
Dalam pemikiran filsafat Barat modern, gagasan manusia dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu gagasan serius dan gagasan humor.
Suatu gagasan dianggap serius jika terdapat kecocokan antara pikiran dan kenyataan.
Sebaliknya, humor muncul ketika terjadi keganjilan atau ketidaknyambungan antara kenyataan dan pikiran.
Perbedaan Humor dan Ironi
Lebih lanjut, kategori humor ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu humor itu sendiri dan ironi:
- Humor:
Merupakan keseriusan yang tersembunyi di bawah lelucon. Secara lahiriah sesuatu tampak lucu, namun di baliknya terdapat makna serius yang ingin disampaikan.
Contohnya, plesetan kalimat “Kupinang kau dengan naudzubillah” yang tampak lucu namun mungkin menyimpan makna serius tentang keterpaksaan dalam menikah. - Ironi:
Merupakan kelucuan yang tersembunyi di bawah keseriusan.
Ini berkaitan dengan fakta nyata yang kita jalani secara serius, padahal kenyataannya hal tersebut lucu atau paradoks.
Paradoks dan Absurditas Hidup
Ironi sangat erat kaitannya dengan teori absurditas dan paradoks kehidupan.
Hidup seringkali bersifat paradoks, di mana kenyataan dan keseriusan berjalan beriringan dengan kelucuan.
Sebagai contoh, manusia seringkali bekerja sangat keras dan serius hanya agar bisa beristirahat atau santai, padahal jika tujuannya hanya ingin santai, ia bisa melakukannya tanpa harus bekerja keras terlebih dahulu.
Contoh lainnya adalah ketika seseorang bermain gim dengan sangat serius hingga menangis saat kalah, atau orang-orang yang rela mengantre sejak subuh selama 24 jam demi menonton film Avengers; hal-hal ini dilakukan secara serius namun menyimpan kelucuan di dalamnya.
Pandangan Jean-Paul Sartre: Humor sebagai Alat Mengobyekkan
Menurut Jean-Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis, manusia memiliki kecenderungan untuk eksis sendiri dan tidak ingin diatur atau dipengaruhi orang lain.
Sartre memandang bahwa kehadiran orang lain dapat mengancam kebebasan individu, atau yang dikenal dengan istilah “Hell is other people” (orang lain adalah neraka).
Dalam konteks ini, humor adalah tindakan yang digunakan untuk “mengobyekkan” orang lain agar mereka berada di bawah kendali kita.
Ini merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) agar kita tidak balik ditaklukkan atau diobyekkan oleh kepentingan orang lain.
Saat dua orang saling melempar humor atau ejekan, sebenarnya sedang terjadi proses saling mengobyekkan satu sama lain.
Pandangan Henri Bergson: Manusia sebagai Mesin (Human Automata)
Henri Bergson memiliki teori yang berbeda, di mana kelucuan muncul ketika manusia melenceng dari fitrah vitalitasnya.
Manusia pada hakikatnya memiliki kemerdekaan, kebebasan, dan kedalaman, namun seringkali hidup secara mekanis seperti robot atau mesin.
Sumber kelucuan atau bahan dagelan muncul ketika:
- Manusia bertingkah laku seperti binatang.
- Manusia bertingkah laku seperti tumbuhan (hanya makan, minum, dan tiba-tiba besar tanpa vitalitas).
- Manusia bertingkah laku seperti mesin atau “human automata”.
Di dunia modern, kehidupan manusia menjadi sangat mekanis karena diatur oleh sistem, seperti absensi mesin di sekolah atau kampus.
Kehilangan sisi vitalitas dan terjebak dalam rutinitas yang kaku inilah yang menurut Bergson menjadi hakikat dari sumber kelucuan.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







