Semakin Bebas Dirimu Semakin Kesepian Dirimu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kebutuhan Eksistensial Manusia: Transendensi, Akar, dan Orientasi
Manusia memiliki apa yang disebut sebagai kebutuhan transendensi (need for transcendence), yaitu keinginan untuk melampaui level pasif atau level kodrat kebinatangan.
Ketika intelegensi seseorang aktif, ia akan meninggalkan kondisi “kebinatangan”โseperti sekadar mengikuti insting mencintai, membenci, atau menaklukkanโuntuk menjadi manusia seutuhnya.
Sebagai contoh, hewan hanya mengikuti kodrat; jika ingin kawin, mereka akan melakukannya tanpa pertimbangan.
Namun, manusia mengatur hal tersebut: ada aturan, peresmian, dan norma yang disepakati agar tidak sembarangan.
Kemampuan untuk mengatur, menata, dan merumuskan hidup inilah yang disebut transendensi.
Inilah alasan mengapa peradaban manusia berkembang sementara hewan, seperti monyet atau sapi, tetap sama sejak zaman prasejarah hingga sekarang.
Manusia tidak hanya menerima keadaan, tetapi aktif menggarap hidupnya, seperti menciptakan teknologi atau api untuk melindungi diri, berbeda dengan hewan yang hanya mengikuti mekanisme kodrat.
Selain transendensi, manusia juga membutuhkan akar (need for rootedness) agar merasa eksis. Ini adalah kebutuhan untuk memiliki sandaran atau afiliasi.
Saat kecil, seorang anak menyandarkan diri pada ibunya; namun seiring bertambahnya usia, “akar” ini bisa berpindah ke guru, idola, artis, atau ustadz.
Manusia membutuhkan “inang” atau sandaran untuk menunjukkan bahwa dirinya ada.
Selanjutnya, manusia memerlukan kerangka orientasi (need for frame of orientation).
Ini adalah kerangka berpikir atau cara pandang untuk menyikapi hidup. Setiap orang memiliki gaya yang berbedaโada yang eksistensialis, pragmatis, atau idealisโdan perbedaan ini wajar karena merupakan kebutuhan untuk merespons realitas.
Dilema Kebebasan dan Kesepian
Kebutuhan-kebutuhan eksistensial iniโmulai dari identitas, relasi, hingga transendensiโdilakukan agar keberadaan manusia diakui.
Namun, muncul sebuah masalah mendasar: semakin besar kebebasan yang dicapai manusia, semakin besar pula rasa kesepiannya.
Kebebasan sering kali berarti melepaskan diri dari keterikatan atau aturan orang lain.
Semakin Anda mengejar kebebasan mutlak di mana tidak ada yang mengatur atau menghalangi Anda, Anda akan semakin terlepas dari koneksi dengan sesama.
Seperti kutipan Jean-Paul Sartre, “Hell is other people” (Neraka adalah orang lain), karena kehadiran orang lain sering kali membatasi kebebasan kitaโmisalnya, kita tidak bisa duduk selonjoran seenaknya karena akan mengganggu orang di depan kita.
Dua Pilihan Menghadapi Keterasingan
Karena manusia pada dasarnya membenci kesepian dan rasa terasing, ada dua alternatif jalan yang biasanya diambil untuk tetap terhubung dengan orang lain:
- Cinta dan Kerja Sama:
Ini adalah jalan yang berat namun ideal. Manusia bersatu dan bekerja sama dengan orang lain tanpa kehilangan kebebasannya.
Hubungan ini didasari oleh kesepakatan bersama demi kenyamanan kolektif tanpa adanya dominasi yang mengekang satu sama lain. - Membunuh Kebebasan (Konformitas):
Jalan ini lebih banyak diambil orang karena takut kesepian. Seseorang memilih untuk patuh sepenuhnya pada situasi sosial, masyarakat, atau penguasa.
Ia kehilangan kebebasan pribadinya, namun sebagai imbalannya, ia memiliki banyak teman dan relasi yang luas.
Pada akhirnya, setiap individu harus memilih: apakah ingin mempertahankan kebebasan dengan risiko kesepian, atau mengorbankan kebebasan demi kebersamaan, karena rasa sepi dan terasing adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bagi manusia.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







