Jangan Mau Dipermainkan Oleh Permainan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Permainan dan Kesungguhan
Dalam menjalani hidup, prinsip utamanya adalah: “Bermainlah dalam permainan, tetapi jangan main-main.”
Hidup ini memang sebuah permainan yang mau tidak mau harus kita jalani, maka bermainlah dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai permainan itu “dipersungguh”.
Hal ini mungkin terdengar kontradiktif, namun kesungguhan sebuah permainan justru terletak pada sifatnya yang tidak sungguh-sungguh.
Begitu sebuah permainan dianggap terlalu serius hingga membebani batin (membuat “baper”), maka ia kehilangan hakikatnya sebagai permainan.
Contohnya dalam sepak bola atau perlombaan; kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menang, namun jika gagal, kita tidak perlu terpuruk karena itu hanyalah sebuah permainan.
Menjadi Pengendali dalam Permainan
Kita harus menjadi pengendali dalam permainan hidup, bukan malah dipermainkan oleh permainan tersebut.
Seseorang yang mencoba “mempermainkan” permainan justru akan berakhir menjadi “mainan” dari permainan itu sendiri.
Penting bagi kita untuk bermain dengan tujuan meraih kebahagiaan, namun jangan pernah mempermainkan kebahagiaan, karena hal itu justru menunjukkan bahwa seseorang tersebut belum benar-benar bahagia.
Perspektif Ketuhanan: Filosofi “Petak Umpet”
Dalam ranah spiritual, hubungan antara manusia dan Tuhan dapat dianalogikan seperti permainan petak umpet.
Tuhan seolah-olah “bersembunyi” bukan karena Dia hilang, melainkan agar kita tergerak untuk mencari dan mengenal-Nya.
Seperti anak kecil yang bermain petak umpet, keberadaan-Nya tetap nyata meski kita sedang dalam proses mencari.
Konsep ini mengajak kita untuk memandang pencarian spiritual dengan semangat bermain yang penuh kegembiraan, bukan beban yang memberatkan.
Dunia sebagai Panggung Sandiwara dan Senda Gurau
Pandangan bahwa dunia adalah permainan juga ditegaskan dalam Al-Qur’an, yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau (Lโaibun wa Lahwun).
Manusia sering kali terjebak dalam atribut duniawi, seperti saling membanggakan harta dan keturunan.
Kehidupan ini diibaratkan seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hijau yang membuat para petani (kuffar) takjub.
Namun, tanaman itu kemudian layu, berubah menguning, dan akhirnya hancur. Inilah siklus dunia: tumbuh, layu, lalu hancur.
Pesan Penutup: Jangan Terjebak “Baper” Duniawi
Karena dunia ini adalah drama dan panggung sandiwara, kita diingatkan untuk tidak terlalu terbawa perasaan (baper) baik saat mengalami kesenangan maupun kesedihan.
Sukses atau gagal adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan; jika kalah hari ini, kita bisa bermain lagi besok.
Fokus utama manusia seharusnya adalah kehidupan akhirat yang lebih penting dan kekal.
Jika kita menggunakan akal sehat, kita akan menyadari bahwa dunia ini tidak layak untuk dianggap terlalu serius karena sifatnya yang bisa menipu.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







