Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Carilah Titik Sampai Akalmu Tidak Salah | Ngaji Filsafat

Carilah Titik Sampai Akalmu Tidak Salah | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Carilah Titik Sampai Akalmu Tidak Salah | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Kritik Terhadap Keterbatasan Akal

Pembahasan ini diawali dengan kritik terhadap akal. Meskipun Renรฉ Descartes menggunakan akal untuk mencari kepastian melalui prinsip “aku berpikir, maka aku ada,”
Henri Bergson justru melihat bahwa akal memiliki kelemahan. Akal bukanlah satu-satunya kemampuan manusia untuk mengenali realitas.
Sayangnya, pengaruh positivisme membuat kita sering menganggap bahwa pengetahuan yang valid hanyalah yang bersifat rasional (akal) dan empiris (panca indra). Padahal, manusia memiliki alat-alat lain seperti nurani, naluri, imajinasi, dan intuisi.

Jika hubungan sesama manusia hanya dijalankan menggunakan akal, maka relasi tersebut akan terasa “kering”.
Sebagai contoh, secara rasional, Anda tidak memiliki kewajiban untuk meminjami uang kepada teman yang kesulitan jika dia bukan keluarga Anda.
Namun, hati nurani akan membisikkan hal yang berbeda.
Begitu pula dalam hal kecil seperti berbagi kopi; secara akal, tidak ada yang salah jika Anda diam saja, tetapi nurani akan mendorong Anda untuk menawarkan kepada teman.
Tanpa memanfaatkan alat lain seperti nurani, interaksi manusia akan sering terjebak dalam konflik.

Karakteristik dan Kelemahan Akal

Bergson menjelaskan bahwa akal memiliki fungsi praktis dan teknis yang bersifat matematis.
Akal mampu memahami hal-hal teknisโ€”seperti mengetahui bahwa teh panas harus didinginkan sebelum diminumโ€”tetapi ia tidak bisa menyelami hakikat atau dimensi batin yang lebih dalam.

Akal membutuhkan data kuantitatif yang jelas untuk bekerja.
Ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak eksplisit, seperti makna di balik deheman seorang teman, akal cenderung menyederhanakannya secara material (misalnya menganggap tenggorokan gatal), padahal ada makna yang lebih dalam yang hanya bisa dipahami melalui kedalaman rasa.
Akal hanya sampai pada hal-hal material; ia tidak berdaya dalam menjelaskan dimensi batin, cinta, atau benci.
Seseorang bisa menghafal teori tentang cinta, tetapi ia tidak akan benar-benar memahami hakikatnya sampai ia sendiri mengalaminya.

Kekebalan Spiritual dan Jalan Pencerahan

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, saat sains dianggap sebagai puncak peradaban, pemikiran Bergson ini sangat luar biasa.
Ia mencatat bahwa ada orang-orang yang terlahir dengan “sistem kekebalan spiritual”.
Orang-orang ini menolak pandangan dunia ilusif yang dijejalkan oleh pengkondisian sosial sejak lahir.
Mereka merasa ada yang salah dengan realitas yang hanya mengandalkan materi dan mulai mencari jawaban melalui pengetahuan internal serta pengalaman spiritual.

Ciri-ciri orang yang menempuh jalan pencerahan ini adalah:

  • Mengikuti suara hati (intuisi) daripada mengikuti kerumunan.
  • Mengutamakan pengetahuan di atas kenyamanan ketidaktahuan, meskipun kebenaran tersebut terkadang menyakitkan.
  • Memiliki prinsip dan pendirian yang merupakan hasil pencarian mandiri.

Pentingnya Menjauh dari Kerumunan

Jalan pencerahan seringkali mengharuskan seseorang untuk menjauh sejenak dari kerumunan, sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar seperti Buddha atau Nabi Muhammad.
Menjauh diperlukan untuk mendapatkan objektivitas.

Filosofinya sederhana: jika wajah Anda menempel langsung pada tembok, Anda tidak akan bisa melihat warna tembok tersebut secara jelas.
Anda butuh jarak untuk bisa melihat apakah tembok itu berwarna hijau atau putih.
Begitu pula dalam kehidupan; jika kita terlalu terlibat dan larut dalam kerumunan, kita akan sulit untuk melihat realitas secara objektif.

Sebagai kesimpulan, di era yang sangat mendewakan akal dan panca indra (positivisme), Bergson menawarkan intuisi sebagai gagasan alternatif untuk memahami realitas secara lebih utuh.

