Ragukan Segala Sesuatu Sejauh Engkau Mampu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Empat Aturan Berpikir dalam Epistemologi
Epistemologi ini berkaitan erat dengan apa yang dikenal sebagai empat aturan berpikir (four rules).
Rumus umumnya yang pertama adalah
- Jangan mempercayai apa pun sampai kebenarannya terbukti:
Inilah inti dari tindakan meragukan segala sesuatu. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, diperlukan pengujian dengan langkah-langkah sebagai berikut: - Analisis Masalah:
Langkah pertama adalah menganalisis setiap masalah dengan memilah semua bagian-bagiannya.
Sebagai contoh, saat melihat “teh”, kita memilah variabelnya: ada air tehnya, tempatnya, tutupnya, tatakannya, hingga hubungannya dengan subjek yang meminumnya. Dalam penulisan skripsi atau tesis, metode analisis berarti mengeluarkan semua variabel dan melacak hubungan di antaranya. - Identifikasi Kemungkinan:
Setelah variabel dipilah, kita harus melacak berbagai kemungkinan dari masalah tersebut.
Misalnya, jika ada seseorang mengirim pesan WhatsApp pada jam 12 malam, kita harus menganalisis variabelnya (siapa pengirimnya, seberapa jauh rumahnya) dan mengidentifikasi kemungkinannya: apakah dia sedang iseng, memiliki bonus kuota, atau alasan lain, lalu carilah yang paling masuk akal. - Penyelesaian Tahap demi Tahap:
Selesaikan variabel-variabel tersebut satu demi satu secara urut, mulai dari yang paling mudah sampai yang paling sukar.
Metode ini merupakan inspirasi bagi lahirnya metode ilmiah di dunia modern, di mana pengukuran berbagai kemungkinan nantinya akan menjadi hipotesis dalam penelitian.
Rasionalisme: Mengapa Akal Lebih Bisa Dipercaya?
Descartes memperkenalkan aliran rasionalisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan yang bisa dipercaya adalah pengetahuan yang bersumber dari rasio atau akal, bukan panca indra.
Meskipun realitas empiris (yang bisa dilihat, disentuh, dan didengar) itu nyata, pengetahuan empiris sering kali bersifat subjektif dan tidak pasti.
Beberapa alasan mengapa panca indra bisa menipu antara lain:
- Pengalaman Mimpi:
Saat bermimpi, segalanya terasa nyata, namun saat terbangun kita menyadari bahwa itu hanya ilusi. - Sensasi Fisik:
Rasa sakit atau ukuran besar-kecilnya sesuatu sangat bergantung pada durasi, intensitas, dan persepsi subjektif individu. - Koreksi Akal terhadap Indra:
Panca indra sering kali salah menangkap realitas. Contohnya, sebuah pensil yang dimasukkan ke dalam air akan terlihat patah oleh mata, namun akal kita meyakinkan bahwa pensil itu tetap lurus.
Begitu juga dengan gunung yang terlihat halus dari jauh atau bulan yang terlihat indah bagi penyair; akal memberi tahu kita bahwa gunung itu terjal dan bulan penuh dengan kawah.
Oleh karena itu, rasio lebih bisa disandari karena realitas panca indra sebenarnya dikonstruksi dan disimpulkan oleh pikiran.
Halus atau tidaknya suatu benda mungkin dirasakan oleh tangan, namun yang menyimpulkannya adalah akal.
Menjadi Pencari Kebenaran yang Sejati
Prinsip utama dalam berfilsafat adalah menggunakan akal untuk mengejar kebenaran.
Jika Anda ingin menjadi pencari kebenaran yang sejati, maka setidaknya sekali dalam seumur hidup, Anda harus meragukan segala sesuatu sejauh yang Anda mampu.
Jangan hanya sekadar ikut-ikutan atau menerima pendapat orang lain begitu saja.
Uji dan analisislah segala hal dalam hidupmu, karena kebenaran versi orang lain belum tentu cocok dengan kebenaran yang Anda temukan sendiri melalui proses berpikir yang mendalam.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







