Buat Dirimu Kuat, Kalau Tidak Dirimu Akan Gelisah Terus | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Gangguan Kepribadian Parah
Menurut Erich Fromm, terdapat beberapa gangguan kepribadian yang cukup berat.
1. Nekrofilia,
Yaitu kecenderungan seseorang yang tertarik pada kematian dan hal-hal yang bersifat merusak (destruktif).
Orang dengan gangguan ini cenderung membenci kemanusiaan, menyukai rasisme, pertumpahan darah, penyiksaan, hingga teror.
Mereka sering kali tetap melakukan tindakan yang menghancurkan meskipun secara rasional tahu hal itu salah.
2. Narsisme berat.
Berbeda dengan narsisme normal yang sekadar mengagumi diri sendiri, narsisme berat membuat seseorang kehilangan objektivitasnya. Orang tersebut akan menilai miliknya sendiriโtermasuk kelompoknyaโsecara berlebihan, sementara merendahkan milik orang lain meskipun hal tersebut memiliki kualitas yang baik.
Hal ini sering terlihat pada sikap fanatik yang tidak lagi mempedulikan kebenaran nyata demi membela kelompoknya sendiri.
3. Simbiosis Inses,
Yaitu ketergantungan yang sangat ekstrem kepada sosok lain (seperti ibu atau figur penggantinya) hingga seseorang kehilangan jati dirinya.
Ketergantungan yang berlebihan pada idola sampai melakukan segala hal demi menyerupai mereka adalah salah satu bentuk ketidaksehatan jiwa ini.
Ciri-Ciri Kepribadian yang Sehat
Sebaliknya, kepribadian yang sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Mampu menjadi makhluk sosial, tanpa kehilangan jati diri saat berada di tengah masyarakat.
- Mampu mencintai dan dicintai. Keduanya penting, karena mencintai membutuhkan kemampuan untuk memberi, dan dicintai membutuhkan kerendahan hati untuk menerima.
- Dapat dipercaya dan mampu mempercayai orang lain.
- Memiliki toleransi dan solidaritas tanpa syarat. Jika masih ada syarat dalam bertoleransi, maka kepribadian tersebut sebenarnya belum sepenuhnya sehat.
- Mampu menjaga jarak dengan masyarakat, atau menggunakan prinsip “ngeli nanging ora keli” (mengalir namun tidak hanyut). Artinya, terlibat di masyarakat namun tidak tenggelam dalam arus yang merusak diri.
Masyarakat Ideal: Sosialisme Komunitarian Humanistik
Erich Fromm mengidealkan sebuah masyarakat di mana manusia saling berhubungan dengan penuh cinta, persaudaraan, dan solidaritas.
Dalam masyarakat ini, setiap individu harus mengalami dirinya sebagai subjek dari kemampuannya sendiri, bukan sekadar mengikuti arus (konformitas).
Manusia harus menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar “barang” yang bisa diseret atau “binatang” yang hanya hidup berdasarkan insting.
Setiap orang didorong untuk bekerja secara produktif dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang penuh kasih.
Orientasi Hidup: Having vs Being
Manusia memiliki dua dasar orientasi hidup:
- Having (Memiliki):
Fokus pada mencapai dan menguasai segala sesuatu, bahkan ingin memiliki orang lain. Bahayanya, jika seseorang merasa eksistensinya diukur dari apa yang ia miliki (harta, pasangan, ijazah), maka saat hal-hal itu hilang, ia akan merasa kehilangan dirinya sendiri. - Being (Menjadi):
Fokus pada mengalami, berbagi, dan terlibat dengan orang lain. Orientasi ini lebih mengutamakan bagaimana seseorang tumbuh dan menjadi pribadi yang berkualitas.
Menjadi Kuat dalam Ketidakpastian
Tugas penting manusia bukanlah untuk selalu merasa aman dan nyaman, melainkan mampu menanggung ketidakamanan dan ketidaknyamanan.
Hidup ini penuh masalah yang tidak semuanya memiliki solusi instan.
Oleh karena itu, langkah pertama menghadapi masalah adalah dengan memperkuat diri sendiri. Jika diri kita tidak kuat, kita akan terus-menerus merasa gelisah dan putus asa saat menghadapi situasi yang sulit.
Tugas utama setiap individu adalah “melahirkan dirinya sendiri” secara terus-menerus.
Artinya, kita harus selalu memperbarui diri, membuang sifat-sifat buruk yang lama, dan lahir kembali sebagai pribadi yang baru dan lebih baik setiap harinya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