Berikut adalah transkrip dari video tersebut yang telah disusun agar lebih rapi dan nyaman dibaca, tanpa mengurangi esensi pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Fahrudin Faiz:

Kritik Terhadap Keterbatasan Akal

Pembahasan ini diawali dengan kritik terhadap akal. Meskipun Renรฉ Descartes menggunakan akal untuk mencari kepastian melalui prinsip “aku berpikir, maka aku ada,”
Henri Bergson justru melihat bahwa akal memiliki kelemahan. Akal bukanlah satu-satunya kemampuan manusia untuk mengenali realitas. Sayangnya, pengaruh positivisme membuat kita sering menganggap bahwa pengetahuan yang valid hanyalah yang bersifat rasional (akal) dan empiris (panca indra). Padahal, manusia memiliki alat-alat lain seperti nurani, naluri, imajinasi, dan intuisi.

Jika hubungan sesama manusia hanya dijalankan menggunakan akal, maka relasi tersebut akan terasa “kering”. Sebagai contoh, secara rasional,
Anda tidak memiliki kewajiban untuk meminjami uang kepada teman yang kesulitan jika dia bukan keluarga Anda.
Namun, hati nurani akan membisikkan hal yang berbeda. Begitu pula dalam hal kecil seperti berbagi kopi; secara akal, tidak ada yang salah jika Anda diam saja, tetapi nurani akan mendorong Anda untuk menawarkan kepada teman.
Tanpa memanfaatkan alat lain seperti nurani, interaksi manusia akan sering terjebak dalam konflik.

Karakteristik dan Kelemahan Akal

Bergson menjelaskan bahwa akal memiliki fungsi praktis dan teknis yang bersifat matematis.
Akal mampu memahami hal-hal teknisโ€”seperti mengetahui bahwa teh panas harus didinginkan sebelum diminumโ€”tetapi ia tidak bisa menyelami hakikat atau dimensi batin yang lebih dalam.

Akal membutuhkan data kuantitatif yang jelas untuk bekerja.
Ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak eksplisit, seperti makna di balik deheman seorang teman, akal cenderung menyederhanakannya secara material (misalnya menganggap tenggorokan gatal), padahal ada makna yang lebih dalam yang hanya bisa dipahami melalui kedalaman rasa.
Akal hanya sampai pada hal-hal material; ia tidak berdaya dalam menjelaskan dimensi batin, cinta, atau benci.
Seseorang bisa menghafal teori tentang cinta, tetapi ia tidak akan benar-benar memahami hakikatnya sampai ia sendiri mengalaminya.

Kekebalan Spiritual dan Jalan Pencerahan

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, saat sains dianggap sebagai puncak peradaban, pemikiran Bergson ini sangat luar biasa.
Ia mencatat bahwa ada orang-orang yang terlahir dengan “sistem kekebalan spiritual”.
Orang-orang ini menolak pandangan dunia ilusif yang dijejalkan oleh pengkondisian sosial sejak lahir.
Mereka merasa ada yang salah dengan realitas yang hanya mengandalkan materi dan mulai mencari jawaban melalui pengetahuan internal serta pengalaman spiritual.

Ciri-ciri orang yang menempuh jalan pencerahan ini adalah:

  • Mengikuti suara hati (intuisi) daripada mengikuti kerumunan.
  • Mengutamakan pengetahuan di atas kenyamanan ketidaktahuan, meskipun kebenaran tersebut terkadang menyakitkan.
  • Memiliki prinsip dan pendirian yang merupakan hasil pencarian mandiri.

Pentingnya Menjauh dari Kerumunan

Jalan pencerahan seringkali mengharuskan seseorang untuk menjauh sejenak dari kerumunan, sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar seperti Buddha atau Nabi Muhammad. Menjauh diperlukan untuk mendapatkan objektivitas.

Filosofinya sederhana: jika wajah Anda menempel langsung pada tembok, Anda tidak akan bisa melihat warna tembok tersebut secara jelas.
Anda butuh jarak untuk bisa melihat apakah tembok itu berwarna hijau atau putih.
Begitu pula dalam kehidupan; jika kita terlalu terlibat dan larut dalam kerumunan, kita akan sulit untuk melihat realitas secara objektif.

Sebagai kesimpulan, di era yang sangat mendewakan akal dan panca indra (positivisme), Bergson menawarkan intuisi sebagai gagasan alternatif untuk memahami realitas secara lebih utuh.

Pencerahan Intuisi Henri Bergson

 

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us