Penuhi Unsur Binatang Dalam Dirimu, Maka Dirimu Akan Naik Kelas | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Dilema Eksistensial Manusia
Menurut Erich Fromm, karakter manusia itu bersifat dualistik atau dikotomi, yang dikenal sebagai dilema eksistensial.
Ada empat dilema utama dalam hidup kita:
- Binatang vs. Manusia:
Di dalam diri kita terdapat unsur kebinatangan yang wajib dipenuhi. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, kita tidak akan bisa “naik kelas” untuk mengembangkan potensi kemanusiaan kita.
Binatang sering dianggap sebagai antitesis manusia, namun secara eksistensial, keduanya ada dalam diri kita. - Hidup vs. Mati:
Kita berjuang dan beraktivitas dengan kesadaran penuh bahwa kita hidup, namun di saat yang sama, kita dipaksa sadar bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu.
Agama memberikan rumus untuk menyeimbangkan ini: “Bekerjalah seolah-olah engkau hidup selamanya, dan beribadahlah seolah-olah engkau akan mati besok”. - Kesempurnaan vs. Ketidaksempurnaan:
Manusia memiliki potensi untuk mencapai kualitas yang luar biasa (sempurna), namun kenyataannya tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.
Dilemanya adalah apakah kita harus terus mengejar kesempurnaan atau menerima ketidaksempurnaan diri dengan rela. - Kesendirian (Kebebasan) vs. Kebersamaan:
Ini adalah dilema antara menjadi pribadi yang unik atau membaur dengan masyarakat. Jika kita memilih menjadi unik dan menjadi diri sendiri, resikonya adalah kesepian.
Sebaliknya, jika kita terlalu membaur agar tidak kesepian, kita berisiko kehilangan keunikan diri kita.
Setiap orang harus menemukan “ramuan” atau persentase yang tepat untuk menyeimbangkan dilema-dilema ini dalam hidupnya, tergantung pada tipe kepribadian dan kebutuhannya masing-masing.
Kebutuhan Eksistensial Manusia
Agar manusia benar-benar bisa “eksis”, ada beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi:
1. Kebutuhan akan Identitas (Need for Identity)
Identitas adalah kemampuan seseorang untuk menjawab pertanyaan “Siapa kamu?” secara mandiri. Identitas sejati bukan sekadar nama atau afiliasi sosial (seperti: “Saya mahasiswa kampus A” atau “Saya anak si B”).
Mengandalkan afiliasi menunjukkan bahwa seseorang masih bersandar pada orang lain dan belum memiliki kesadaran kritis akan dirinya sendiri.
Mengenali identitas diri sangat penting agar kita bisa menampilkan diri secara tepat di masyarakat dan tidak salah mengidentifikasi peran kita.
2. Kebutuhan akan Relasi (Need for Relatedness)
Manusia memiliki akal, nurani, dan imajinasi yang membuatnya berjarak dengan alam dan binatang.
Karena keistimewaan intelegensinya ini, manusia merasa “sendirian” di tengah alam semesta. Oleh karena itu, manusia butuh terhubung atau berelasi dengan sesamanya.
Sepintar atau sejago apa pun seseorang, kemampuannya tidak akan bermanfaat jika tidak ada orang lain.
Kita tidak bisa kehilangan relasi; bahkan saat seseorang ingin menyendiri, ia tetap membutuhkan keberadaan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa relasi, manusia tidak akan bisa eksis sepenuhnya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







